Filsafat Perenialisme


Capture

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar belakang

Filsafat/filosofi berasal dari kata Yunani yaitu philos (suka) dan sophia (kebijaksanaan), yang diturunkan dari kata kerja filosoftein, yang berarti : mencintai kebijaksanaan. seorang philosoph adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup ikut menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.

Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.

Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.

Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.

Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat perbedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakangnpribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.

Ajaran filsafat yang berbada-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran (sistem) suatu filsafat. Tetapi karena cara dan dasar yang dijadikan criteria dalam menetapkan klasifikasi tersebut berbeda-beda, maka klasifikasi tersebut berbeda-beda pula. Salah satu aliran dalam filsafat adalah perenialisme. Apa itu aliran perenialisme, apa saja yang menjadi pokok bahasan dari aliran ini merupakan kajian yang akan dibahas dalam makalah ini.

1.2.    Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas maka rumusan masalah yang diajukan pada makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pengertian dan sejarah perenialisme?
  2. Bagaimana landasan filosofis perenialisme?
  3. Bagaimana pendidikan menurut perenialisme?

1.3    Manfaat Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah diatas maka manfaat yang dapat diambil dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:

  1. Untuk mengetahui pengertian dan sejarah perenialisme
  2. Untuk mengetahui landasan filosofis perenialisme
  3. Untuk mengetahui pendidikan menurut perenialisme

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

 

  • Perenialisme dalam Pengertian dan Sejarah

Perenialisme dengan kata dasar perenial, yang berarti continuing throughout the whole year atau lasting for a very long time, yakni abadi atau kekal yang terus dan tanpa akhir. Dalam pengertiannya yang lebih umum dapat dikatakan bahwa tradisi dipandang juga sebagai prinsip-prinsip yang abadi yang terus mengalir sepanjang sejarah manusia dan memang merupakan hakikat insaniah manusia. Karena esensi aliran ini berupaya menerapkan nilai-nilai atau norma-norma yang bersifat kekal dan abadi yang selalu seperti itu sepanjang sejarah manusia, maka perenialisme dianggap sebagai suatu aliran yang ingin kembali atau mundur kepada nilai-nilai kebudayaan masa lampau. Kembali kepada masa lampau dalam konteks aliran ini, bukanlah dalam pengertian bernostalgia atau sekedar mengingat-ingat kembali pola kehidupan masa lalu, tetapi untuk membina kembali keyakinan akan nilai-nilai asasi masa silam untuk menghadapi problematika kehidupan manusia saat sekarang dan bahkan sampai kapanpun dan dimanapun.

Perenialisme merupakan suatu aliran dalam pendidikan yang lahir pada abad kedua puluh. Perenialisme lahir sebagai suatu reaksi terhadap pendidikan progresif. Perenialisme menentang pandangan progresivisme yang menekankan perubahan dan sesuatu yang baru. Perenialisme memandang situasi dunia dewasa ini penuh kekacauan, ketidakpastian, dan ketidakteraturan, terutama dalam kehidupan moral, intelektual, dan sosio-kultural. Oleh karena itu, perlu ada usaha untuk mengamankan ketidakberesan tersebut[1].

Jalan yang ditempuh oleh kaum perenialis, adalah dengan jalan mundur ke belakang, dengan menggunakan kembali nilai-nilai atau prinsip-prinsip umum yang telah menjadi pandangan hidup yang kukuh, kuat pada zaman kuno dan abad pertengahan. Peradaban kuno (Yunani Purba) dan abad pertengahan dianggap sebagai dasar budaya bangsa-bangsa di dunia dari masa ke masa, dari abad ke abad. Perenialisme melihat bahwa tradisi perkembangan intelektual yang ada pada zaman Yunani Kuno dan abad pertengahan yang telah terbukti dapat memberikan solusi bagi berbagai problem kehidupan masyarakat perlu digunakan dan diterapkan dalam menghadapi alam modern yang sarat dengan problem kehidupan.

Pandangan–pandangan yang telah menjadi dasar budaya manusia tersebut, telah teruji kemampuan dan kekukuhannya oleh sejarah. Pandangan-pandangan Plato dan Aristoteles mewakili peradaban Yunani Kuno, serta ajaran Thomas Aquina dari abad pertengahan. Kaum perenialis percaya bahwa ajaran-ajaran dari tokoh-tokoh tersebut memiliki kualitas yang dapat dijadikan tuntunan hidup dan kehidupan manusia pada abad kedua puluh ini. Dalam pendidikan kaum perenialis berpandangan bahwa dalam dunia yang tidak menentu dan penuh kekacauan serta membahayakan, seperti kita rasakan dewasa ini, tidak ada satupun yang lebih bermanfaat daripada kepastian tujuan pendidikan, serta kestabilan dalam perilaku pendidik.

