Pendidikan Menurut Idealisme


Capture3PENDIDIKAN

Budaya moral harus didasarkan atas “maxims,” bukan atas disiplin; salah satunya mencegah kebiasaan jahat, sedangkan yang lainnya melatih fikiran untuk berfikir. Kita harus melihat, maka, anak harus membiasakan dirinya bertindak selaras dengan “maxims,” dan tidak pernah merubah tindakan tersebut. Melalui disiplin kita membentuk kebiasaan tertentu, lebih lanjut, paksaan yang berkurang dalam waktu beberapa tahun. Anak harus belajar bertindak sesuai dengan “maxims,” suatu kewajaran dimana ia mungkin melihat bagi dirinya. Seseorang dapat dengan mudah melihat bahwa terdapat beberapa kesulitan dalam menerapkan prinsip ini dengan anak kecil, dan bahwa budaya moral membutuhkan wawasan yang mendalam dari orang tua dan guru.

Seandainya anak menceritakan suatu kebohongan, anak tersebut seharusnya tidak dihukum, akan tetapi diperlakukan dengan rendah, dan diberitahukan bahwa ia tidak akan dipercayai di kemudian hari, dan seterusnya. Jika anda menghukum seorang anak karena kenakalannya, dan memberikan reward karena kebaikannya, ia akan melakukan hal yang benar hanya karena mengharapkan reward; dan ketika ia berada di dunia nyata dan menemukan bahwa perbuatan baik tidak selalu mendapatkan reward, begitupula kejahatan tidak selalu mendapatkan hukuman, ia akan tumbuh menjadi manusia yang befikir hanya tentang bagaimana ia berada didunia, dan melakukan kebenaran atau kesalahan karena ia menemukan manfaat bagi dirinya.

Maxims harus di tanamkan pada manusia. Dalam latihan moral kita harus mencoba lebih awal untuk memasukkan ke dalam pemikiran tentang apa yang benar dan apa yang salah. Jika kita berkeinginan untuk membentuk moralitas, kita harus meniadakan hukuman. Moralitas merupakan sesuatu yang suci dan luhur dan kita tidak boleh merendahkannya dengan menempatkannya sejajar dengan disiplin. Usaha pertama dalam pendidikan moral adalah pembentukan karakter. Karakter terlihat dalam kesiapan untuk bertindak selaras dengan “maxims.” Pada awalnya maxims yang teradapat di sekolah dan selanjutnya maxims dari kehidupan dunia. Pada awalnya anak menaati aturan. Maxims juga merupakan aturan, akan tetapi aturan yang subyektif. Mereka di proses dari pemahaman manusia. Tidak ada pelanggaran tergadap disiplin sekolah di perbolehkan untuk tidak dihukum, meskipun hukuman harus selalu sesuai dengan pelanggaran.

Jika kita ingin membentuk karakter anak, yang terpenting adalah menunjukkan kepada mereka rencana tertentu, dan aturan tertentu, secara keseluruhan, dan semua itu harus ditaati. Contohnya, mereka harus mengatur waktu untuk tidur, untuk bekerja, dan untuk bersenang-senang; dan waktu ini tidak boleh dikurangi atau diperpanjang. Anak diperbolehkan untuk memilih bagi diri mereka sendiri, tetapi dengan memilih salah satu mereka harus mengikuti aturan tersebut. Kita harus membangun dalam diri anak karakter seorang anak dan bukan karakter dari warga negara.

Di atas semua itu, ketaatan merupakan ciri terpenting dalam karakter anak, khususnya untuk sekolah laki-laki atau perempuan. Ketaatan ini terdapat dua bentuk, termasuk ketaatan absolut terhadap perintah atasannya, dan ketaatan terhadap apa yang ia rasakan menjadi keinginan yang baik dan masuk akal. Ketaatan mungkin merupakan hasil paksaan; maka inilah ketaatan absolute; atau mungkin tumbuh dari rasa nyaman; ini yang merupakan ketaatan jenis kedua. Ketaatan voluntary ini sangat penting, akan tetapi ketaatan absolut juga sangat penting, karena mempersiapkan anak untuk memenuhi hukum yang harus ia taati kemudian, sebagai warga negara, meskipun mereka tidak menyukainya.

