Tugas Mid Semester Psikologi Pendidikan


Capture9

 

Tinjauan Pelaksanaan Pembelajaran K-13 Di Sekolah

Cara Pembuatan RPP

Masalah yang ditemui dalam pembuatan RPP berdasarkan hasil survei sederhana yang dilakukan di SMAN Titian Teras H. Abdurrahman Sayoeti diantara:

  1. Perubahan aturan yang begitu cepat

Perubahan permen yang terlalu cepat sehingga secara psikologis guru belum berhasil menyesuaikan diri dengan aturan pembuatan RPP yang baru, namun aturan terbaru sudah dikeluarkan. Pada Permendikbud no 65 tahun 2013 di dalam komponen RPP terdapat tujuan pembelajaran dan indikator yang dijabarkan hanya indikator dari KD 3 dan KD 4 sedangkan untuk indikator dari KD 1 dan KD 2 tidak perlu dijabarkan. Kemudian keluar aturan terbaru yaitu Permendikbud nomor 103 tahun 2014 yang menjelaskan bahwa dalam komponen RPP tidak terdapat tujuan pembelajaran. Sedangkan untuk penjabaran indikator, semua indikator baik dari KD 1, 2, 3, dan 4 semuanya harus dijabarkan. Dampak dari perubahan yang begitu cepat ini diantaranya banyak guru yang belum memahami pembuatan RPP berdasarkan aturan yang lama yaitu no. 65 tahun 2013. Dalam keadaan seperti itu mereka kembali harus menyesuaikan dengan aturan yang baru yaitu Permendikbud no. 103 tahun 2014. Keadaan ini menimbulkan ambiguitas diantara para guru, karena belum maksimalnya pemahaman mereka tentang permendikbud yang ada. Dari hasil survei secara sederhana terlihat bahwa RPP yang dibuat oleh guru masih banyak yang berpedoman pada aturan yang lama yaitu permendikbud no. 65 tahun 2013.

  1. Komponen dan sistematika RPP

Masalah yang ditemui dalam pembuatan RPP khususnya yang berkenaan dengan komponen dan sistematika RPP adalah pemahaman yang kaku terhadap permendibud no. 103 tahun 2004. Dalam lampiran permendikbud tersebut dijelaskan bahwa dalam kegiatan ini terdiri dari kegiatan 5 M yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan informasi, menalar/mengasosiasi dan mengkomunikasikan. Namun pada bagian selanjutnya dijelaskan bahwa setiap langkah pembelajaran dapat digunakan berbagai metode dan tehnik pembelajaran. Dapat diartikan bahwa guru dapat menggunakan metode dan tehnik pembelajaran yang berbeda sehingga langkah-langkah pembelajaran dalam RPP tidak harus selalu berisi kegiatan 5 M tersebut. Dalam praktek yang terjadi semua RPP yang dibuat oleh guru kegiataan intinya selalu berisikan kegiatan 5 M padahal mereka menggunakan model pembelajaran yang berbeda-beda. Seharusnya guru melakukan analisis sintaks (langkah-langkah) dalam suatu model pembelajaran yang disesuaikan dengan kegiatan 5 M. Sehingga dari hasil analisis tersebut dapat terlihat suatu sintaks dapat digolongkan dalam kegiatan apa dari kegiatan 5 M.

  1. Memperhatikan perbedaan individu

Seharusnya RPP yang dibuat oleh guru harus memperhatikan perbedaan individu peserta didik. Berdasarkan teori psikologi setiap peserta didik memiliki keunikan tersendiri baik dari segi kepribadian, kecerdasaan, status sosial ekonomi, latar belakang budaya dan lain sebagainya. Sehingga dalam merancang RPP seorang guru harus memahami perbedaan-perbedaan tersebut sehingga RPP yang dirumuskan dapat mengakomodir perbedaan-perbedaan yang ada. Dengan demikian diharapkan dalam kegiatan pembelajaran semua peserta didik dapat berperan aktif dan dapat termotivasi untuk belajar sesuai dengan karakteristik mereka sendiri. Namun dari hasil survei sederhana yang dilakukan, guru masih kurang memperhatikan perbedaan individu tersebut. Masih banyak guru yang berasumsi bahwa peserta didik dianggap memiliki kemampuan yang sama. Sehingga RPP yang dihasilkan juga tidak memperhatikan perbedaan indiidu peserta didik tersebut.