Muhammad Noor Syam dalam Uyoh Sadulloh mengemukakan pandangan perenialisme, bahwa pendidikan harus lebih banyak mengarahkan pusat perhatiannya pada kebudayaan ideal yang telah teruji dan tangguh. Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal. Perenialisme tidak melihat jalan yang meyakinkan, selain kembali pada prinsip-prinsip yang telah sedemikian rupa membentuk sikap kebiasaan, bahwa kepribadian manusia yaitu kebudayaan dahulu (Yunani Kuno) dan kebudayaan abad pertengahan.

Kondisi dunia modern yang sangat mengandalkan rasionalitas empiris positivistis yang memandang kebenaran dalam konteksnya yang serba terukur, teramati dan teruji secara inferensial dan yang melihat realitas sebagai sesuatu yang serba materi, telah pula memunculkan berbagai problem kemanusiaan, seperti munculnya sikap ambivalensi yang mencekam dan akan mendatangkan kebingungan, kebimbangan, kekakuan, kecemasan, ketakutan dalam bertingkah laku, sehingga manusia hidup dalam ketidakmenentuan dan cenderung kehilangan arah dan jati dirinya. Pengabaian berpikir logis dalam hal ini telah pula memunculkan ketidakmampuan manusia melihat pengetahuan yang sebenarnya. Hal ini mengingat corak kehidupan yang serba rasional bertujuan dengan landasan empiris-positivistis yang melihat realitas dunia dengan serba objektif di mana kebenaran ilmu berangkat dari fakta-fakta yang terverifikasi dan terukur secara ketat, telah pula menjadikan ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai orientasi kehidupan.

Kondisi dunia yang terganggu oleh budaya yang tak menentu, yang berada dalam kebingungan dan kekacauan seperti diungkap di atas, memerlukan usaha serius untuk menyelamatkan manusia dari kondisi yang mencekam dengan mencari dan menemukan orientasi dan tujuan yang jelas, dan ini adalah tugas utama filsafat pendidikan. Perenialis dalam hal ini mengambil jalan regresif dengan mengembalikan arahnya seperti yang menjadi prinsip dasar perilaku yang dianut pada masa kuno dan abad pertengahan.

Menurut Sayed Husein Nasr, istilah filsafat perenial pertama kali digunakan oleh Augustinus (1497-1548) dalam sebuah karyanya yang berjudul De Perennia Philosophia yang diterbitkan pada tahu 1540 M. istilah menjadi lebih populer di tangan Leibniz yang digunakan dalam suratnya kepada temannya Remundo yang ditulisnya pada tahun 1715 M. Perenialisme dalam konteks pendidikan ditokohi oleh Robert Maynard Hutchins, Mortimer J. Adler, dan Sir Richard Livingstone. Prinsip mendasar perenialis kemudian dikembangkan oleh Sayyed Husen Nasr, seorang filsuf Islam kontemporer, yang mengatakan bahwa manusia memiliki fitrah yang sama yang berpangkal pada asal kejadiannya yang fitri yang memiliki konsekuensi logis pada watak kesucian dan ekebaikan. Sifatnya tidak berubah karena prinsip-prinsipnya mengandung kontinuitas dalam setia pruang dan waktu. Menurutnya, tradisi yang mengisyaratkan kebenaran yang fitri bersifat langgeng, tetap, abadi dan berkesinambungan, sifatnya tidak akan lenyap bersamaan dengan lenyapnya waktu. Perenialsime dalam kotneks Sayyed Husein Nasr terlihat hendak mengembalikan kesadaran manusia akan hakikatnya yang fitri yang akan membuatnya berawatak kesucian dan kebaikan. Dalam perkembangan sejarahnya, perenialisme berkembang dalam dua sayap yang berbeda, yaitu golongan teologis yang ingin menegakkan supremasi ajaran agama, dan dari kelompok yang sekuler yang berpegang teguh dengan ajaran filsafat Plato dan Aristoteles[2].

