Peran Faktor Intelektual dan Non Intelektual dalam Belajar


Capture8

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Faktor intelektual merupakan salah satu faktor yang berperan dalam proses pembelajaran. Dengan kemampuan intelektual yang cukup seseorang dapat mengikuti proses belajar mengajar dengan baik. Sebaliknya jika anak tidak memiliki kemampuan intelektual yang memadai atau yang memiliki keterbelakangan mental maka harus mendapatkan perhatian khusus dalam proses belajar mengajar. Anak yang demikian dapat dikatakan tergolong dalam anak yang berkebutuhan khusus.

Kemampuan intelektual manusia tersebut tidak lepas dari keberadaan suatu unsur yang sangat vital dari tubuh manusia yaitu otak. Seperti yang dikemukakan oleh Martinis Yamin bahwa manusia merupakan mahkluk yang istimewa dibandingkan makhluk-makhluk lainnya. Kemampuan belajar dan mengolah informasi pada manusia merupakan ciri penting yang membedakan manusia dari makhluk lain, kemampuan belajar itu memberi manfaat bagi individu dan juga bagi masyarakat untuk menempatkan diri dalam makhluk yang berbudaya, dengan belajar seorang mampu mengubah perilaku, dan membawa pada perubahan individu-individu yang belajar, yang memiliki pengetahuan, sikap dan keterampilan. Otak manusia terdiri dari 100 – 200 milyar sel neuron yang siap memproses trilyun informasi, akan tetapi umumnya 5% bisa memanfaatkan untuk mengakses informasi, hal ini disebabkan saraf di otak tidak terlatih. Kemampuan otak untuk berpikir atau bernalar sangat ditentukan oleh kebiasaan kita melatihnya, ia sama halnya dengan otot yang kita miliki, kelenturan otot disebabkan gerakan yang teratur dan terbiasa. Bagi seorang yang memaksa ototnya bekerja di luar kebiasaan akan terasa pegal dan sakit. Demikian halnya dengan otak, seseorang yang tidak terbiasa membaca buku, koran dan lain sebagainya maka matanya lelah, berair dan ngatuk. Otak manusia berpikir tidak hanya ditentukan oleh kecerdasan dan kepintaran seseorang, akan tetapi kebiasaan dia memaksimalkan otaknya untuk berpikir dan bernalar. Orang pintar yang tidak terbiasa berpikir dan bernalar tak ubahnya, seperti sebilah pisau yang tajam yang mampu membelah sebuah kaleng, jika terkena air maka lama kelamaan akan tumpul, maka ia membutuhkan perawatan dan pengasahan agar tetap tajam (Martinis Yamin, 2013: 3 – 4).

Dari keterangan tersebut dapat diketahui bahwa perkembangan faktor intelektual manusia sangat erat kaitannya dengan upaya untuk melatih kemapuan otak. Jika seorang terbiasa memaksimalkan fungsi otaknya maka kemampuan intelektualnya akan berkembang. Perkembangan ini tentu saja tidak terjadi dengan sendirinya melainkan membutuhkan proses latihan yang dilakukan secara berkesinambungan. Dengan demikian, dalam proses belajar sudah seharusnya peran faktor intelektual ini mendapat perhatian dari pendidik agar dapat dikembangkan dengan maksimal.

Namun dari berbagai hasil penelitian diketahui bahwa ternyata bukan hanya faktor intelektual saja yang berpengaruh dalam proses belajar. Ternyata terdapat faktor lainnya yang juga mempengaruhi seseorang dalam proses belajar diantaranya faktor kecerdasan emosi. Seperti yang dikemukakan oleh Ari Ginanjar bahwa faktor emosi memiliki peran yang jauh lebih signifikan dibanding dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan intelektual barulah sebatas syarat minimal meraih keberhasilan, namun kecerdasan emosilah yang sesungguhnya mengantarkan seseorang menuju puncak prestasi. Terbukti banyak orang-orang yang memiliki kecerdasan intelektual tinggi, terpuruk di tengah persaingan. Sebaliknya banyak yang mempunyai kecerdasarn intelektual biasa-biasa saja, justru sukses menjadi bintang-bintang kinerja; pengusaha sukses; dan pemimpin-pemimpin di berbagai kelompok. Disinilah kecerdasan emosi membuktikan eksistensinya.

  • Rumusan Masalah

Berdasarkan keterangan pada latar belakang di atas rumusah masalah yang diajukan dalam makalah ini adalah sebagai berkut:

  1. Apa yang dimaksud dengan faktor intelektual (intelegensi)?
  2. Apa peran faktor intelektual dalam belajar?
  3. Apa saja yang tergolong dalam faktor non intelektual?
  4. Apa peran faktor nonintelektual dalam belajar?
    • Tujuan Penulisan

Berdasarkan pertanyaan pada rumusan masalah di atas, tujuan penulisan yang diajukan dalam makalah ini adalah sebagai berkut:

  1. Untuk mengatahui apa yang dimaksud dengan faktor intelektual (intelegensi).
  2. Untuk mengatahui apa peran faktor intelektual dalam belajar.
  3. Untuk mengatahui apa saja yang tergolong dalam faktor non intelektual.
  4. Untuk mengatahui apa peran faktor non intelektual dalam belajar.

 

 

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

 

  • Faktor Intelektual atau Kecerdasan Intelegensi (Intelligence Quotient)
    • Sejarah Pengukuran Kecerdasan

Orang pertama yang berpikir mengenai kemungkinan dilakukannya pengukuran intelegensi atau kecerdasan adalah Galton, sepupu Darwin. Hal yang mendorongnya untuk memiliki pemikiran demikian adalah karena Galton tertarik pada perbedaan-perbedaan individual dan pada hubungan antara hereditas dan kemapuan mental. Menurut Galton, ada dua kualitas umum yang membedakan antara orang yang lebih cerdas (more intelligent) dengan orang yang kurang cerdas (less intelligent), yaitu energi dan sensitivitas. Menurutnya orang yang cerdas itu memiliki tingkat energi yang istimewa dan sensitivitas terhadap rangsangan di sekitarnya. Semakin cerdas seseorang maka semakin sensitif terhadap rangsangan di sekitar kita. Pada tahun 1883, Galton mendirikan sebuah laboratorium antropometrik di London. Di Laboratorium inilah Galton mempelajari mengenai perbedaan-perbedaan individual[1].

Di Amerika Serikat, Cattel adalah orang pertama yang menggunakan istilah mental test. Pada tahun 1890 Cattel menerbitkan Mental Test and Measurement. Tes Cattel menekankan sensoy and perceptual task. Ia juga sering melibatkan perbedaan visual dan auditif. Oleh karena itu, tidak heran jika tes kecerdasan sekarang menekankan sensasi dan persepsi begitu kuat, sebagaimana yang dilakukan oleh psikologi pada pertengahan abad ke-19, terutama untuk penglihatan. Pada tahun 1891, Boas merupakan orang pertama yang berusaha membedakan skor tes dengan perkiraan subjektif yang independen dari kemapuan pribadi. Ia mengetes penglihatan, pendengaran dan hapalan 1.500 anak. Pada tahun 1892, Jastrow menyelenggarakan tes sensori dan hapalan terhadap 1.200 anak. Ia berusaha menghubungkan hasil-hasil tesnya dengan estimasi guru mereka atas kemampuan umum 1.200 anak tersebut[2].

Sejak awal abad ke 20 inteligensi disamakan dengan Intelligent Quotient (IQ). Pada tahun 1911, sebagai permintaan dari mentri pendidikan Perancis, Alfred Binet dan Theodore Simon mengembangkan sebuah tes yang mengidentifikasi resiko kegagalan sekolah pada anak. Tes ini bertujuan untuk menentukan siapa siswa yang beresiko mengalami kegagalan, sehingga ia diberi perhatian khusus. Pada tahun 1912, psikolog Jerman Wilhelm Stern mengemukakan tentang Intelligent Quotient atau IQ, yang mewakili rasio usia mental seseorang terhadap usia kronologis seseorang, yang diukur dengan menggunakan tes. Pada tahun 1920 Lewis Terman, seorang ahli psikometri dari Amerika, memperkenalkan Stanford Binet IQ test, merupakan tes pertama yang menggunakan kertas dan pensil, versi tes yang menggunakan kelompok dan teradministrasi dengan baik. Tes inteligensi dengan cepat menjadi bagian standar dari landasan pendidikan di Amerika. Sejak saat itu orang-orang mengidentifikasikan inteligensi dengan pengukuran IQ. Hasil karya awal tentang IQ, khususnya hasil karya Terman memainkan peran yang signifikan dalam pengembangan dua keyakinan umum tentang inteligensi: bahwa inteligensi secara mendasar diwariskan dan secara umum bersifat statis dan tidak dapat dirubah[3].