Anak, harus menjadi subyek dari hukum tertentu. Hukum ini, bagaimanapun harus menjadi sesuatu yang umum—aturan yang harus dijaga secara tetap, khususnya di sekolah. Pihak yang berwenang tidak boleh menunjukkan kesukaan atau preferensi terhadap satu anak diatas yang lainnya; oleh karena itu hukum harus menjadi umum. Ketika anak mengetahui bahwa anak yang lain tidak diperlakukan berdasarkan aturan yang sama seperti dirinya, ia akan menjadi keras kepala.

Seseorang sering mendengar bahwa kita harus melakukan segala sesuatu sebelum anak dengan cara seperti itu mereka akan melakukannya karena kehendak hati (inclination). Pada beberapa kasus, pernyataan ini benar, merupakan sesuatu yang sangat baik, akan tetapi banyak hal selain itu yang harus di berikan sebelumnya kepada mereka sebagai suatu tugas (duty). Dan ini akan menjadi sangat berguna bagi mereka selama hidup mereka. Untuk membayar tarif atau pajak, hal ini menjadi lebih baik bahwa sesuatu tertentu harus ditentukan kepada mereka dengan cara ini; secara keseluruhan, anak akan selalu dapat melihat bahwa kewajiban tertentu sebagai anak, namun akan menjadi lebih sulit baginya untuk melihat bahwa ia memiliki kewajiban tertentu sebagai manusia. Ia mungkin bisa memahami hal ini, bagaimanapun, mungkin dilakukan dalam waktu beberapa tahun, ketaatannya mungkin masih lebih sempurna.

Setiap pelanggaran terhadap perintah pada anak merupakan suatu keinginan untuk kepatuhan dan keadaan ini membawa hukuman. Juga, sebuah perintah tidak ditaati melalui kurang perhatian, hukuman masih dibutuhkan. Hukuman ini dapat secara fisik atau moral. Hukuman moral ketika kita melakukan sesuatu yang menghina terhadap anak yang keinginannya untuk dihormati dan dicintai (keinginan yang merupakan bantuan untuk latihan moral); contohnya, ketika kita mempermalukan anak dengan memperlakukannya dengan dingin dan dijauhkan. Keinginan anak ini harus digali sebanyak-banyaknya. Maka hukuman seperti ini merupakan yang terbaik. Jika merupakan bantuan untuk latihan moral—contohnya, jika seorang anak berbohong, melihat dengan pandangan merendahkan merupakan suatu hukuman, dan jenis hukuman yang paling sesuai.

Hukuman fisik terdiri dari menolak permintaan anak atau penderitaan dengan rasa sakit. Yang pertama serupa dengan hukuman moral, dan merupakan bentuk yang negatif. Yang kedua harus digunakan dengan kehati-hatian, indoles servilis harus dihasilkan. Hal ini tidak digunakan untuk memberikan reward bagi anak; hal ini akan menjadikan mereka mementingkan diri sendiri, dan dan menimbulkan indoles mercenaria.

Lebih lanjut, ketaatan baik dari anak atau dari orang muda. Ketidaktaatan selalu diikuti dengan hukuman. Hal ini dapat berbentuk hukuman yang benar-benar alami, dimana seorang mendapatkannya karena perilakunya sendiri.—contohnya, ketika seorang anak sakit karena makan berlebihan—dan bentuk hukuman ini merupakan yang terbaik, sejak seseorang ditujukan terhadap hal tersebut selama hidupnya, dan bukan hanya sewaktu masa kecilnya; atau pada sisi lainnya, hukuman yang dibuat. Dengan mempertimbangkan keinginan anak untuk dicintai dan dihormati, hukuman seperti itu akan dipilih karena memberikan efek yang lama terhadap karakter anak. Hukuman fisik hanya sebagai pelengkap dari kekurangan hukuman moral. Jika hukuman moral tidak memiliki efek apapun, dan pada akhirnya kita harus menggunakan hukuman hukuman fisik, kita akan menemukan bahwa tidak ada karakter yang baik yang dibentuk dengan cara ini. Pada awalnya, bagaimanapun, pengekangan fisik akan berfungsi untuk menggantikan refleksi.