2.2   Landasan Filosofis Perenialisme

Sebagaimana pada perkembangan pemikiran filsafat umumnya, dasar pemikiran filsafat perenialisme ini pun terlihat dari keyakinan ontologis mereka tentang manusia dan alam. Bagi mereka sistem gerak perkembangan manusia memiliki hukum natural yang bersifat tetap dan teratur menurut hukum-hukumnya yang jelas dan terarah.

Aliran ini memandang manusia sebagai makhluk rasional yang akan selalu sama bagi setiap manusia di manapun dan sampai kapanpun dalam pengembangan historisitasnya. Keyakinan ontologis demikian, membawa mereka pada suatu pemikiran, bahwa kemajuan dan keharmonisan yang dialami oleh manusia di suatu masa akan dapat pula diterapkan pada manusia-manusia lain pada masa dan tempat yang berbeda, sehingga kesuksesan masa lalu dapat pula diterapkan untuk memecahkan problem masa sekarang dan akan datang bahkan sampai kapanpun dan dimanapun.

Perenialisme bukan merupakan suatu aliran baru dalam filsafat, dalam arti perenialisme bukanlah merupakan suatu bangunan pengetahuan yang menyusun filsafat baru, yang berbeda dengan filsafat yang telah ada. Teori atau konsep pendidikan perenialisme dilatarbelakangi oleh filsafat-filsafat Plato sebagai Bapak Idealisme Klasik, filsafat Aristoteles sebagai Bapak Realisme Klasik, dan filsafat Thomas Aquina yang mencoba memadukan antara filsafat Aristoteles dengan ajran filsafat Gereja Katolik yang tumbuh pada zamannya (abad pertengahan).

Plato

Plato (427-347 SM), hidup pada zaman kebudayaan yang sarat dengan ketidakpastian, yaitu filsafat sofisme. Ukuran kebenaran dan ukuran moral menurut sofisme adalah manusia secara pribadi, sehingga pada zaman itu tidak ada kepastian dalam moral, tidak ada kepastian dalam kebenaran, tergantung pada masing-masing individu. Bahaya perang dan kejahatan mengancam bangsa Athena. Siapa yang bisa memperoleh kebenaran secara retorik, dialah yang benar. Plato ingin membangun dan membina tata kehidupan dunia yang ideal, di atas tata kebudayaan yang tertib dan sejahtera, membina cara yang menuju kebaikan.

Plato memandang bahwa realitas yang hakiki itu tetap tidak berubah. Realitas atau kenyataan-kenyataan itu telah ada pada diri manusia sejak dari asalnya, yang berasal dari realitas yang hakiki. Menurut Plato, dunia idea bersumber dari ide mutlak, yaitu Tuhan. Kebenaran pengetahuan, dan nilai sudah ada sebelum manusia lahir yang semuanya bersumber dari ide yang mutlak tadi. Manusia tidak mengusahakan dalam arti menciptakan kebenaran, pengetahuan, dan nilai moral, melainkan bagaimana manusia menemukan semuanya itu. Dengan menggunakan akal atau rasio, semuanya itu dapat ditemukan kembali oleh manusia.

Kebenaran itu ada, yaitu kebenaran yang bulat dan utuh. Manusia dapat memperoleh kebenaran tersebut dengan jalan berpikir, bukan dengan pengamatan indera, karena dengan berpikir itulah manusia dapat mengetahui hakikat kebenaran dan pengetahuan. Dengan indera, manusia hanya sampai pada memperkirakan. Manusia hendaknya memikirkan, menyelidiki dan mempelajari dirinya sendiri dan keseluruhan alam semesta.

Esensi realitas, pengetahuan, dan nilai merupakan manifestasi dari hukum universal yang abadi dan sempurna, yaitu ide mutlak yang supernatural. Ketertiban sosial hanya akan mungkin apabila ide tersebut dijadikan standar, atau dijadikan asas normatif dalam segala aspek kehidupan. Tujuan utama pendidikan adalah membina pemimpin yang sadar akan asas normatif tersebut dan melaksanakannya dalam semua aspek kehidupan.

Masyarakat yang ideal adalah masyarakat adil sejahtera. Mansyarakat ini lahir apabila setiap warga negara melaksanakan fungsi sosialnya sesuai dengan tingkat kedudukan dan kemampuan pribadinya. Manusia yang terbaik adalah manusia yang hidup atas dasar prinsip idea mutlka. Ide mutlak inilah yang membimbing manusia untuk menemukan kriteria moral, politik, dan sosial serta keadilan. Ide mutlak adalah suatu prinsip mutlak yang menjadi sumber realtias semesta dan hakikat kebenaran abadi yang transendental. Ide mutlak adalah pencipta alam semesta, yaitu Tuhan.