  • Definisi Kecerdasan Inteligensi (IQ)

Menurut Mahfudin Shalahudin bahwa intelek adalah akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan-hubungan dari proses berpikir. Selanjutnya dikatakan bahwa orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam tempo yang lebih singkat, memahami masalah lebih cepat dan cermat, serta mampu bertindak cepat[4]. Menurut English & English dalam bukunya ” A Comprehensive Dictionary of Psichological and Psychoalitical Terms” dalam Sunarto dan Hartono[5] istilah intellect berarti antara lain :

  1. Kekuataan mental dimana manusia dapat berpikir
  2. Suatu rumpun nama untuk proses kognitif, terutama untuk aktivitas yang berkenaan dengan berpikir ( misalnya menghubungkan, menimbang, dan memahami)
  3. Kecakapan, terutama kecakapan yang tinggi untuk berpikir

Menurut kamus Webster New World Dictionary of the American Language, dalam Sunarto dan Hartono istilah intellect berarti[6]:

  1. Kecakapan untuk berpikir, mengamati atau mengerti; kecakapan untuk mengamati hubungan-hubungan, dan sebagainya. Dengan demikian kecakapan berbeda dari kemauan dan perasaan
  2. Kecakapan mental yang besar,sangat intellegence, dan
  3. Pikiran atau inteligensi

Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian intelektual yaitu akal budi atau inteligensi yang berarti kemampuan untuk meletakkan hubungan dari proses berpikir, kemampuan untuk melakukan pemikiran yang bersifat abstrak atau tidak bisa di lihat (abstraksi), serta berpikir logis dan cepat sehingga dapat bergerak dan menyesuaikan diri terhadap situasi baru. Orang yang intelligent adalah orang yang dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu yang lebih singkat, memahami masalahnya lebih cepat dan cermat serta mampu bertindak cepat.

Istilah inteligensi, semula berasal dari bahasa Latin “intelligere” yang berarti menghubungkan atau menyatukan satu sama lain. Menurut William Stern salah seorang pelopor dalam penelitian inteligensi, mengatakan bahwa inteligensi adalah kemampuan untuk menggunakan secara tepat segenap alat-alat bantu dan pikiran guna menyesuaikan diri terhadap tuntutan-tuntutan baru. Sedangkan Leis Hedison Terman berpendapat bahwa inteligensi adalah kesangupan untuk belajar secara abstrak. Di sini Terman membedakan antara concret ability yangitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat konkrit dan abstract ability yaitu kemampuan yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat abstrak. Orang dikatakan inteligent menurut Terman jika orang tersebut mampu berpikir abstrak dengan baik.

Menurut William H Calvin, dalam How Brain Thinks (Bagaimana otak berpikir), Piaget mengatakan, “Intelligence is what you use when you don’t know what to do (Kecerdasan adalah apa yang kita gunakan pada saat kita tidak tahu apa yang harus dilakukan). Sehingga menurut Calvin, seseorang itu dikatakan smart jika ia terampil dalam menemukan jawaban yang benar untuk masalah pilihan hidup[7].

Para ahli psikologi lebih suka memusatkan perhatiannya pada masalah perilaku inteligen (intelligence behavior), daripada membicarakan batasan inteligensi. Mereka beranggapan bahwa inteligensi merupakan status mental yang tidak memerlukan definisi, sedangkan perilaku inteligen lebih konkret batasan dan ciri-cirinya sehingga lebih mudah untuk dipelajari. Dengan mengidentifikasi ciri dan indikator perilaku inteligen, maka dengan sendirinya definisi inteligensi akan terkandung didalamnya. Diantara ciri-ciri perilaku yang secara tidak langsung telah disepakati sebagai tanda telah dimilikinya inteligensi yang tinggi, antara lain adalah :

  1. Adanya kemapuan untuk memahami dan menyelesaikan problem mental dengan cepat
  2. Kemampuan mengingat
  3. Kreativitas yang tinggi
  4. Imajinasi yang berkembang

Sebaliknya perilaku yang lamban, tidak cepat mengerti, kurang mampu menyelesaikan problem mental yang sederhana, dan semacamnya, dianggap sebagai indikasi tidak dimilikinya inteligensi yang baik[8].

Hagenhan dan Oslo menjelaskan bahwa inteligensi merupakan suatu tindakan yang menyebabkan terjadinya perhitungan atas kondisi-kondisi yang secara optimal bagi organisme dapat hidup berhubungan dengan lingkungan secara efektif. Sebagai suatu tindakan, inteligensi selalu cenderung menciptakan kondisi-kondisi yang optimal bagi organisme untuk bertahan hidup dalam kondisi yang ada.

Feldam mendefinisikan kecerdasan sebagai kemampuan memahami dunia, berpikir secara rasional, dan menggunakan sumber-sumber secara efektif pada saat diharapkan dengan tantangan. Dalam pengertian ini kecerdasan terkait dengan kemampuan memahami lingkungan atau alam sekitar, kemampuan penalaran atau berpikir logis, dan sikap bertahan hidup dengan menggunakan sarana dan sumber-sumber yang ada. Sedangkan Henmon mendefinisiakn inteligensi sebagai daya atau kemapuan untuk memahami. Wechsler mendefinisikan inteligensi sebagai totalitas kemampuan seseorang untuk bertindak dengan tujuan tertentu, berpikir secara rasional, serta menghadapi lingkungan dengan efektif[9].

  • Peran Kecerdasan Inteligensi dalam belajar

Menurut Nickerson dalam Agus Efendi, diantara pendahulu tes kecerdasan adalah Binet. Hasil tes yang dilakukan oleh Alfred Binet dan koleganya menemukan bahwa peran kecerdasan intelegensi dalam belajar adalah sebagai berikut:

  • Kecerdasan intelegensi berperan dalam keberhasilan seorang anak dalam proses belajar di sekolah. Anak dengan kemampuan intelegensi yang rendah akan mengalami kesulitan dalam belajar sebaliknya anak dengan kemampuan intelegensi yang tinggi akan mudah dalam mengikuti proses belajar. Sesuai dengan tujuan awal dari tes intelegensi yang dilakukan oleh Alfred Binet adalah untuk mengetahui siswa yang kemungkinan mengalami kegagalan dalam belajar sehingga mereka perlu mendapatkan perhatian khusus.
  • Kecerdasan intelegensi berperan sebagai direction. Menurut Binet direction melibatkan pengetahuan mengenai apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Sehingga siswa dengan kemapuan inteleginsi yang tinggi dapat dengan cepat mengetahui apa yang harus dilakukan dan bagaimana cara melakukannya. Ketika guru memberikan suatu tugas tertentu ia dapat dengan cepat mengetahui tindakan apa yang harus ia lakukan.
  • Kecerdasan sebagai Menurut Binet adaptation mengacu pada upaya membangun strategi untuk melakukan sebuah tugas, lalu berusaha untuk tetap berada dalam strategi tersebut dan mengadaptasinya saat mengimplementasikannya.
  • Kecerdasan sebagai criticism. Menurut Binet criticism adalah kemampuan untuk mengkritisi pikiran dan tindakan sendiri. Sehingga siswa yang cerdas dapat berpikir kritis dan lebih aktif dalam proses belajar.
  • Kecerdasan intelegensi berperan dalam memberikan kesempatan belajar bagi anak yang berasal dari keluarga miskin. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Binet terhadap anak-anak miskin, betapapun pandainya merka, namun mereka tidak pernah diberi kemudahan untuk mendapatkan pendidikan lanjutan. Binet berpikir bahwa lewat tes IQ anak-anak miskin mampu membuktikan mereka lebih cerdas daripada rata-rata anak kebanyakan. Karenanya, seharusnya, mereka bisa memperoleh pendidikan lanjutan, tanpa menghiraukan kedudukan sosial mereka.
    • Multiple Intelligences (MI)
      • Teori Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences)

Howard Gardner memperkenalkan teori multiple intelligences (MI) untuk menentang pendapat tentang IQ, yang dianggapnya tidak memadai untuk menjelaskan tentang kecerdasan. Teori multiple intelligences menggambarkan inteligensi sebagai sesuatu yang plural sebagai penyelesaian masalah, sebagai ukuran kualitatif dan bukan hanya ukuran kuantitatif, yang berbeda antara satu individu dengan yang lain. Sementara dari sudup pandang IQ menanyakan seberapa pintar anda? (How smart are you?), dan teori MI menanyakan Bagaimana anda pintar? (How are you smart?)[10].