Hukuman yang diberikan dengan tanda kemarahan tidak ada gunanya. Anak akan memandang hukuman hanya sebagai hasil kemarahan; dan diri mereka sendiri hanya korban dari kemarahan tersebut; dan sebagai aturan umum hukuman harus diberikan kepada anak dengan sangat hati-hati, bahwa mereka harus memahami bahwa tujuannya adalah untuk perkembangan mereka. Merupakan suatu kebodohan untuk menyebabkan anak, ketika mereka dihukum, untuk mengucapkan terima kasih terhadap hukuman tersebut dengan mencium tangan, dan hanya mengembalikan anak kepada perbudakan. Jika hukuman fisik sering diulang, akan membuat anak menjadi keras kepala, dan jika orang tua menghukum anak mereka karena kenakalannya maka ia akan menjadi lebih nakal. Disamping itu, tidak selalu orang yang nakal itu adalah orang yang paling buruk, dan mereka selalu menghasilkan dengan mudah suatu bantahan.

Ketaatan dari remaja yang sedang tumbuh harus dibedakan dari ketaatan seorang anak. Yang pertama terdiri dari memenuhi aturan dari kewajiban. Melakukan sesuatu karena kewajiban artinya mengabaikan logika. Merupakan sesuatu yang sia-sia untuk berbicara kepada anak tentang kewajiban. Mereka memperhatikan hal itu pada akhirnya sebagai sesuatu yang jika tidak dipenuhi akan diikuti dengan batang (hukuman). Seorang anak akan dipandu hanya dengan insting. Ketika ia tumbuh besar, bagaimanapun, ide tentang kewajiban harus dimasukkan. Juga ide tentang malu harus digunakan dengan anak, akan tetapi hanya bagi mereka yang telah meninggalkan masa kanak-kanak menuju masa muda. Hal itu tidak dapat terlaksana bagi mereka sampai ide tentang kehormatan sudah difahami.

Ciri yang kedua dalam pembentukan karakter anak adalah kebenaran (kejujuran). Hal ini merupakan fondasi dan sangat penting bagi karakter. Seseorang yang berbohong tidak memiliki karakter, dan jika ia memiliki kebaikan dalam dirinya hal itu merupakan hasil dari bentuk tertentu dari tempramen. Beberapa anak memiliki kecenderungan untuk berbohong, dan sering tidak ada alasan lain dari pada mereka memiliki imajinasi yang hidup. Ini merupakan urusan seorang ayah untuk melihat bahwa mereka hancur karena kebiasaan ini, bagi para ibu secara umum memandang hal tersebut sebagai masalah kecil atau tidak penting, bahkan menemukannya sebagai bukti untuk menyanjung kepintaran dan kemampuan anak mereka. Ini merupakan waktu untuk menggunakan rasa malu, bagi anak pada kasus ini akan memahami dengan baik. Rasa malu akan menghianati kita ketika kita berbohong, tapi tidak selalu menjadi bukti tentang hal itu, bagi kita rasa malu yang sama dari orang lain yang membuat kita merasa bersalah. Dengan tanpa syarat kita harus menghukum anak untuk memaksa kebenaran pada mereka, kecuali jika mereka berbohong karena hasil dari kenakalan; maka mereka harus dihukum karena kenakalan tersebut. Pengambilan kembali rasa hormat hanya sesuai dengan hukuman untuk berbohong.