Menurut pendapat Plato, manusia pada hakikatnya memiliki tiga potensi dasar, yaitu nafsu, kemauan, dan pikiran. Ketiga potensi ini merupakan asas bagi bangunan kepribadian dan watak manusia. Ketiga potensi ini akan tumbuh dan berkembang melalui pendidikan, seingga ketiganya berjalan secara berimbang dan harmonis. Manusia yang memiliki potensi rasio yang besar akan menjadi pemimpin, kelas sosial yang tinggi. Manusia yang besar potensi kemauannya, akan menjadi manusia-manusia prajurit, kelas menengah. Sedangkan manusia yang besar potensi nafsunya akan menjadi manusia-manusia pekerja, kelas rakyat jelata. Pendidikan dalam hal ini hendaklah berorientasi pada potensi psikologis dan masyarakat, sehingga dapat mewujudkan pemenuhan kelas-kelas sosial dalam masyarakat tersebut

Aristoteles

Aristoteles (384-322 SM), adalah murid Plato, namun dalam pemikirannya ia merekasi terhadap filsafat gurunya, yaitu idealisme. Hasil pemikirannya disebut filsafat realisme. Cara berpikir Aristoteles berbeda dengan gurunya, Plato, yang menekankan berpikir rasional spekulatif. Aristoteles mengambil cara berpikir rasional empiris realistis. Ia mengajarkan cara berpikir atas prinsip realistis, yang lebih dekat pada alam kehidupan manusia sehari-hari.

Karya Aristoteles merupakan dasar berpikir abad pertengahan yang melahirkan renaissance. Sikap positifnya terhadap inkuiri menyebabkan ia mendapat sebutan sebagai bapak sains modern. Kebajikan akan menghasilkan kebahagiaan dan kebaikan, bukanlah pernyataan pemikiran atau perenungan pasif, melainkan merupakan sikap kemauan yang baik dari manusia. Menurut Aristoteles, manusia adalah makhluk materi dan rohani sekaligus. Sebagai materi, ia menyadari bahwa manusia dalam hidupnya berada dalam kondisi alam materi dan sosial. Sebagai makhluk rohani manusia sadar ia akan menuju pada proses yang lebih tinggi yang menuju kepada manusia ideal, manusia sempurna. Manusia memiliki kesadaran intelektual dan spiritual, ia hidup dalam alam materi sehingga akan menuju pada derajat yang lebih tinggi, yaitu kehidupan yang abadi, alam supernatural.

Aristoteles mengatakan bahwa kebahagiaan hidup sebagai tujuan pendidikan itu sendiri dapat terealisasi jika ketiga kompoen potensi dasarnya terdidik dan berkembang secara seimbang. Harmonisasi fungsionalitas tiga potensi dasar manusia dalam aktivitasnya merupakan kunsi bagi pengembangan kualitas humanitas mansia dalam kehidupannya. Oleh karena itu, pengisian pendidikan dalam ketiga aspek ini merupakan suatu keniscayaan. Pendidik bertugas memberikan bantan kepada subjek-subjek didiknya untuk mewujudkan potensi-potensi yang ada padanya agar menjadi aktif, nyata dan aktual, melalui latihan berpikir secara baik dan benar. Pendeknya pembinaan dan latihan berpikir merupakan teori dasar dalam pembelajarannya, sehingga dengan demikian mental discipline merupakan karakteristik pokok dalam teori belajar aliran perenialisme ini.

Aliran ini berkeyakinan, bahwa kendatipun dalam lingkungan dan tempat yang berda-beda, hakikat manusia tetap menunjukka kesamaannya. Oleh karena itu, pola dan corak pendidikan yang sama dapat diterapkan kepada siapapun dan dimanapun ia berada. Menurutnya, setiap manusia memiliki fungsi kemanusiaan yang sama, karena memang terlahir dari hakikat yang sama sebagai makhluk rasional. Aliran ini berpendapat bahwa rasionalitas adalah hukum pertama yang akan tetap benar di segala zaman dan tempat. Dengan prinsip rasionalitas ini pula perenialisme berhadapan dengan persoalan adanya prinsip kesadaran dan kebebasan dalam gerak kehidupan manusia.