  1. Berpusat pada peserta didik

RPP yang dibuat harus menciptakan kegiatan pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Secara psikologis peserta didik akan lebih berhasil dalam belajar jika mereka yang aktif belajar. Bukan guru yang aktif menjelaskan tetapi peserta didik itu sendiri yang aktif mengamati, menggali informarmasi, menanya, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan. Sehingga terciptalah proses belajar yang berpusat pada peserta didik bukan pada guru. Dalam kurikulum 2013 RPP yang dibuat harus berpusat pada peserta didik. Indikatornya dapat dilihat dari kegiatan 5 M yang harus dilaksanakan dalam setiap kegiatan belajar mengajar. Dengan demikian peserta didik yang aktif belajar bukan guru yang aktif berceramah. Dari hasil survei sederhana sebagian besar guru sudah melaksanakan pembuatan RPP yang berpusat pada peserta didik dengan indikator terintegrasinya kegiatan 5 M dalam kegiatan inti dalam RPP.

  1. Berbasis konteks

Dalam pembuatan RPP guru harus mengoptimalkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar. Menjadikan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar artinya belajar dimulai dari sesuatu yang dekat dengan peserta didik. Sehingga peserta didik lebih memahami lingkungannya sendiri dan dapat berinteraksi dengan baik dengan lingkungan sekitarnya. Namun dalam pembuatan RPP, aspek berbasis konteks ini masih kurang diperhatikan oleh guru. Indikatornya, guru lebih memperhatikan contoh-contoh kasus yang berasal dari internet dari pada contoh kasus dari lingkungan sekitar. Secara psikologis seharusnya peserta didik mengamati hal-hal yang ada di sekitarnya terlebih dahulu, kemudian baru mencoba membandingkan keadaan tersebut dengan keadaan di tempat lain dengan kondisi lingkungan yang berbeda. Tujuan dari pembuatan RPP yang berbasis konteks adalah untuk melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang ada. Sehingga peserta didik memahami nilai-nilai budaya lokal tersebut dan termotivasi untuk melestarikannya. Jika tidak dilakukan maka budaya lokal akan tergerus oleh arus globalisasi yang masuk ke Indonesia. Gencarnya arus globalisasi dalam segala bidang mengakibatkan tergesernya nilai-nilai budaya lokal dan digantikan oleh nilai-nilai global yang terutama sekali dipengaruhi oleh budaya barat. Secara psikiologis peserta didik lebih menggemari budaya luar tersebut dari pada budaya Indonesia. Perserta didik beranggapan bahwa budaya luar lebih “keren” dari pada budaya Indonesia. Untuk mengantisipasi hal ini diperlukan pembelajaran yang berbasis konteks yang sesuai dengan budaya lokal masyarakat setempat.

  1. Berorientasi kekinian

RPP yang dihasilkan oleh guru harus mampu menciptakan pembelajaran yang berorientasi pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan nilai-nilai kehidupan masa kini. Dengan semakin cepatnya perubahan yang terjadi dalam masyarakat, guru harus mampu mengikuti perubahan-perubahan tersebut dalam konteks perubahan yang bersifat progres. Jika perubahan yang terjadi membawa kepada kemunduran (regress) guru harus berusaha mengajak peserta didik memfilter perubahan yang terjadi sehingga peserta didik dapat berkembang secara optimal sesuai dengan kaidah nilai dan norma dalam masyarakat. Dari hasil survei sederhana yang dilakukan guru sudah memasukkan indikator ini dalam pembuatan RPP. Seperti mencoba mencari contoh-contoh baru yang terjadi dalam masyarakat melalui sumber-sumber belajar dari media cetak dan media elektronik yang baru saja terjadi dalam masyarakat.

  1. Proses Pembelajaran

Proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 harus menggunakan pendekatan saintifik yang terdiri dari kegiatan mengamati, menanya, menggali informasi, mengasosiasi, dan mengkominikasikan. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang berorientasi pada perolehan ilmu pengetahuan secara ilmiah. Dengan menggunakan pendekatan saintifik, diharapkan peserta didik memahami langkah-langkah metode ilmiah untuk mendapatkan suatu ilmu pengetahuan.

Langkah pertama dalam pendekatan saintifik adalah mengamati. Dalam kegiatan mengamati, peserta didik diberi kesempatan untuk melakukan pengamatan apakah terhadap suatu objek yang berbentuk gambar, tabel, grafik, video dan objek-objek lainnya. Aktivitas ini dapat dijelaskan menggunakan teori behavioristik dalam psikologi. Teori behavior menyatakan bahwa perilaku dapat dibentuk dengan proses stimulus, respon dan reinforcement. Proses penyajian gambar merupakan proses stimulus. Berdasarkan stimulus yang diberikan, peserta didik melakukan pengamatan. Kegiatan pengamatan merupakan respon yang diberikan atas stimulus tersebut.