Penelitian Gardner telah menguak rumpun kecerdasan manusia yang lebih luas dari pada kepercayaan manusia sebelumnya serta menghasilkan konsep kecerdasan yang sungguh pragmatis. Gardner tidak memandang kecerdasan manusia berdasarkan skor tes standar semata. Gardner menjelaskan kecerdasan sebagai: (1) kemampuan untuk menyelesaikan masalah yang terjadi dalam kehidupan manusia; (2) kemampuan untuk menghasilkan persoalan-persoalan baru untuk diselesaikan; (3) kemampuan untuk menciptakan sesuatu atau menawarkan jasa yang akan menimbulkan penghargaan dalam budaya seseorang. Pada awalnya Gardner pada awalnya mengembangkan tujuah kecerdasan independen dan pada tahun 1995 ia memperkenalkan kecerdasan yang ke delapan yaitu naturalis. Kedelapan kecerdasan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Kecerdasan musik (musical intelligence)
  • Kecerdasan gerakan-badan (bodily-kinesthetic intelligence)
  • Kecerdasan logika matematika (logical mathematical intelligence)
  • Kecerdasan linguistik (linguistic intelligence)
  • Kecerdasan ruang (spatial intelligence)
  • Kecerdasan antarpribadi (interpersonal intelligence)
  • Kecerdasan intra pribadi (intrapersonal intelligence)
  • Kecerdasan alami (naturalist intelligence)

Lebih lanjut, kecerdasan tersebut dijelaskan dengan rinci oleh Thomas Amstrong. Linguistic intelligence adalah kemampuan untuk menggunakan kata-kata secara efektif, baik secara lisan maupun tulisan. Logical mathematical Intelligence adalah kemampuan untuk menggunakan angka-angka secara efektif, misalnya penggunaan dalam pekerjaan matematika, statistik, akuntansi, perpajakan, dan pemrograman komputer. Spatial intelligence adalah kemampuan untuk menangkap dunia ruang pandang (visual spatial world) secara akurat, misalnya untuk menampilkan visi seorang dekorator dan arsitek. Bodily Kinestetic Intelligence adalah kemampuan menggunakan gerakan badan dalam hal menyampaikan pemikiran dan perasaan. Musical Intelligence adalah kemampuan untuk menangkap melalui mata hatinya misalnya musik, dan keahlian musik pada umumnya. Interpersonal Intelligence adalah kemampuan untuk menangkap dan membuat perbedaan dalam suasana hati, keinginan, motivasi, dan perasaan orang lain. Intrapersonal Intelligence adalah kemampuan untuk membuat gambaran yang akurat tentang diri sendiri (kekuatan dan kelemahan diri sendiri). Naturalist intelligence adalah kemampuan untuk memahami alam, melihat bagaimana pola-pola yang terjadi di alam dan mengklasifikasi segala sesuatu tentang alam[11] .

  • Peran Kecerdasan Majemuk (Multiple Intelligences) dalam Belajar
  1. Kecerdasan Verbal/Linguistik

Kecerdasan linguistik antara lain ditunjukkan oleh kepekaan akan makna dan urutan kata, serta kemampuan membuat beragam pengguaan bahasa. Kemampuan alamiah yang berkenaan dalam kecapakan ini adalah percakapan spontan, dongen, humor, kelakar, membujuk orang untuk mengikuti tindakan, memberi penjelasan atau mengajar. Contoh orang yang memiliki kecerdasan ini adalah Herman Melville, penulis novel Mobby Dick, J.K Rowling penulis buku cerita Harry Potter. Sedangkan di Indonesia terdapat Gunawan Muhammad, Emha Ainun Najib, Taufik Ismail, Andrea Hirata dan lain-lain.

Dalam proses belajar kecerdasan ini sangat berperan terutama sekali dalam pelajaran bahasa. Sedangkan dalam bidang pelajaran lainnya kecerdasan ini sangat dibutuhkan dalam proses belajar seperti dalam kegiatan diskusi. Setiap siswa dalam diskusi harus mampu menyampaikan pendapatnya ataupun menjawab pertanyaan dari siswa lainnya.

  1. Kecerdasan logis matematik

Mereka yang memiliki kecerdasan ini adalah mereka yang bekerja dengan simbol-simbol abstrak dan bisa melihat koneksi antara potongan-potongan informasi yang mungkin terlewatkan oleh orang lain. Para ahli matematika, sains, programer komputer dan akuntan, adalah diantara mereka yang juga tersebut dalam wilayah-wilayah kecerdasan ini.

Peran kecerdasan ini dalam belajar terutama sekali dalam mata pelajaran hitungan seperti Matematika dan mata pelajaran sains seperti Fisika, Kimia, Akuntansi yang semuanya membutuhkan kemampuan logis matematik.

  1. Kecerdasan Spasial

Kecerdasan spasial adalah kecerdasan yang dapat digunakan untuk mengenali objek dan pemandangan di lingkungan aslinya. Kecerdasan ini juga digunakan ketika seseorang membuat lukisan grafis atau simbol-simbol lain seperti peta, diagram, atau bentuk-bentuk geometrik. Dunia lukisan dan ukiran telah menunjukkan sensitivitas terhadap dunia visual dan spasial dengan sangat jelas seperti lukisan Affandi, Leonardo da Vinci, Michael Angelo, dan Picasso.

Dalam belajar kecerdasan spasial ini berperan dalam mempelajari bentuk-bentuk visual dan mengekspresikannya seperti dalam pelajaran menggambar dan mata pelajaran desain grafis pada komputer seperti menggunakan aplikasi corel draw, photo shop dan sebagainya.

  1. Kecerdasan Musikal/Ritmis

Kecerdasan musikal adalah kecerdasan yang terkait dengan sensitivitas yang dimiliki seseorang terhadap susunan suara dan kemampuan merespon pola-pola suara ini secara emosional. Dalam proses belajar kecerdasan ini berperan jika siswa diizinkan untuk menciptakan dan menggunakan lagu, ketokan, sorak-sorai, syair dan sajak[12].

  1. Kecerdasan Tubuh/Kinestetik

Kecerdasan tubuh/kinestesis memungkinkan orang untuk mengontrol dan menafsirkan aneka gerak tubuh dan membentuk harmoni pikiran dan tubuh. Contoh orang-orang yang memiliki kecerdasan tubuh yang sangat bagus adalah para atlit di arena olahragara. Seperti para pemain basket dan sepak bola yang begitu lincah memainkan bola dii lapangan.

Dalam proses belajar kecerdasan tubuh ini berperan dalam pelajaran olah raga dan pelajaran lain selama membutuhkan aktivitas fisik. Seorang individu yang kuat dalam kecerdasan tubuh/kinestetis mampu melakukan keterampilan motorik kecil dengan baik dan bisa melakukan aktivitas-aktivitas seperti menyusun, memahat, membongkar, dan mengumpulkan kembali dengan mudah[13].

 

 

  1. Kecerdasan Intrapersonal

Merupakan kemampuan untuk mengetahui diri sendiri dan mengambil tanggungjawab atas kehidupan dan proses belajar seseorang. Para siswa dengan keterampilan interpersonal yang kuat mengenali berbagai kekuatan dan keterbatasan mereka dan menantang diri mereka sendiri supaya bisa menjadi jauh lebih baik.

Dalam belajar kecerdasan intrapersonal ini berperan bagi para siswa dalam membuat suatu orientasi pada tujuan, reflektif, dan melihat kesuksesannya sebagai hasil langsung dari perencanaan, usaha, dan ketekunannya sendiri. Aktivitas-aktivitas yang merangsang kecerdasan interpersonal ini di ruang kelas diantaranya adalah kesempatan untuk memecahkan masalah, melatih konsentrasi, menetapkan tujuan, dan menulis dalam catatan-catatan harian pribadi[14].

  1. Kecerdasan Interpersonal

Kecerdasan interpersonal adalah kemampuan untuk memahami dan berinteraksi dengan baik dengan orang lain. Kemampuan ini melibatkan penggunakan berbagai keterampilan seperti kemampuan kerjasama, manajemen konflik, strategi membangun konsensus, kempampuan untuk menghormati, memimpin dan memotivasi orang lian.

Dalam proses belajar kecerdasan ini berperan ketika siswa diberikan kesempatan untuk bekerjasama dimana mereka dapat menjadi sosial, merencanakan secara bersama dan bekerja dengan orang lain demi keuntungan timbal balik[15].

  1. Kecerdasan Naturalis

Merupakan kemampuan menggunakan input sensorik dari alam untuk menafsirkan lingkungan seseorang. Dalam belajar kecerdasan berperan dalam kegiatan menyelidiki, mengklasifikasi, dan mengoleksi berbagai unsur di alam, melakukan berbagai eksperimen ilmiah, dan meneliti solusi-solusi bagi berbagai masalah lingkungan. Semua aktivitas yang membantu para siswa untuk dapat mengklasifikasi kehidupan tanaman dan menyelidiki habitat benda-benda hidup juga dapat menignkatkan kecerdasan naturalis[16].