Kesadaran dan kebebasan adalah bukti nyata bagi fungsionalitas rasio manusia, sebab kekuatan bertindak bebas tergantung pada kekuatan berpikir, sehingga otoritas berpikir adalah satu-satunya sumber kemerdekaan. Tugas pendidikan disini adalah bagaimana menjadikan dan memajukan manusia-manusia yang ada di suatu masyarakat sehingga ia menjadi manusia utuh, yaitu manusia yang memiliki kekuatan berpikir. Pendeknya, hakikat pendidikan adalah upaya memanusiakan manusia sebagai manusia yang memiliki kekuatan dalam berpikir.

Thomas Aquina

Thomas Aquina mencoba mempertemukan suatu pertentangan yang muncul pada waktu itu, yaitu antara ajaran Kristen dengan filsafat. Menurut Aquina, tidak terdapat pertentangan antara filsafat dengan ajaran agama. Keduanya dapat berjalan dalam lapangannya masing-masing. Thomas Aquina secara terus terang dan tanpa ragu-ragu mendasarkan filsafatnya kepada filsafat Aristoteles.

Dalam masalah pengetahuan, Thomas Aquina mengemukakan bahwa pengetahuan itu diperoleh sebagai persentuhan dunia luar oleh akal budi, menjadi pengetahuan. Selain pengetahuan manusia yang bersumber dari wahyu, manusia dapat memperoleh pengetahuan melalui pengalaman dan rasionya, disinilah ia mempertemukan pandangan filsafat idealisme, realisme dan ajaran gereja.

Mortimer J. Adler

Mortimer J. Adler sebagai salah seorang pendukung perenialisme ini mengatakan, bahwa jika seorang manusia adalah makhluk rasional yang merupakan hakikat yang senantiasa seperti itu di sepanjang sejarahnya, maka tentulah manusia memiliki gambaran yang tetap pula dalam hal program pendidikan dengan tidak mengikutkan peradaban masa tertentu. Sayyed Husein Nasr menyebutkan bahwa karakteristik khusus manusia tidak lain adalah rasionalitas. Rasionalitas ini merupakan sifat manusia yang hakiki. Dengan prinsip dasar ini pulahal, maka aliran ini berpendapat bahwa sesungguhnya ilmu pengetahuan sebagai produk dan prestasi manusia dimanapun dan kapanpu akan selalu sama, karena memang bersumber dari hakikat yang sama.

Dalam hal ini Mortimer J Adler mengungkapkan, bahwa manusia adalah makhluk rasional yang memiliki kemampuan intelektual yang tampak dalam kapasitasnya sebagai subjek yang aktif dan dapat melakukan tindakan-tindakan seni, membaca dan mendengar, menulis dan berbicara serta berpikir. Kecuali itu, mengingat manusia adalah juga makluk sosial, maka kehidupan intelektualnya juga hidup di tengah-tengah komunitas yang akan menjadi eksis melalui komunikasi.

2.3 Pendidikan

Perenialisme memandang kebenaran sebagai hal yang konstan, abadi atau perennial. Tujuan dari pendidikan, menurut pemikiran perenialis, adalah memastikan bahwa para siswa memperoleh pengetahuan tentang prinsip-prinsip atau gagasan-gagasan besar yang tidak berubah. Kaum perenialis juga percaya bahwa dunia alamiah dan hakekat manusia pada dasarnya tetap tidak berubah, selama berabad-abad. Jadi, gagasan-gagasan besar terus memiliki potensi yang paling besar untuk memecahkan permasalahan-permasalahan di setiap zaman. Lebih jauh lagi, filsafat perennialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia. Filsafat itu merupakan pengolahan intelektual yang membuat manusia menjadi benar-benar manusia dan membedakan mereka dari binatang-binatang lain.

Kurikulum menurut kaum perennialis harus menekankan pertumbuhan intelektual siswa pada seni dan sains. Untuk menjadi terpelajar secara kultural para siswa harus berhadapan dengan bidang-bidang ini (seni dan sains) yang merupakan karya terbaik dan paling signifikan yang diciptakan oleh manusia. Berkenaan dengan bidang kurikulum, hanya satu pertanyaan yang harus diajukan: Apakah para siswa memperoleh muatan yang merepresentasikan usaha-usaha yang paling tinggi di bidang itu? Jadi, seorang guru Bahasa Inggris SMA dapat mengharuskan para siswanya untuk membaca Moby Dick-nya Melville atau sebagian dari drama Shakespeare bukannya sebuah novel dalam daftar terlaris saat ini. Sama halnya dengan para siswa IPA akan mempelajari mengenai tiga hukum gerakan atau tiga hukum termodinamika bukannya membangun suatu model penerbangan ulang alik angkasa luar.