Kemudian kegiatan selanjutnya adalah menanya. Dalam kegiatan menanya peserta didik diharapkan merumuskan suatu pertanyaan baik secara tertulis ataupun secara lisan berdasarkan hasil dari pengamatan yang dilakukan pada kegiatan pertama. Kegiatan menanya dapat dijelaskan dengan teori psikologi yaitu teori-teori kognitif. Menurut teori kognitif, proses belajar adalah proses internal yang terjadi dalam diri seseorang yang tidak dapat diamati oleh orang lain. Dalam kegiatan menanya, peserta didik perlu memikirkan suatu rumusan pertanyaan yang akan diajukan. Proses berfikir ini merupakan proses kognitif yang terjadi pada diri peserta didik itu sendiri.

Langkah selanjutnya adalah kegiatan menggali informasi atau mengeksplorasi. Mengeksplorasi bertujuan untuk mendapatkan informasi tentang materi yang dibahas. Informasi tersebut dapat diperoleh dari buku teks, buku referensi, majalah, koran, website dan lain sebagainya. Dalam kegiatan ini dibutuhkan keaktifan dari peserta didik untuk menemukan informasi yang relevan dengan materi yang dipelajari. Sehingga peserta didik tidak menunggu penjelasan dari guru akan tetapi mereka sendirilah yang aktif mencari. Kegiatan ini akan lebih efektif jika dilakukan secara berkelompok. Dengan belajar berkelompok akan terjadi interaksi antara peserta didik. Dengan interaksi tersebut diharapkan informasi yang didapatkan akan lebih banyak dan peserta didik dapat berdiskusi terlebih dahulu dalam menentukan informasi yang dibutuhkan.

Kegiatan yang keempat adalah mengasosiasi atau menalar. Mengasosiasi dapat dijelaskan dengan teori kognitif. Proses mengasosiasi terjadi di dalam diri individu. Sehingga proses ini tidak dapat diamati karena bersifat internal tersebut. Dalam kegiatan mengasosiasi ini peserta didik diharapkan dapat menghubungkan antara fakta yang diamati berdasarkan hasil observasi dengan konsep-konsep dan teori-teori yang diperoleh dari hasil eksplorasi. Proses mengasosiasi ini juga akan sangat efektif dilakukan secara berkelompok. Dengan belajar kelompok, peserta didik dapat berinteraksi dengan peserta didik lainnya, sehingga proses pembelajaran menjadi lebih bermakna dari interaksi tersebut.

Pada kegiatan terakhir adalah mengkomunikasikan. Dalam kegiatan ini peserta didik menyampaikan hasil dari pengamatan, pertanyaan, eksplorasi dan asosiasi yang dilakukan sebelumnya. Proses mengkomunikasikan ini juga lebih efektif jika dilakukan secara berkelompok. Kegiatan mengkomunikasikan ini dilakukan melalui diskusi kelompok sehingga ketika peserta didik dari suatu kelompok menyampaikan hasil diskusinya, kelompok lain memberikan tanggapan terhadap kelompok lainnya.

Adapun masalah-masalah yang terjadi dalam proses pembelajaran dalam kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:

  1. Dalam proses mengamati, guru menyajikan objek kepada peserta didik berupa gambar atau berupa video. Yang terjadi karena fasilitas sekolah tidak memadai, sehingga guru kesulitan dalam menyajikan gambar-gambar tersebut dalam format digital. Apalagi untuk menanyangkan video dibutuhkan fasilitas seperti LCD proyektor, perangkat audio, dan laptop. Jika fasilitas ini tidak ada maka guru harus membuat media pembelajaran berupa gambar yang sudah di tempelkan pada karton. Namun hasil gambar tersebut tidak optimal seperti gambar yang ditampilkan lewat LCD proyektor. Ketika gambar yang disajikan tidak begitu jelas, peserta didik akan mengalami kesulitan dalam kegiatan mengamati. Akibatnya kegiatan mengamati tidak berlangsung secara optimal.
  2. Dalam kegiatan menanya masalah yang terjadi adalah kurang aktifnya peserta didik dalam kegaitan tersebut. Hanya beberapa peserta didik saja yang mampu merumuskan pertanyaan yang baik dan benar. Kebanyakan peserta didik masih bersifat pasif dalam kegiatan pembelajaran. Ketika diminta untuk merumuskan pertanyaan masih banyak diantara mereka yang kebingungan bagaimana cara merumuskan pertanyaan tersebut. Berdasarkan teori ZPD dari Vygotski mereka perlu diberikan scaffolding (penyangga) agar dapat melakukan kegiatan menanya dengan benar. Guru memberi contoh pertanyaan terlebih dahulu, baru kemudian peserta didik dapat merumuskan pertanyaan berdasarkan contoh tersebut.
  3. Masalah dalam proses mengeksplorasi adalah kurangnya sumber-sumber belajar baik berupa buku cetak ataupun buku referensi. Sehingga peserta didik melakukan penggalian informasi hanya dari satu sumber saja. Akibatnya informasi yang diperoleh sangat sedikit dan jauh dari harapan untuk menghasilkan informasi yang sebanyak-banyaknya. Sebenarnya dalam proses eksplorasi peserta didik dapat memanfaatkan sumber belajar yang bermacam-macam dari sumber cetak sampai internet. Namun kendala yang dihadapi jika internet tidak ada maka peserta didik tidak dapat melakukan penggalian informasi dari internet. Sebaliknya yang terjadi jika internet telah tersedia di sekolah, tetapi peserta didik malah lebih tertarik untuk membuak facebook, youtube atau instagram dari pada menggali informasi yang berhubungan dengan materi pelajaran.
  4. Dalam proses mengasosiasi masalah yang sering ditemui adalah kurangnya pemahaman siswa peserta didik terhadap materi yang dipelajari sehingga dalam proses asosiasi peserta didik tidak dapat melakukannya secara optimal. Berdasarkan teori psikologi, proses asosiasi dapat dijelaskan dengan menggunakan teori konstruktivistik, dimana peserta didik mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Sehingga proses mengasosiasi tersebut dilakukan oleh individu itu sendiri berdasarkan kegiatan-kegiatan sebelumnya yaitu mengamati, menanya, dan mengeksplorasi.
  5. Masalah yang sering ditemui dalam proses mengkomunikasikan diantaranya, proses diskusi belum terlaksana dengan baik karena masih rendahnya kemampuan peserta didik dalam melaksanakan proses diskusi. Kondisi ini diperparah dengan kurang seriusnya peserta didik dalam melaksanakan diskusi tersebut.
  6. Materi Pembelajaran

Materi pelajaran merupakan bahan-bahan pelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Materi pelajaran harus disusun berdasarkan kompetensi inti, kompetensi dasar dan indikator yang tertera dalam silabus. Pada kurikulum 2013 semua kompetensi baik kompetensi inti dan kompetensi dasar sudah ditetapkan dari Kementrian Pendidikan, sedangkan indikator harus dikembangkan sendiri oleh guru berdasarkan atas kompetensi inti dan kompetensi dasar tersebut.

Dalam implementasi kurikulum 2013 masalah yang sering ditemui sehubungan dengan bahan ajar adalah sebagai berikut:

  1. Materi pembelajaran yang disiapkan baru untuk beberapa mata pelajaran yang tergolong dalam mata pelajaran wajib A dan wajib B. Diantaranya pelajaran Agama, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, Matematika, Sejarah, PKN, Seni, Penjas dan PKW. Sedangkan untuk mata pelajaran peminatan masih belum disiapkan.
  2. Pada mata pelajaran seperti sosiologi masih belum disiapkan sehingga guru masih kebingungan dalam menentukan bahan ajar yang akan disampaikan kepada peserta didik. Ditambah lagi dengan berubahnya komposisi kompetensi dasar dibandingkan dengan kurikulum sebelumnya. Pada kurikulum KTSP materi pelajaran dapat dengan mudah ditentukan karena mulai dari kompetensi dasar sampai dengan indikator sudah ditetapkan sebelumnya. Sehingga materi pembelajaran dapat dengan mudah ditentukan berdasarkan atas indikator tersebut. Sampai saat ini masih terjadi perdebatan diantara guru-guru sosiologi tentang materi pembelajaran yang akan disampaikan kepada peserta didik. Perdebatan ini disebabkan karena ada kompetensi dasar yang hilang dari kurikulum sebelumnya. Ditambah lagi dengan belum adanya buku yang ditetapkan dari pemerintah sehingga sampai saat ini belum ada solusi untuk mengatasi masalah tersebut.
  3. Secara psikologis peserta didik memiliki karakteristik yang berbeda-beda seperti perbedaan kepribadian, kecerdasan, latar belakang sosial budaya dan lain sebagainya. Bahan pembelajaran yang disampaikan harus menyentuh perbedaan-perbedaan tersebut. Dalam penyajian bahan pembelajaran kepada peserta didik harus memperhatikan karakteristik tersebut sehingga bahan pembelajaran yang disajikan dapat diserap dengan baik oleh peserta didik tersebut. Untuk memudahkan agar bahan pembelajaran tersebut dapat diterima dengan baik oleh para peserta didik maka bahan pembelajaran perlu disusun sesuai dengan silabus, dimulai dari materi yang termudah menuju materi yang sulit. Akan menjadi lebih bermakna jika bahan pembelajaran tersebut dikombinasikan dengan diagram, tabel, grafik dan gambar-gambar yang dapat menjelaskan bahan pembelajaran tersebut.
  4. Penilaian yang Dilakukan