  • Kecerdasan Emosional
    • Definisi dan Bentuk Emosi

Daniel Goleman yang merupakan pakar “kecerdasan emosional” memaknai emosi sebagai setiap keadaan mental yang hebat dan meluap-luap. Lebih lanjut ia mengatakan bahwa emosi merujuk kepada suatu perasaan dan pikiran-pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis, dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak.

Sementara itu Chaplin dalam “Dictionary of Psychology” mendefinisikan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadar, yang mendalam sifatnya dari perubahan perilaku. Dengan demikian emosi adalah suatu respon terhadap suatu perangsang yang menyebabkan perubahan fisiologis disertai perasaan yang kuat dan biasanya mengandung kemungkinan untuk meletus. Respon demikian terjadi baik terhadap perangsang-perangsang eksternal maupun internal.

Menurut Daniel Goleman sesungguhnya ada ratusan emosi dengan berbagai variasi, campuran dan nuansanya sehingga makna yang dikandungnya lebih banyak, lebih kompleks, dan lebih halus daripada kata yang digunakan untuk menjelaskan emosi. Meskipun emosi itu sedemikian kompleksnya, namun ia mengidentifikasi sejumlah kelompok emosi, yaitu:

  1. Amarah; didalamnya meliputi beringas, mengamuk, benci, marah besar, jengkel, kesal hati, terganggu, rasa pahit, berang, tersinggung, bermusuhan, tindak kekerasan dan kebencian patologis.
  2. Kesedihan; di dalamnya meliputi pedih, sedih, muram, suram, mengasihani diri, kesepian, ditolak, putus asa dan depresi.
  3. Rasa Takut; di dalamnya meliputi cemas, takut, gugup, khawatir, was-was, tidak tenang, ngeri, kecut, panik dan pobia.
  4. Kenikmatan; di dalamnya meliputi bahagia, gembira, puas, riang, senang, terhibur, bangga, kenikmatan inderawi, takjub, terpesona, puas, girang, senang sekali dan mania.
  5. Cinta; di dalamnya meliputi penerimaan, persahabatan, kepercayaan, kebaikan hati, rasa dekat, bakti, hormat, dan kasih sayang.
  6. Terkejut; di dalamnya meliputi terkesiap, takjub dan terpana.
  7. Jengkel; didalamnya meliputi hina, jijik, muak, mual, benci, tidak suka, dan mau muntah.
  8. Malu; di dalamnya meliputi rasa bersalah, malu hati, kesal hati, menyesal, hina, aib, dan hati hancur lebur.
    • Definisi Kecerdasan Emosional

Kecerdasan emosional merupakan kemampuan seperti kemampuan untuk memotivasi diri sendiri dan bertahan menghadapi frustrasi; mengendalikan dorongan hati dan tidak melebih-lebihkan kesenangan; mengatur suasanan hati dan menjaga agar beban stres tidak melumpuhkan kemampuan berpikir, dan berempati. Menurut Steven J Stein dan Howard E. Book kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi, dan kecakapan nonkognitif yang memengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan[17].

Keterampilan kecerdasan emosi bekerja secara sinergi dengan keterampilan kognitif. Makin kompleks pekerjaan, makin penting kecerdasan emosi. Emosi yang lepas kendali dapat membuat orang pandai menjadi bodoh. Tanpa kecerdasan emosi, orang tidak akan mampu menggunakan kemampuan kognitif mereka sesuai dengan potensi yang maksimum. Penyebab manusia tidak mencapai potensi maksimum adalah ketidakterampilan emosi.

Kecerdasan emosional mulai diperhatikan secara meluas setelah publikasi hasil karya Daniel Goleman pada tahun 1995 yang berjudul “Emotional Intelligence: Why it Can Matter More Than IQ”. Menurut Goleman tes IQ hanya berhubungan dengan kemampuan verbal dan matematika, dan mengabaikan kemungkinan yang lain seperti hubungan antara pikiran dan perasaan, yang merupakan hubungan ataran aspek intelektual dan emosional. Para ahli terus mengingatkan bahwa proses pendidikan jangan hanya memfokuskan kepada faktor intelektual seperti yang dikemukakan krishnamurti dalam Carol Hall[18]:

Terdapat sesuatu yang lebih tinggi dan lebih luas pengaruhnya terhadap kehidupan, nilai yang belum kita temukan dalam pendidikan kita? Kita mungkin berpendidikan tinggi, akan tetapi jika tidak memiliki ikatan yang kuat antara pikiran dan perasaan kita, kehidupan kita tidak lengkap, terdapat kontradiksi dan tersobek dengan banyak ketakutan, selama pendidikan tidak menggali pandangan yang menyeluruh tentang kehdupan, pengaruhnya akan sangat sedikit.

 

Seseorang yang memiliki IQ saja belum cukup, yang ideal adalah IQ yang dibarengi dengan EQ yang seimbang. Pemahaman yang didukung oleh Goleman yang dikutip oleh Patton, bahwa para ahli psikologi sepakat akalu IQ hanya mendukung sekitar 20 persen faktor yang menentukan keberhasilan, sedangkan 80 persen sisanya berasal dari faktor lain termasuk kecerdasan emosional. Pada tabel berikut dapat dilihat pendapat para ahli tentang EQ.

No Nama Tokoh Pendapat tentang EQ
1. Patton EQ mencakup semua sikap seperti:1.   Kesadaran diri

2.   Manajemen suasana hati

3.   Motivasi diri

4.   Mengendalikan desakan hati

5.   Mengendalikan orang lain

2. Cooper dan Sawaf Beberapa manfaat yang dihasilkan oleh EQ1.   Pembuatan keputusan

2.   Kepemimpinan

3.   Terobosan teknis dan strategis

4.   Komunikasi yang terbuka dan jujur

5.   Kerjasama dan hubungan saling mempercayai

6.   Loyalitas konsumen

7.   Kreativitas dan inovasi

Salovey Terdapat 5 wilayah utama kemampuan EQ1.   Mengenali emosi diri

2.   Mengelola emosi

3.   Memotivasi diri sendiri

4.   Mengenali emosi orang lain

5.   Membina hubungan

Tabel. 2.3.2 Pendapat para ahli tentang kecerdasan emosional

  • Hubungan antara Emosi dan Tingkah Laku

Daniel Goleman mengemukakan sejumlah ciri utama pikiran emosional sebagai bukti bahwa emosi memainkan peranan penting dalam tingkah laku individu. Adapun ciri utama emosional tersebut dijelaskan pada tabel berikut:

No Ciri-Ciri Emosional Penjelasan Contoh
1. Respon yang cepat tetapi ceroboh Pikiran yang emosional dilakukan tanpa pertimbangan apapun, sehingga sikap hati-hati dan proses analitis dalam berpikir dikesampingkan sehingga menjadi ceroboh Seorang wanita yang karena sangat takut melihat binatang yang selama ini sangat ditakutinya, maka dia mampu melompati parit yang secara rasional tidak mungkin dapat dilakukannya
2. Mendahulukan perasaan baru kemudian pikiran Pikiran rasional membutuhkan waktu sedikit ama dibandingkan dengan pikiran emosional sehingga dorongan yang lebih dahulu muncul adalah dorongan hati atau emosi, baru kemudian dorongan pikiran Reaksi gerak cepat emosional dalam situasi-situasi yang mendesak dan membutuhkan tindakan penyelamatan diri
3. Memperlakukan realitas sebagai realitas simbolik Logika pikiran emosional bersifat asosiatif, artinya memandang unsur-unsur yang melambangkan suatu realitas itu sama dengan realitas itu sendiri Para ulama dan guru spiritual pada umumnya menyampaikan ajaran-ajarannya dengan berusaha menyentuh hati para pengikutnya dengan cara berbicara dalam bahasa emosi melalui kisah-kisah yang menyentuh perasaan
4. Masa lampau diposisikan sebagai masa sekarang Jika sejumlah ciri suatu peristiwa tampak serupa dengan kenangan masa lampau yang mengundang muatan emosi, maka pikiran emosional akan menanggapinya dengan memicu perasaan-perasaan yang berkaitan dengan peristiwa yang diingat Seseorang yang pada masa kanak-kanak sering mendapat pukulan yang menyakitkan, maka setelah dewasa akan beraksi terhadap hardikan atau kemarahan dengan perasaan sangat takut atau dengan kebencian
5. Realitas yang ditentukan oleh keadaan Pikiran emosional pada individu sebenarnya banyak ditentukan oleh keadaan dan didiktekan oleh perasaan tertetu yang sedang menonjol pada saat itu Cara seorang berpikir dan bertindak pada saat merasa senang dan romantis akan sangat berbeda dengan erilakunya ketika sedang dalam keadaan sedih, marah atau cemas