Dua dari pendukung filsafat perenialis adalah Robert Maynard Hutchins, dan Mortimer Adler. Sebagai Rektor The University of Chicago. Hutchin (1963) mengembangkan suatu kurikulum mahasiswa S1 berdasarkan penelitian terhadap Buku Besar bersejarah (Great Books) dan pembahasan buku-buku klasik. Kegiatan ini dilakukan dalam seminar-seminar kecil. Kurikulum perenialis Hutchins di dasarkan pada tiga asumsi mengenai pendidikan:

  1. Pendidikan harus mengangkat pencarian kebenaran manusia yang berlangsung terus menerus. Kebenaran apapun akan selalu benar dimanapun juga, pendek kata, kebenaran bersifat universal dan tak terikat waktu.
  2. Karena kerja pikiran adalah bersifat intelektual dan memfokuskan pada gagasan-gagasan. Pengolahan rasionalitas manusia adalah fungsi penting pendidikan.
  3. Pendidikan harus menstimulasi para mahasiswa untuk berpikir secara mendalam mengenai gagasan-gagasan signifikan. Para guru harus menggunakan pemikiran yang benar dan kritis seperti metoda pokok mereka, dan mereka harus mensyaratkan hal yang sama pada siswa.

Mortiner Adler, bersama-sama Hutchin, melakukan studi terhadap lebih dari 100 buku-buku klasik yang bersifat abadi, dari Plato sampai Enstein. Dengan pendekatan Buku Besar itu dimaksudkan agar para siswa merdeka dan menjadi pemikir yang kritis. Ini merupakan suatu kurikulum yang diperlukan, dan kurikulum ini memfokuskan pada disiplin-disiplin pengetahuan yang abadi bukannya pada peristiwa-peristiwa atau minat-minat siswa saat ini.

Beberapa prinsip pendidikan perenialisme secara umum, yaitu:

  1. Walalupun perbedaan lingkungan, namun pada hakikatnya manusia di manapun dan kapan pun ia berada adalah sama. Robert M Hutckin sebagai pelopor perenialisme di Amerika Serikat, mengemukakan bahwa manusia pada hakikatnya adalah hewan rasional. Tujuan pendidikan adalah sama dengan tujuan hidup yaitu untuk mencapai kebijakan dan kebajikan. Pendidikan harus sama bagi semua orang, dimanapun dan kapan pun ia berada, begitu pula tujuan pendidikan harus sama, yaitu memperbaiki manusia sebagai manusia. Hal di atas dikemukakan oleh Hutckin sebagai berikut : “Man may vary from society to society, but the function of man, is the same in every age and every society, since it result from his nature as a man. The aims of educational system can exist: it is to improve man as man” (Kneller 1971 dalam Uyoh Sadulloh)
  2. Rasio merupakan atribut manusia yang paling tinggi. Manusia harus menggunakannya untuk mengarahkan sifat bawaannya, sesuai dengan tujuan yang ditentukan. Manusia adalah bebas, namun mereka harus belajar, untuk memperhalus pikiran dan mengontrol seleranya. Apabila anak gagal dalam belajar, guru tidak boleh dengan cepat meletakkan kesalahan pada lingkungan yang tidak menyenangkan, atau pada rangkaian peristiwa psikologis yang tidak menguntungkan. Guru harus mampu mengatasi semua gangguan tersebut, dengan melakukan pendekatan secara intelektual yang sama bagi semua siswa. Tidak ada anak yang diizinkan untuk menentukan pengalaman pendidikannya yang ia inginkan.
  3. Tugas pendidikan adalah memberikan pengetahuan tentang kebenaran yang pasti, dan abadi. Kurikulum diorganisasi dan ditentukan terlebih dahulu oleh orang dewasa, dan ditujukan untuk melatih aktivitas akal, untuk mengembangkan akal. Anak harus diberipelajaran yang pastik yang akan memperkenalkannya dengna keabadian dunia. Anak tidak boleh dipaksa untuk mempelajari pelajaran yang tampaknya penting suatu saat saja. Begitu pula kepada anak jangatn diberikan pelajaran yang hanya menarik pada saat-saat tertentu yang khusus yang dipentingkan dalam kurikulum adalah mata pelajaran “general educatioan”, yang meliputi bahasa, sejarah, matematika, IPA, filsafat dan seni dan membaca, menulis, berhitung). Mata-mata pelajaran tersebut merupakan esensi dari general education.
  4. Pendidikan bukan merupakan peniruan dari hidup, melainkan merupakan suatu persiapan untuk hidup. Sekolah tidak pernah menjadi situasi kehidupan yang nyata. Sekolah bagi anak merupakan peraturan-peraturan yang artifisial di mana ia berkenalan dengan hasil yang terbaik dari warisan sosial budaya.
  5. Siswa seharusnya mepelajari karya-karya besar dalam literatur yang menyangkut sejarah, filsafat, seni, begitu juga dalam literatur yang berhubungan dengan kehidupan sosial, terutama politik dan ekonomi. Dalam literatur-literatur tersebut manusia sepanjang masa telah melahirkan hasil yang maha besar[3].