Acuan tentang penilaian yang digunakan dalam kurikulum 2013 adalah penilaian autentik. Penilaian autentik (Authentic Assessment) adalah pengukuran yang bermakna secara signifikan atas hasil belajar peserta didik untuk ranah sikap, keterampilan, dan pengetahuan. Istilah Assessment merupakan sinonim dari penilaian, pengukuran, pengujian, atau evaluasi. Istilah autentik merupakan sinonim dari asli, nyata, valid, atau reliabel.

Secara konseptual penilaian autentik lebih bermakna secara signifikan dibandingkan dengan tes pilihan ganda terstandar sekali pun. Ketika menerapkan penilaian autentik untuk mengetahui hasil dan prestasi belajar peserta didik, guru menerapkan kriteria yang berkaitan dengan konstruksi pengetahuan, aktivitas mengamati dan mencoba, dan nilai prestasi luar sekolah. Penilaian autentik memiliki relevansi kuat terhadap pendekatan ilmiah dalam pembelajaran sesuai dengan tuntutan Kurikulum 2013. Penilaian tersebut mampu menggambarkan peningkatan hasil belajar peserta didik, baik dalam rangka mengobservasi, menalar, mencoba, membangun jejaring, dan lain-lain. Penilaian autentik cenderung fokus pada tugas-tugas kompleks atau kontekstual, memungkinkan peserta didik untuk menunjukkan kompetensi mereka dalam pengaturan yang lebih autentik. Penilaian autentik sangat relevan dengan pendekatan tematik terpadu dalam pembejajaran, khususnya jenjang sekolah dasar atau untuk mata pelajaran yang sesuai. Penilaian autentik sering dikontradiksikan dengan penilaian yang menggunakan standar tes berbasis norma, pilihan ganda, benar-salah, menjodohkan, atau membuat jawaban singkat. Tentu saja, pola penilaian seperti ini tidak diantikan dalam proses pembelajaran, karena memang lazim digunakan dan memperoleh legitimasi secara akademik. Penilaian autentik dapat dibuat oleh guru sendiri, guru secara tim, atau guru bekerja sama dengan peserta didik.

Dalam beberapa kasus, peserta didik bahkan berkontribusi untuk mendefinisikan harapan atas tugas-tugas yang harus mereka lakukan. Penilaian autentik sering digambarkan sebagai penilaian atas perkembangan peserta didik, karena berfokus pada kemampuan mereka berkembang untuk belajar bagaimana belajar tentang subjek. Penilaian autentik harus mampu menggambarkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan apa yang sudah atau belum dimiliki oleh peserta didik, bagaimana mereka menerapkan pengetahuannya, dalam hal apa mereka sudah atau belum mampu menerapkan perolehan belajar, dan sebagainya. Atas dasar itu, guru dapat mengidentifikasi materi apa yang sudah layak dilanjutkan dan untuk materi apa pula kegiatan remedial harus dilakukan.

Adapun jenis-jenis penilaian autentik adalah sebagai berikut : penilaian kinerja, penilaian proyek, penilaian portofolio dan penilaian tertulis.