Tabel. 2.3.3 Ciri utama pikiran dan perilaku emosional (toeri kecerdasan emosional Daniel Goleman)

  • Peran Faktor Emosional dalam Belajar

Melalui proses belajar emosi dapat berkembang ke arah kecerdasan emosional oleh karena itu emosi berperan dalam membentuk intervensi-intervensi pendidikan. Salah satunya intervensi yang dikemukakan oleh W.T. Grant Consortium tentang “Unsur-unsur Aktif Program Pencegahan”, yaitu sebagai berikut:

  1. Pengembangan keterampilan emosional

Cara yang dapat dilakukan adalah:

  • Mengidentifikasi label-label perasaan
  • Mengungkapkan perasaan
  • Menilai intensitas perasaan
  • Mengelola perasaan
  • Menunda pemuasan
  • Mengendalikan dorongan hati
  • Mengurangi stress
  • Memahami perbedaan antara perasaan dan tindakan
  1. Pengembangan keterampilan kognitif

Cara yang dapat dilakukan adalah:

  • Belajar melakukan dialog batin
  • Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial
  • Belajar menggunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan
  • Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati)
  • Belajar memahami sopan santun
  • Belajar bersikap positif
  • Belajar mengembangkan kesadaran diri
  1. Pengembangan keterampilan perilaku

Cara yang dapat dilakukan adalah:

  • Belajar keterampilan komunikasi non verbal
  • Belajarlah keterampilan komunikasi verbal

Cara lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat berkembang ke arah memiliki kecerdasan emosional adalah dengan mengembangkan kegiatan-kegiatan yang di dalamnya mengandung materi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman yang diberi nama “Self-science Curriculum”, yang dijelaskan pada tabel berikut ini:

No Kegiatan Yang Dilakukan Contoh
1. Belajar mengembangkan kesadaran diri Mengamati diri dan mengenali perasaan-perasaan sendiri
2. Belajar mengambil keputusan pribadi Mencermati tindakan-tindakan dan akibat-akibatnya
3. Belajar mengelola perasaan Menyadari apa yang ada di balik perasaan (sakit hati yang mendorong amarah)
4. Belajar menangani stress Mempelajari pentingnya berolah raga, perenungan yang terarah dan relaksasi
5. Belajar berempati Memahami perasaan dan masalah orang lain dan berpikir dengan sudut pandang orang lain
6. Belajar berkomunikasi Berbicara mengenai perasaan secara efektif yakni belajar menjadi pendengar dan penanya yang baik
7. Belajar membuka diri Menghargai keterbukaan dan membina kepercayaan dalam suatu hubungan
8. Belajar mengembangkan pemahaman Mengidentifikasi pola-pola dalam kehidupan emosional dan reaksi-reaksinya
9. Belajar menerima diri sendiri Merasa bangga dan memandang diri sendiri dari sisiyang positif
10. Belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi Belajar memikul tanggung jawab, mengenali akibat-akbiat dari keputusan dan tindakan anda
11. Belajar mengembangkan ketegasan Mengungkapkan keprihatinan dan perasaan tanpa rasa marah atau berdiam diri
12. Belajar dinamika-dinamika kelompok Mau bekerjasama, memahami kapan harus memimpin dan kapan harus mengikuti
13. Belajar menyelesaikan konflik Memahami contoh penyelesaian (win-win solution) untuk merundingkan atau menyelesaikan suatu perselisihan

Tabel 2.3.4 Tabel Self Science Curriculum (Daniel Goleman)

 

  • Kecerdasan Spiritual
    • Definisi dan Sejarah Kecerdasan Spiritual

Menurut Danah Zohar dan Ian Marshall dalam Agus Efendi, IQ atau kecerdasan rasional saja belum cukup. Alasan-alasan yang dicari orang untuk menjalani hidup tidak semata-mata rasional dan tidak pula murni emosional. Zohar dan Marshall mengatakan “Kita tak punya konteks keutuhan bagi hidup kita, suatu aliran makna alami dimana kita bisa ikut ambil bagian. Dalam beberapa segi, kekeringan spiritual ini terjadi sebagai produk dari IQ manusia yang tinggi. Kita telah menjauh dari alam dan makhluk lainnya, juga dari agama dengan penalaran kita. Dalam loncatan kemajuan teknologi yang pesat ke depan, kita telah meninggalkan budaya tradisional dan nilai-nilai yang melekat padanya. IQ kita telah meringankan tenaga kerja, meningkatkan kesejahteraan manusia, serta menghasilkan pernak-pernik kecil yang tidak terhitung jumlahnya, yang sebagian di antaranya justru mengancam diri dan lingkungan kita. Namun kita belum mamp menemukan cara untuk menjalankan semuanya itu berharga.”[19]

Secara historis spiritual qoutient dapat ditelaah dari kajian Sigmund Freud tentang id, ego dan superego. Id terdiri dari insting, emosi dan alam bawah sadar. Sedangkan ego berupa kesadaran dan pikiran rasional. Selanjutnya superego merupakan kaidah moral dan nilai-nilai sosial yang diserap oleh individu dari lingkungannya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut:

Definisi Contoh Kasus
Id Energi psikis yang hanya memikirkan kesenangan Peluklah sekretaris anda
Ego Kesadaran dan pikiran realitas Cek apakah ia suka kepadamu!
Superego Kaidah moral dan nilai sosial Haram anda melakukannya!

Tabel 2.4.1 contoh kasus id, ego dan superego menurut Jalaluddin Rakhmat

Menurut Zohar dan Marshall SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi dan memecahkan persoalan makna dan nilai, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain. Lebih lanjut mereka mengatakan bahwa SQ adalah kecerdasan yang memfasilitasi suatu dialog antara akal dan emosi, antara pikiran dan tubuh, menyediakan titik tumpu bagi pertumbuhan dan perubahan, menyediakan pusat pemberi makna yang katif dan menyatu bagi diri.

  • Manfaat dan Peningkatan SQ

Sebelum mengetahui tentang manfaat SQ terlebih dahulu perlu diketahui beberapa alasan mengapa manusia perlu meningkatkan SQ, adalah sebagai berikut :

  • Anggapan berlebihan terhadap kecerdasan IQ sudah tidak bisa dipertahankan lagi. Howard Gardner telah mengemukakan teori Multiple Intelligence atau kecerdasan majemuk. Kemudian anggapan bahwa kecerdasan IQ adalah satu-satunya peramal kesuksesan hidup seseorang sudah gugur oleh berbagai penemuan ilmiah bahwa manusia mempunyai dua kecerdasan yang berlainan yaitu kecerdasan rasional dan emosinal. Keberhasilan dalam kehidupan ditentukan oleh keduanya tidak hanya oleh IQ, tetapi kecerdasan emosional juga memegang peranan.
  • Fungsi kecerdasan spiritual bersifat unitif, yaitu menggabungkan antara fungsi kecerdasan IQ dan EQ. SQ adalah kecerdasan yang bisa kita gunakan untuk menyembangkan makna dan nilai, untuk menempatkan kehidupan kita dalam konteks yang lebih luas, juga sarana berpikir integralistik dan holistik untuk memaknai kehidupan.
  • Secara historis, kehancuran kemanusiaan dan spiritual pada abad ini adalah sebagai akibat dari terjadinya proses pembajakan emosional, atau bahkan pembutaan dan pembodohan emosional dan spiritual. Seperti yang dikemukakan Zohar, “Kia berada dalam budaya yang secara spiritual bodoh yang ditandai oleh materialisme, kelakayan, egoisme diri yang sempit kehilangan makna dan komitmen.” Hal itu adalah akibat dari lebih dikedepankannya kecerdasan IQ selama ini.
  • Manusia adalah makhluk multidimensional. Manusia adalah makhluk yang sekaligus memiliki tubuh, akal, pikiran, kognisi, hasrat, rasa, motivasi, emosi, imajinasi, intuisi, spirit dan ruh. Menunggalkan kecerdasan IQ pada akhirnya pasti merupakan reduski atas kompleksitas dan multidimensionalitas manusia.
  • Alasan spiritual dan relijius. Semua agama besar di dunia meyakini bahwa manusia memiliki ruh, bahwa ruh itu tidak mati; bahwa setiap manusia bukan saja akan mati tapi juga akan pulang kepada-Nya.[20]

Setelah mengetahui tentang alasan mengapa SQ harus ditingkatkan, perlu dikaji apa saja manfaat dari meningkatkan SQ. Menurut Zohar manfaat dari SQ adalah sebagai berikut:

  • Untuk mengoptimalkan kecerdasan IQ dan EQ.
  • Menyembuhkan dari krisis makna dan spiritual.
  • Menyembuhkan patologi spiritual[21]

Selanjutnya apa saja langkah-langkah yang dapat dilakukan untuk meningkatkan SQ. Menurut Zohar langkah-langkah untuk meningkatan SQ adalah sebagai berikut:

  • Menyadari keberadaan kita (dimana kita sekarang?).
  • Merasakan keinginan kuat untuk berubah.
  • Merenungkan pusat diri dan menanyakan motivasi terdalam.
  • Menemukan dan mengatasi rintangan.
  • Menggali banyak kemungkinan untuk melangkah maju.
  • Menetapkan hati pada sebuah jalan.
  • Tetap menyadari adanya banyak jalan.
    • Kecerdasan Kesuksesan (SI)

Kecerdasan kesuksesan dikemukakan oleh Robert J. Sternberg, profesor psikologi dan pendidikan di Univesitas Yale. Ide tentang kecerdasan kesuksesan di tulisnya dalam buku yang berjudul Successful Intelligence: How Practical and Creative Intelligence Determine in Life (1996). Sternberg mengatakan bahwa kecerdasan kesuksesan adalah bentuk kecerdasan yang digunakan untjk mencapai tujuan-tujuan penting. Orang-orang sukses adalah mereka yang berhasil mengelola diri untuk mencapai, mengembangkan dan mengaplikasikan keseluruhan keterampilan intelektualnya, lebih daripada sekedar bersandar pata hasil tes intelegensi. Mereka yang sukses adalah orang-orang yang mengetahui apa kekuatan dan kelemahan mereka. Mereka adalah orang-orang yang menggarisbawahi kekuatan dengan memperbaiki kelemahan-kelemahan. Orang-orang yang memiliki kecerdasan kesuksesa itu sadar bahwa tiak ada satupun manusia yang serba prima[22].

Adapun ciri-ciri orang-orang memiliki kecerdasan kesuksesan tersebut ada 20, yakni sebagai berikut:

  • Terampil memotivasi diri sendiri dan lingkungannya.
  • Belajar mengontrol impuls mereka
  • Mengetahui kapan mereka harus tekun dan gigih
  • Memahami bagaimana memanfaatkan keseluruhan kemampuan mereka
  • Mampu menerjemahkan pikiran kepada tindakan
  • Memiliki orientasi produk
  • Menyempurankan pelaksanaan tugas
  • Menjadi inisiator
  • Tidak takut terhadap resiko kegagalan
  • Tidak menagguh-nangguhkan hal-hal yang harus diselesaikan
  • Siap menerima kecaman
  • Menolak menyesali diri
  • Independen
  • Berusaha mengatasi kesulitan pribadi
  • Fokus dan berkonsentrasi dalam mencapai tujuan mereka
  • Menyebarkan informasi siapa saja
  • Memiliki kemampuan untuk menunda kesenangan hidup
  • Mampu melihat “hutan” dan “pohon”
  • Memiliki keyakinan diri
  • Seimbang dalam kecerdasan analitis, kreatif, dan praktis[23]

Untuk menjadi seorang yang cerdas dan sukses, seseorang harus berpikir dengan tiga cara yang berbeda: analitis, kreatif dan praktis. Ketiga aspek kecerdasan kesuksesan tersebut saling berhubungan. Kecerdasan analitis diperlukan untuk memecahkan masalah dan menilai gagasan. Kecerdasan kreatif diperlukan untuk memformulasikan masalah dan gagasan yang baik. Sedangkan kecerdasan praktis digunakan untuk menggunakan gagasan dan analisis-analisisnya dengan cara yang efektif dalam kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan kesuksesan itu paling efektif ketika ia menyeimbangkan ketiga aspek analitis, kreatif, dan praktis. Adalah lebih penting untuk mengetahui kapan dan bagaimana menggunakan aspek-aspek kecerdasan kesusesan ini daripada memilikinya. Orang-orang yang memiliki kecerdasan kesuksesan tidak hanya memiliki kemampuan-kemampuan saja. Tetapi mereka juga berpikir kapan dan bagaimana mereka harus menggunakan dengan efektif kemampuan-kemampuan tersebut. Untuk lebih memahami tentang tiga aspek kecerdasan kesuksesan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut:

No Aspek Definisi Ciri-ciri
1. Kecerdasan analitis Melibatkan arah sadar proses mental dalam menemukan sebuah pemecahan masalah dengan berpikir secara mendalam 1)  Pengenalan masalah2)  Pendefinisian masalah

3)  Perumusan strategi pemecahan

4)  Representasi informasi

5)  Alokasi sumberdaya

6)  Monitoring dan evaluasi

2. Kecerdasan kreatif Sebuah proses yang menuntut keseimbangan dan aplikasi dari ketiga aspek esensial kecerdasan analitis, kreatif, dan praktis, beberapa aspek yang digunakan secara kombinatif dan seimbang akan melahirkan kecerdasan kesuksesan 1)  Berpikir dari segala arah2)  Berpikir ke segala arah

3)  Memiliki fleksibilitas intelektual

4)  Orisinalitas

5)  Lebih menyukai kompleksitas dari pada simplisitas

6)  Kecakapan dalam banyak hal

3. Kecerdasan praktis Kecerdasan yang harus digunakan untuk menghadapi tugas-tugas kehidupan nyata 1)   Pengetahuan tentang diri2)   Motivasi diri

3)   Kesadaran diri

4)   Pengorganisasian diri

5)   Kemampuan adaptasi

Tabel. 2.5 Tiga Aspek Kecerdasan Kesuksesa menurut Sternberg (dalam Agus Efendi)

 

 

BAB III

PEMBAHASAN

 

  • Faktor Intelektual/Kecerdasan Intelegensi

Faktor intelektual dalam proses belajar berperan dalam proses belajar terutama dalam aspek kognitif seperti hasil nilai ulangan harian, dan nilai ujian semester. Dari hasil penelitian sederhana terhadap satu kelas di SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti terdapat perbedaan tingkat kecerdasan intelegensi (IQ). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:

No Nama Kecerdasan (IQ) NILAI
Skor Klasifikasi UH 1 UH 2
1 Achnaf Feraldi Haswandy 78 Borderline 60 83
2 Adelia Rosa 142 sangat superior 95 92
3 Amirah Salwa 96 Rata-Rata 80 73
4 Andika Rifqi Fadilla 87 dibawah rata2 65 85
5 Atika Lersia 104 rata-rata 77.5 96
6 Eka Miftahul Jannah 92 Rata-rata 67.5 83
7 Febby Christalya 103 rata-rata 80 66
8 Khoirunissa 103 Rata2 52.5 80
9 M. Al-Kautsar 61 Intellectual def. 47.5 62
10 M. Andre Mellanio Taradong 81 Dibawah Rata2 37.5 37
11 Maharani Hidayatul Munawwarah 124 Superior 80 87
12 Muhammad Alief Za’id Fadlullah 79 Borderline 42.5 68
13 Muhammad Maulana Fikhri 81 Dibawah Rata2 72.5 61
14 Muhammad Rafi 107 rata-rata 65 82
15 Muhammad Tri Haikal Akbar Ananda 85 Dibawah Rata2 77.5 87
16 Nafri Dwi Boy 125 superior 80 81
17 Naufal Dimas Athif 94 Rata2 57.5 75
18 Octarium Bima Wicaksana Putra P 103 Rata-Rata 82.5 82
19 Panji Prasetyo 106 Rata-Rata 55 82
20 Rizky Aditya Pratama 78 Borderline 82.5 72
21 Tegar Revolta Tanzil 110 di ata rata2 67.5 86
22 Vini Alfionika 70 Borderline 82.5 85
23 Windo Rifaldo 94 Rata-Rata 52.5 74
24 Zyahrul Zyahrizal Tanjung 113 diatas rata-rata 50 73

Tabel 3.1 Hasil Tes IQ siswa sumber data hasil tes psikologi PPDB 2014

Berdasarkan data di atas jika dianalisi menggunakan uji rata-rata dengan menggunakan korelasi produk momen dari pearson dengan rumus sebagai berikut :

 

 

Maka diperoleh nilai adalah 0.48 dengan hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa sifat hubungan antara faktor intelegensi dengan nilai hasil belajar adalah sedang. Dengan hasil positif maka dapat diartikan semakin tinggi skor IQ seseorang maka semakin tinggi pula nilai ulangan hariannya. Untuk mengetahui makna hasil perhitungan yaitu angka ± 1 berarti bahwa kedua variabel memiliki hubungan yang sempurna (perfect relationship), dan angka 0,00 berarti bahwa kedua variabel tidak memiliki hubungan sama sekali. 0,001 – 0,20 mewakili hubungan yang sangat lemah, 0,21 – 0,40 mewakili hubungan yang lemah, 0,41 – 0,60 sedang, 0,61 – 0,80 kuat, dan 0,81 – 0,99 sangat kuat.