Hutchin menyusun kurikulum untuk sekolah menengah dan universitas berpusat pada buku-buku besar seperti di atas. Keuntungan dari mempelajari buku-buku klasik yang besar tersebut adalah siswa belajar apa yang telah terjadi apda masa lampau, dan apa yang telah dipikirkan oleh orang-orang besar atau pemikir-pemikir terdahulu. Siswa belajar berpikir untuk dirinya, karena dengna berkmampuan berpikir siswa akan memiliki pedoman untuk mampu menghiasi segala masalah kehidupan yang ia hadapi. Segala masalah dapat dipecahkan dengan menggunakan prinsip-prinsip dan kebajikan-kebajikan yang tleah dimiliki manusia, serta dengan menggunakan pikiran yang telah didisiplinkan untuk berpikir.

 

2.4 Potret guru Pernialis

Ny. B erstein mengajar Bahasa Inggris di SMA sejah pertengahan tahun 1960-an. Diantara para siswa dan juga para guru, ia memiliki suatu reputasi sebagai orang yang banyak menuntut. Selama pertengahan 1970-an, ia memiliki waktu yang sulit untuk berhubungan dengan siswa yang secara agresif menuntut diajar pelajaran-pelajaran yang relevan. Sebagai seorang lulusan universitas top di Timur Amerika dimana ia meneria suatu pendidikan klasi dan liberal, Nynya Berstein menolak untuk mempelonggar penekanan pada karya-karya besar kesusastraan di kelasnya yang ia rasa perlu diketahui oleh para siswanya, seperti Beowulf, Chaucer, Dickens, dan Sakespeare.

Ny. Berstein yakin bahwa kerja dan usaha keras itu penting jika seseorang ingin meperoleh pendidikan yang baik. Akibatnya, ia memberi siswa kesempatan yang sangat sedikit untuk berbuat atau bertindak salah, dan ia tampak tahan dengan keluhan siswa yang dilakukan secara terbuka mengenai beban belajarnya. Ia sangat bersemangat ketika ia berbicara mengenai nilai karya klasik pada para siswayang sedang bersiap-siap hidup sebagai orang dewasa di abad dua puluh satu[4].


 

BAB III

PEMBAHASAN

 

3.1 Kritik Terhadap Filsafat Perennialisme

Perenialisme memandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) ini terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, dimana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan.

Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal. Perenialisme tidak melihat jalan yang menyakinkan selain, kembali pada prinsipprinsip yang telah sedemikian rupa membentuk suatu sikap kebiasaan, bahwa kepribadian manusia yaitu kebudayaan dahulu (Yunani Kuno).

Perenialisme berakar pada tradisi filosofis klasik yang dikembangkan oleh plato, Aristoteles dan Santo Thomas Aquines. Sasaran pendidikan ialah kemampuan menguasai prinsip kenyataan, kebenaran dan nilai-nilai abadi dalam arti tak terikat oleh ruang dan waktu. Nilai bersifat tak berubah dan universal. Bersifat regresif (mundur) dengan memulihkan kekacauan saat ini melalui nilai zaman pertengahan (renaissance). Perenialisme memandang pendidikan adalah sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal dimaksud, “education as cultural regression.”

Pandangan perenialisme mengenai hakikat murid – makhluk yang dibimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis. Pandangan perenialisme mengenai pendidikan – pendidikan adalah persiapan bagi kehidupan di masyarakat.

Aliran perenialisme adalah merupakan aliran dalam filsafat pendidikan yang memandang bahwa kepercayaan aksiomatis zaman kuno dan abad pertengahan perlu dijadikan dasar pendidikan sekarang. Pandangan aliran ini tentang pendidikan adalah “belajar untuk berpikir”. Oleh sebab itu, peserta didik harus dibiasakan untuk berlatih berpikir sejak dini. Perenialisme juga memiliki formula mengenai jenjang pendidikan beserta kurikulum, yaitu pendidikan dasar dan (sekolah) menengah, pendidikan tinggi dan adult education.