  1. Penilaian kinerja Penilaian autentik sebisa mungkin melibatkan parsisipasi peserta didik, khususnya dalam proses dan aspek-aspek yang akan dinilai. Guru dapat melakukannya dengan meminta para peserta didik menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Berikut ini cara merekam hasil penilaian berbasis kinerja:
  • Daftar cek (checklist).
  • Catatan anekdot/narasi (anecdotal/narative records).
  • Skala penilaian (rating scale).
  • Memori atau ingatan (memory approach).
  1. Penilaian proyek Penilaian proyek (project assessment) merupakan kegiatan penilaian terhadap tugas yang harus diselesaikan oleh peserta didik menurut periode/waktu tertentu. Penyelesaian tugas dimaksud berupa investigasi yang dilakukan oleh peserta didik, mulai dari perencanaan, pengumpulan data, pengorganisasian, pengolahan, analisis, dan penyajian data. Berikut ini tiga hal yang perlu diperhatian guru dalam penilaian proyek.
  • Keterampilan peserta didik dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan.
  • Kesesuaian atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang dibutuhkan oleh peserta didik.
  • Keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh peserta didik.
  1. Penilaian portofolio Penilaian portofolio merupakan penilaian atas kumpulan artefak yang menunjukkan kemajuan dan dihargai sebagai hasil kerja dari dunia nyata. Penilaian portofolio bisa berangkat dari hasil kerja peserta didik secara perorangan atau diproduksi secara berkelompok, memerlukan refleksi peserta didik, dan dievaluasi berdasarkan beberapa dimensi. Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah seperti berikut ini.
  • Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio.
  • Guru atau guru bersama peserta didik menentukan jenis portofolio yang akan dibuat.
  • Peserta didik, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun portofolio pembelajaran.
  • Guru menghimpun dan menyimpan portofolio peserta didik pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya.
  • Guru menilai portofolio peserta didik dengan kriteria tertentu.
  • Jika memungkinkan, guru bersama peserta didik membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan.
  • Guru memberi umpan balik kepada peserta didik atas hasil penilaian portofolio.
  1. Tes tertulis berbentuk uraian atau esai menuntut peserta didik mampu mengingat, memahami, mengorganisasikan, menerapkan, menganalisis, mensintesis, mengevaluasi, dan sebagainya atas materi yang sudah dipelajari. Tes tertulis berbentuk uraian sebisa mungkin bersifat komprehensif, sehingga mampu menggambarkan ranah sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik.

Sedangkan masalah-masalah yang ditemui dalam implementasi penilaian kurikulum 2013 adalah sebagai berikut:

  1. Banyaknya instrumen penilaian yang harus diisi oleh guru sehingga tidak semua instrumen penilaian tersebut dapat diisi secara maksimal oleh guru. Setiap penilaian meliputi tiga ranah yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Tiap-tiap ranah memiliki beberapa instrumen tersendiri contohnya untuk ranah kognitif terdiri dari penilaian tugas, ulangan harian, mid semester dan ujian semester. Sedangkan untuk ranah afektif terdiri dari beberapa instrumen penilaian seperti jurnal, penilaian diri dan penilaian teman sejawat. Sedangkan untuk ranah psikomotor instrumen penilaian terdiri penilaian observasi, proyek dan produk. Dengan banyaknya instrumen penilaian yang harus diisi tidak semua penilaian dapat diisi oleh guru.
  2. Terjadinya perubahan yang terlalu cepat dalam proses penilaian. Pada peraturan awal yang dikeluarkan oleh pemerintah, untuk skor penilaian kognitif masih menggunakan range nilai 1 – 100. Namun pada permendikbud no 104 tahun 2014 range nilai untuk penilaian kognitif tidak lagi menggunakan skala 100 akan tetapi skala 1 – 4. Demikian pula rentang nilai predikat juga mengalami perubahan dari permendikbud sebelumnya. Penilaian Acuan Kriteria: penilaian kemajuan peserta didik dibandingkan dengan kriteria capaian kompetensi yang ditetapkan. Acuan Kriteria menggunakan modus untuk sikap, rerata untuk pengetahuan, dan capaian optimum untuk keterampilan. Modus untuk ketuntasan kompetensi sikap ditetapkan dengan predikat Baik. Skor rerata untuk ketuntasan kompetensi pengetahuan ditetapkan paling kecil 2,67. Capaian optimum untuk ketuntasan kompetensi keterampilan ditetapkan paling kecil 2,67.
  3. Hasil survei sederahana yang dilakukan masih banyak guru yang belum memahami tentang penilaian dalam kurikulum 2013 sehingga nilai yang dihasilkan oleh guru masih menggunakan range nilai 1 – 100. Hal ini disebabkan oleh kurangnya pemahaman guru terhadap penilaian tersebut. Dalam permendikbud no 104 tahun 2014 penilaian mulai dari ulangan harian, ujian mid semester dan ujian semester harus menggunakan range nilai 1 – 4. Namun yang terjadi di lapangan nilai-nilai tersebut masih menggunakan standar penilaian yang lama.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s