 

  • Faktor Kecerdasan Emosional

Tentang pentingnya memahami kecerdasan emosional, Goleman menjelaskannya melalui kasus berikut ini: Moor dan Sinkler adalah siswa SMA Thomas Jefferson, di Broolyn, Amerika Serikat. Moore yang kelas tiga dan Sinkler yang kelas dua itu memiliki sobat yang berumur 15 tahun, namanya Khalil Sumter. Moore dan Sinkler sering menjahili Sumter. Karena jengkel dan sering mendapatkan ancaman mereka, akhirnya Sumter bertengkar dengan mereka. Suatu pagi, karena takut dipukuli oleh Moore dan Sinkler, maka Sumter membawa sepucuk pistol kaliber 0.38 ke sekolah. Lalu, lima meter dari seorang penjaga sekkolah, ia menembak Moore dan Sinkler di lorong sekolah dari jarak dekat. Moore dan Sinkler tewas.

Peristiwa yang betul-betul mengerikan itu, kata Goleman dapat dibaca sebagai pertanda amat dibutuhkannya cara menangani emosi, menyelesaikan pertengkaran secara damai, dan bergaul biasa. Para pendidik yang biasanya mencemaskan nilai buruk anak-anak dalam bidang matematika dan membaca, mulai menyadari bahwa ada kekurangan lain yang lebih mencemaskan yakni, buta emosi.

Kasus lain yang mengisahkan tentang pentingnya kecerdasan emosional pernah dikemukakan oleh Daniel Goleman adalah kasus Jason seorang siswa kelas dua di SMA Cola Spring Florida Amerika Serikat. Ia bercita-cita masuk fakultas kedokteran. Bahkan ia pun memimpikan untuk masuk fakultas kedokteran Universitas Harvard, sebuah universitas paling bergengsi di Amerika Serikat. Tetapi malang, ketika mengikuti tes fisika di SMA-nya, gurunya David Pologruto hanya memberi Jason nilai 80 atau B. Karena tidak memperoleh nilai A, Jason merasa cita-citanya tidak akan tercapai.

Suatu saat ketika Jason bertengkar dengan gurunya tersebut, di laboratorium fisika. Mereka berkelahi. Dalam perkelahian itu Jason menusuk tulang selangka gurunya dengan sebuah pisau dapur yang dibawanya. Jason kabur, tapi dengan susah payah, akhirnya tertangkap. Kasus Jason disidangkan di pengadilan.

Di pengadilan, ternyata Jason dinyatakan tidak bersalah oleh hakim. Alasannya, karena pada saat menusuk gurunya ia dianggap gila. Empat psikolog dan psikiater pun bersumpah, bahwa Jason gila selama perkelahian tersebut. Jason bebas, meski Pologruto mengatakan, “Saya rasa ia betul-betul mencoba membunuh saya dengan pisau itu karena amat marah atas nilai tersebut.” Setelah sidang Jasong pindah sekolah. Ia masuk SMA swasta dan ia lulus dalam waktu dua tahun, bahkan menjadi juara kelas. Ia memperoleh nilai rata-rata A bahkan A plus. Namun, meski Jason lulus dengan nilai terbaik, guru fisika lamanya, David Pologruto mengeluh bahwa Jason tak pernah minta maaf atau mau bertanggung jawab atas serangan itu.

Kedua kasus di atas membuktikan bahwa kecerdasan emosional memiliki peran yang sangat vital dalam keberhasilan seseorang. Dalam kehidupan sehari-hari banyak orang-orang pintar tapi emosional justru menjadi orang yang gagal. Kembali kepada hasil tes IQ siswa kelas X IIS 1, terdapat seorang siswa yang bernama Zyahrul memiliki IQ diatas rata-rata dengan skor 113 namun dari dua kali ulangan yang dilaksanakan ia tidak pernah tuntas. Padahal kemampuan akademisnya baik. Setelah penulis amati ternyata siswa ini tidak cerdas secara emosional. Selama proses belajar ia sering kali menunjukkan tempramennya yang keras dengan wajah yang tidak bersahabat kepada guru yang mengajar. Bukan hanya itu celetukan dan celotehan yang ia kemukakan seolah-olah ingin menunjukkan kehebatannya atau kepintarannya kepada orang lain. Ketika mendapatkan teguran dari guru karena ia melakukan suatu kesalahan ia tidak menunjukkan rasa bersalah sedikitpun. Pada suatu ketika dalam pelajaran penulis mencoba menampilkan sebuah tayangan yang sangat menyentuh tentang jasa orang tua. Ketika menyaksikan tayangan itu mayoritas siswa menangis terharu menyaksikannya. Namun siswa tersebut tidak menunjukkan sedikitpun rasa sedih malah ia menertawakan tayangan tersebut. Dari berbagai fakta itulah penulis menyimpulkan bahwa siswa ini secara emosional tidak cerdas.

  • Kecerdasan Spiritual

Kasus mengenai SQ adalah kecerdasan untuk menghadapi persoalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna dibandingkan dengan yang lain.  Dengan kata lain, SQ adalah kecerdasan yang berperan sebagai landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. Bahkan SQ merupakan kecerdasan tertinggi dalam diri kita. Dari pernyataan tersebut, jelas SQ saja tidak dapat menyelesaikan permasalahan, karena diperlukan keseimbangan pula dari kecerdasan emosi dan intelektualnya. Jadi seharusnya IQ, EQ dan SQ pada diri setiap orang mampu secara proporsional bersinergi, menghasilkan kekuatan jiwa-raga yang penuh keseimbangan. Dari pernyataan tersebut, dapat dilihat sebuah model ESQ yang merupakan sebuah keseimbangan Body (Fisik), Mind (Psikis) and Soul (Spiritual).

Kecerdasan spiritual ini adalah kecerdasan yang mengangkat fungsi jiwa sebagai perangkat internal diri yang memiliki kemampuan dan kepekaan dalam melihat makna yang ada di balik kenyataan apa adanya ini. Kecerdasan ini bukan kecerdasan agama dalam versi yang dibatasi oleh kepentingan-pengertian manusia dan sudah menjadi terkapling-kapling sedemikian rupa. Kecerdasan spiritual lebih berurusan dengan pencerahan jiwa. Orang yang ber-SQ tinggi mampu memaknai penderitaan hidup dengan memberi makna positif pada setiap peristiwa, masalah, bahkan penderitaan yang dialaminya. Dengan memberi makna yang positif itu, ia mampu membangkitkan jiwanya dan melakukan perbuatan dan tindakan yang positif.

Seseorang yang mempunyai tingkat kecerdasan spiritual (SQ) tinggi cenderung menjadi seorang pemimpin yang penuh pengabdian, yaitu seseorang yang bertanggungjawab untuk membawakan visi dan nilai yang lebih kepada orang lain dan memberikan petunjuk penggunaannya. Dengan kata lain seseorang yang memberi inspirasi kepada orang lain.

Tindakan atau langkah seseorang yang memiliki SQ yang tinggi adalah langkah atau tindakan yang mereka ambil menyiratkan seperti apa dunia yang mereka inginkan ini adalah perjalanan dari pengertian (awareness) menuju kesadaran (consciousness). Sogyal Rinpoche mengatakan dalam The Tibet an Book of Living and Dying, “Spiritualitas sejati adalah menjadi sadar bahwa bila kita saling tergantung dengan segala sesuatu dan semua orang lain, bahkan pikiran, kata dan tindakan yang paling kecil dan tak penting memiliki konsekuensi nyata di seluruh alam semesta”. Semua individu SQ yang tahu mengapa mereka melakukan apa yang mereka lakukan, selalu bertindak dari misi yang sama, untuk membawa tingkat-tingkat baru kecerdasan dalam dunia. Orang membutuhkan perkembangan “kecerdasan spiritual (SQ)” untuk mencapai perkembangan diri yang lebih utuh.

  • Kecerdasan Kesuksesan

Sebuah ilustrasi dikemukakan oleh Sternberg tentang dua orang anak yang berjalan-jalan di sebuah hutan. Kedua anak tersebut memiliki sikap yang berbeda. Anak pertama, menurut guru dan orang tuanya, cara berpikirnya cerdas. Oleh karena itu, anak itu pun berpikir bahwa dirinya cerdas. Dia memiliki skor IQ yang baik, dan di kelas menjadi juara.