Dari penjelasan di atas bila kita berikan kritikan tentang teori perenialisme sebagai berikut :

  1. Pandangan perenialisme menganggap kebudayaan dulu (terutama pendidikan) lebih baik bila dibandingkan dengan sekarang, Karena perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan. Kenyataan yang sekarang setiap hari dalam dunia pendidikan terus berkembang kearah lebih baik dan maju.
  2. Sasaran pendidikan ialah kemampuan menguasai prinsip kenyataan, kebenaran dan nilai-nilai abadi dalam arti tak terikat oleh ruang dan waktu. Nilai bersifat tak berubah dan universal. Sementara saat ini sasaran pendidikan adalah membentuk manusia yang mampu mengembangkan dirinya secara maksimal.
  3. Perenialisme memandang pendidikan adalah sebagai jalan kembali, atau proses mengembalikan keadaan manusia sekarang seperti dalam kebudayaan ideal dimaksud, “education as cultural regression.” Sementara saat ini perkembangan kebudayaan sudah sangat pesat sehingga sebagian sebagian nilai-nilai budaya lama hampir hilang.
  4. Pandangan aliran ini tentang pendidikan adalah “belajar untuk berpikir”. Oleh sebab itu, peserta didik harus dibiasakan untuk berlatih berpikir sejak dini.Kurikulum 13 membentuk anak untuk berpikir kritis, kreatif, inovatif dan dapat mengambil kesimpulan yang tepat.

 

 


 

BAB IV

PENUTUP

 

  • Kesimpulan

Dari makalah ini dapat disimpulkan bahwa perenialisme memandang pendidikan itu sebagai jalan kembali yaitu sebagai suatu proses mengembalikan kebudayaan sekarang (zaman modern) ini terutama pendidikan zaman sekarang ini perlu dikembalikan kemasa lampau. Perenialisme merupakan aliran filsafat yang susunannya mempunyai kesatuan, dimana susunannya itu merupakan hasil pikiran yang memberikan kemungkinan bagi seseorang untuk bersikap yang tegas dan lurus. Karena itulah perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah tujuan yang jelas merupakan tugas yang utama dari filsafat khususnya filsafat pendidikan.

Pandangan perenialisme mengenai hakikat murid – makhluk yang dibimbing oleh prinsip-prinsip pertama, kebenaran-kebenaran abadi, pikiran mengangkat dunia biologis. Pandangan perenialisme mengenai pendidikan – pendidikan adalah persiapan bagi kehidupan di masyarakat.

Aliran ini memandang manusia sebagai makhluk rasional yang akan selalu sama bagi setiap manusia di manapun dan sampai kapanpun dalam pengembangan historisitasnya. Keyakinan ontologis demikian, membawa mereka pada suatu pemikiran, bahwa kemajuan dan keharmonisan yang dialami oleh manusia di suatu masa akan dapat pula diterapkan pada manusia-manusia lain pada masa dan tempat yang berbeda, sehingga kesuksesan masa lalu dapat pula diterapkan untuk memecahkan problem masa sekarang dan akan datang bahkan sampai kapanpun dan dimanapun.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Alisyahbana, S. Takdir, 1967, Pembimbing ke Filsafat Metafisika, Jakarta: Dian Rakyat

Bakry, Hasbullah, 1971, Sistematik Filsafat, Jakarta : Widjaja

Brubacher, John S. 1950, Modern Philoshopies of Education. McGraw-Hill Book Company Inc

Peursen, C. A. Van, 1980, Orientasi di Aliran Filsafat, Diterjemahkan oleh Dick Hartono, Jakarta: Gramedia

Sadulloh, Uyoh, 2003, Pengantar Filsafat Pendidikan, Bandung: Alvabeta, CV

Tafsir, Ahmad, 2007, Filsafat Umum Akal dan Hati sejak Thales sampai Capra, Bandung: PT Remaja Rosdakarya

 

[1] Uyoh Sadulloh, Pengantar Filsafat Pendidikan, (Bandung: Alfabeta, 2007) hlm 151

[2] Muhmidayeli, Filsafat Pendidikan (Bandung: Refika Aditama, 2013) hlm 160.

[3] Ibid. hlm 156-157.

[4] Ibid, hlm 158

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s