Hukuman dapat dibedakan menjadi menjadi hukuman yang negatif dan positif. Yang pertama dapat diterapkan pada kemalasan dan sifat jahat; contohnya, berbohong, ketidaktaatan. Hukuman positif dapat diterapkan untuk tindakan dengan maksud jahat. Namun diatas semua itu kita harus menjaga agar anak tidak pernah dendam.

Ciri ketiga pada karakter anak adalah kemampuan sosial. Ia harus menjalin pertemanan dengan anak lain, dan tidak selalu sendiri. Beberapa guru, menganggap hal benar untuk bertentangan dengan persahabatan ini di sekolah, tetapi ini merupakan kesalahan yang besar. Anak harus mempesiapkan dirinya untuk kenikmatan yang terindah dalam hidup mereka.

Jika guru lebih meperhatikan satu anak daripada yang lain, harus menjadi pertimbangan bagi karakternya, dan tidak ada kemampuan yang akan dimiliki oleh anak; selain rasa iri yang akan tumbuh, yang bertentangan dengan persahabatan.

Anak harus memiliki hati yang terbuka dan ceria dalam penampilan mereka seperti matahari. Hati yang gembira dapat menemukan kebahagiaannya dalam kebaikan. Agama yang membuat orang-orang muram adalah agama yang salah; karena kita harus berbagki kepada Tuhan dengan hati yang senang dan bukan dengan paksaan.

Anak kadang-kadang harus di bebaskan dari rutinitas sekolah yang memaksa, dengan cara itu kesenangan alamiah meraka akan dipuaskan. Ketika anak-anak diberikan kebebasan ia akan memperbaiki elastisitas alamiahnya. Melalui permainan dimana anak-anak menikmati kebebasan yang sempurna, mereka mecoba untuk melakukan satu sama lain, yang menjadikan tujuan ini yang terbaik, dan mereka akan dengan segera mencerahkan pemikiran meraka dan kembali ceria.

Anak harus diajarkan segala sesuatu yang sesuai dengan usia mereka. Banyak orang tua merasa senang dengan keturunannya yang dewasa sebelum waktunya; tapi sebagai aturan, tidak ada yang akan dihasilkan dari anak seperti itu. Anak harus pintar, namun kepintarannya hanya sebagai anak. Ia tidak harus meniru tindakan orang yang lebih tua. Bagi anak, dengan menyediakan dirinya sendiri dengan tujuan moral yang sesuai dengan usia dewasa merupakan hal yang berada diluar kemampuannya dan hanya menjadi peniru. Ia harus memiliki pemahaman hanya sebagai seorang anak, dan tidak mecoba untuk menunjukkannya terlalu dini. Anak yang dewasa sebelum waktunya tidak akan pernah menjadi dewasa yang sesungguhnya dan pemahaman yang jelas. Banyak diluar kaidah yang ada dimana anak mengikuti semua fashion yang ada, mengkriting rambut, menggunakan renda, dan bahkan membawa kotak tembakau. Ia harus memperoleh tindakan yang tidak sesuai dengan anak-anak. Masyarakat yang sopan menjadi beban bagi mereka, dan ia secara keseluruhan kekurangan hati seorang manusia. Oleh karena itu dengan berbagai alasan harus kita buat lebih awal untuk memerangi segala bentuk keangkuhan pada seorang anak; atau kita tidak boleh memberikan kesempatan sia-sia bagi anak. Hal ini dengan mudah terjadi ketika orang orang-orang berceloteh tentang anak, memberitahu mereka betapa cantiknya mereka, dan betapa bagusnya pakaian tersebut bagi merka, dan menjanjikan mereka beberapa perhiasan atau yang lainnya sebagai reward. Perhiasan tidak cocok untuk anak-anak. Mereka harus menerima kerapian mereka dan pakaian yang sederhana sebagai kebutuhan.

Pada saat yang sama orang tua tidak boleh membuat seperti toko yang besar dengan pakaian-pakaian mereka, dan juga tidak mengagumi diri mereka sendiri; untuk disini dan dimana-mana, contoh merupakan sesuatu yang powerfull dan memperkuat atau menghancurkan ajaran yang baik.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s