Anak yang kedua, menurut beberapa orang, juga cerdas meskipun skor tes IQ nya tidak tinggi. Begitu juga peringkatnya di kelas. Paling tidak, orang-orang menyebutnya street smart. Selanjutnya sewaktu kedua anak tersebut berjalan-jalan di hutan tiba-tiba mereka menghadapi masalah yang cukup serius, seekor beruang yang besar, lapar dan bermata ganas, menghadang mereka. Menghadapi kenyataan tersebut, anak pertama segera berpikir bahwa dalam 17 menit lagi beruang yang bermata ganas itu akan menerkam mereka. Ia segera panik. Dalam keadaan seperti itu, anak tersebut melirik kepada temannya, anak yang kedua. Anak kedua tersebut terlihat biasa-biasa saja, sambil melepas sepatu hikingnya. Menyaksikan hal itu, anak pertama bertanya kepada anak yang kedua: “Kamu ini gila. Kita tidak mempunyai cara untuk lari dari beruang ganas itu.” “Betul, tapi yang harus aku lakukan adalah bagaimana caranya menyelematkan kamu.”

Cerita di atas mengilustrasikan bagaimana kedua anak tersebut sama-sama cerdas tapi masing-masing memiliki kecerdasan yang berbeda. Anak pertama mampu dengan cepat menganalisa masalah. Anak yang kedua juga sama. Dia tidak hanya sadar dengan menghadapi masalah tapi ia juga terampil dengan solusi yang kreatif dan praktis. Kecerdasan anak yang kedua itulah yang menunjukkan kecerdasan kesuksesan.

Kasus yang pernah ditemui oleh penulis adalah seorang pemuda berusia 23 tahun yang semasa SMA merupakan murid penulis, pemuda tersebut bernama Ade. Secara akademis, Ade tidak terlalu menonjol bahkan tergolong rata-rata. Di saat siswa-siswi yang tergolong cerdas masuk ke universitas-universitas ternama, Ade hanya berkuliah di salah satu universitas swasta di yogyakarta. Meskipun demikian tidak menyurutkan langkah Ade untuk menjadi seorang yang sukses. Sambil kuliah ia merintis usaha tour dan travel dengan menawarkan paket-paket liburan ke sekolah-sekolah dan masyarakat umum. Kini di usianya yang ke-23 Ade sudah menjadi seorang pengusaha yang cukup sukses. Dengan omset puluhan juta perbulan dan memperkerjakan puluhan orang sebagai staff di biro travel tersebut. Sedangkan di saat yang sama, teman-temannya yang memiliki kemampuan akademis yang cukup baik, hanya berprofesi sebagai staf biasa bahkan masih banyak yang belum bekerja. Kasus ini membuktikan bahwa untuk sukses modal IQ saja tidak cukup yang terpenting adalah kecerdasan kesuksesan dengan cirinya mampu menganalisis, memiliki kreativitas dan terampil mempraktekkannya.

Kasus lain yang pernah penulis temui adalah seorang pramugari maskapai penerbangan ternama di Indonesia yaitu Garuda Airlines. Pramugari tersebut adalah murid penulis di salah satu SMA di kabupaten Batanghari. Secara akademis ia tidak terlalu pintar dan secara fisik juga tidak terlalu cantik untuk ukuran seorang pramugari. Beberapa tahun yang lalu, ia menceritakan kepada penulis bahwa sempat mengikuti seleksi untuk menjadi pramugari namun gagal. Untuk mengisi waktu ia bekerja di salah satu konter telepon seluler di Muara Bulian. Waktu itu ia menceritakan bahwa seorang siswi dari sekolah yang sama berhasil menjadi pramugari setelah mengikuti pendidikan pramugari di salah satu sekolah tinggi di Jakarta. Namun baiya untuk mengikuti pendidikan tersebut sangat mahal, sehingga ia tidak bisa mengikuti pendidikan di sana. Tapi keterbatasan dana tersebut tidak membuatnya patah semangat dan mengurungkan niat untuk menjadi seorang pramugari. Berkat keinginan untuk sukses yang sangat tinggi, ia terus mencoba untuk mengikuti seleksi meskipun tanpa bekal pendidikan pramugari. Tahun ini pada usia yang relatif muda ia telah suskses menjadi seorang pramugari dengan gaji jutaan rupiah dan berhasil berkeliling ke beberapa negara di dunia.

 


 

BAB IV

PENUTUP

 

  • Kesimpulan

Dalam belajar selama ini faktor yang selalu diperhatikan hanyalah faktor intelektual saja yang dibuktikan dengan hasil tes skor IQ. Berdasarkan hasil tes inilah siswa dikelompokkan dan guru selalu memperhatikan siswa berdasarkan skor IQ tersebut. Namun sangat disayangkan karena faktor IQ menurut para ahli hanya menyumbang 20% bagi keberhasilan seseorang. Terdapat faktor-faktor lainnya yang selama ini diabaikan tapi justru sangat berpengaruh terhadap kesuksesan seseorang.

Faktor tersebut seperti faktor kecerdasan emosional, spiritual dan kesuksesan. Sadar akan pentingnya ketiga faktor ini maka dalam implementasi kurikulum 2013 yang diutamakan adalah afektif dengan indikator sikap religius dan sikap sosial yang menunjukkan kecerdasan spiritual dan kecerdasan emosional. Setelah afektif barulah dua kemampuan lainnya yaitu kemampuan kognitif dan kempuan psikomotor yang diperhatikan.

Sebagaimana yang termaktub dalam UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sisdknas: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepriadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya masyarakat, bangsa dan negara”. “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.”

Berdasarkan keterangan di atas sudah menjadi kewajiban bagi pendidik untuk tidak hanya memperhatikan aspek intelektual dalam belajar karena jika ditinjau dari undang-undang sisdiknas tersebut dapat diketahui bahwa tujuan pendidikan nasional dengan jelas telah menghimpun berbagai macam kecerdasan di dalamnya. Oleh karena itu janganlah proses pembelajaran yang dilangsungkan hanya untuk mengejar aspek kognitif saja dengan mengabaikan faktor-faktor lainnya seperti kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual dan kecerdasan kesuksesan.

  • Saran

Hendaknya dalam proses belajar metode yang digunakan bervariasi sesuai dengan berbagai macam kecerdasan yang akan dikembangkan. Terdapat berbagai macam jenis kecerdasan yang dimiliki oleh siswa oleh karena itu pendidik jangan terlalu menekankan pada aspek kecerdasan intelektual saja. Kecerdasan yang lain seperti kecerdasan emosional, kecerdasan spiritual, dan kecerdasan kesuksesan juga harus diperhatikan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Amstrong, Thomas. 1994. Multiple Intelligences in the Classroom. Alexandria Virginia: ASDC

Efendi, Agus. 2005. Revolusi Kecerdasan Abad 21. Bandung: Alfabeta.

English, Evelyn William. 2005. Mengajar dengan Empati. Bandung: Nuansa

Hall, Carol. 2005. Human Learning an Holistic Approach-Emotional intelligence and experiantal learning. New York: Routledge

Uno, Hamzah. 2008. Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran. Jakarta: Bumi Aksara

Yamin, Martinis. 2013. Paradigma Baru Pembelajaran. Jakarta: Referensi

 

[1] Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, (Bandung: Alfabeta, 2005) hlm. 98.

[2] Ibid. hlm 99

[3] Julie Viens dan Silja Kalenbach, Human Learning an Holistic Approach (New York: Routledge). 2005. hlm51

[4] Mohammad Asrori, Psikologi Pembelajaran, (Bandung: CV Wacana Prima, 2009)hlm. 48.

[5] Sunarto & Hartono, (Perkembangan Peserta Didik.Jakarta: PT.Asdi Mahasatya,2006) hlm 99.

[6] Ibid. hlm 99

[7] Agus Efendi, Revolusi Kecerdasan Abad 21, (Bandung: Alfabeta, 2005) hlm. 83.

[8] Hamzah Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) hlm. 59.

[9] Ibid., hlm 59

[10] Ibid., hlm 50

[11] Thomas Amstrong, Multiple Intelligences in the Classroom (Alexandria, Virginia: ASDC 1994) hlm 2 -3.

[12] Evelyn William English, Mengajar dengan Empati (Bandung: Nuansa, 2005) hlm.53

[13] Ibid. hlm 125.

[14] Ibid. hlm 143.

[15] Ibid. hlm 162.

[16] Ibid. hlm 180.

[17] Hamzah Uno, Orientasi Baru dalam Psikologi Pembelajaran, (Jakarta: Bumi Aksara, 2008) hlm. 68.

[18] Carol Hall, Human Learning an Holistic Approach-Emotional intelligence and experiantal learning (New York: Routledge). 2005. Hlm 142

[19] Ibid. hlm 66.

[20] Ibid. hlm 240

[21] Ibid. hlm 241

[22] Ibid. hlm 255.

[23] Ibid. hlm 256.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s