Tugas Ujian Semester Filsafat Ilmu


Capture2

Pertanyaan 1

Filsafat secara umum

Secara umum Harold H. Titus dalam buku Ilmu, Filsafat dan Agama mengemukakan bahwa filsafat adalah satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta, filsafat ialah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan akliah, dan filsafat adalah suatu sistem pemikiran. Alfarabi seorang filosof muslim terbesar dalam buku yang sama menyatakan bahwa filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya. Herderson dalam buku pengantar filsafat pendidikan mengatakan bahwa filsafat mencoba mengajarkan suatu konsep tentang alam semesta secara sistematis dan inklusif dimana manusia bearada di dalamnya. Oleh karena itu, filosof lebih sering menggunakan intelegensi yang tinggi dibandingkan dengan ahli sains dalam memecahkan masalah-masalah hidupnya. Dalam buku yang sama Sidi Gazalba menjelaskan bahwa berfilsafat merupakan berfikir yang memiliki tiga ciri yaitu radikal, sistematis dan universal. Berfikir radikal, berfikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai pada konsekuensi yang terakhir. Berfikir itu tidak separuh-separuh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai ke ujungya. Berfikir sistematis adalah berfikir logis, bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan saling hubungan yang teratur. Berfikir universal tidak berfikir khusus, yang hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup keseluruhan. Dalam Alquran dan budaya Arab terdapat istilah hikmat yang berarti arif atau bijak. Filsafat itu sendiri bukan himat, melainkan cinta yang sangat mendalam terhadap hikmat. Dengan pengertian tersebut, maka filosof ialah orang yang mencintai dan mencari hikmat dan berusaha mendapatkannya. Menurut Al-Syaibani dalam buku Pengantar Filsafat Pendidikan, hikmat mengandung kematangan pandangan dan pikiran yang jauh, pemahaman dan pengamatan yang tidak dapat dicapai oleh pengetahuan saja. Dengan hikmat filosof dapat mengatahui pelaksanaan pengetahuan dan dapat melaksanakannya. Al-Syaibani menjelaskan bahwa hikmat yang dicintai oleh filosof dan selalu berusaha mencapainya mengandung lima unsur yaitu universal, pandangan yang luas, cerdik, pandangan perenungan (meditatif, spekulatif) dan mengetahui pelaksanaan pengetahuan tersebut atau pengetahuan yang disertai dengan tindakan yang baik. Jadi, filosof atau orang arif memiliki pandangan yang serba mungkin. Ia tidak akan puas dengan satu aspek atau satu pengalaman saja. Filosof akan memperhatikan semua aspek pengalaman manusia. Ia memiliki keistimewaan, pandangannya luas sehingga memungkinkan ia melihat sesuatu secara menyeluruh, memperhitungkan tujuan yang seharusnya. Ia akan melampaui batas-batas yang sempit dari perhatian yang khusus dan kepentingan individual.

Filsafat ilmu:

Adalah sesuatu yang merupakan bagian dari epistimologi (hakekat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakekat ilmu tersebut. (pengetahuan ilmiah). Filsafat ilmu adalah sesuatu yang merupakan telaahan secara filsafat dengan maksud untuk menjawab beberapa pertanyaan mengenai hakekat ilmu. Dalam artian apa saja manfaat yang dihasilkan dari ilmu tersebut, apa tujuannya dan apa objek yang dikaji oleh ilmu tersebut. Yang terpenting apa yang membedakan antara ilmu tersebut dengan ilmu lainnya. Sebagai contoh ilmu sosiologi merupakan ilmu yang mengkaji proses-proses sosial dalam masyarakat seperti interaksi sosial. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang tergolong ilmu pengetahuan sosial karena objek kajiannya adalah masyarakat. Namun ilmu ini berbeda dengan ilmu antropologi. Dimana antropologi lebih memperhatikan aspek manusia dan kebudayaan. Relasi antara manusia dan kebudayaan merupakan objek sentral yang dikaji dalam ilmu antropologi. Bagaimana proses perkembangan suatu ilmu pengetahuan juga merupakan bahan kajian dari filsafat ilmu.

Filsafat menurut pendapat saya

Filsafat merupakan suatu proses berfikir secara mendalam, merenungkan sampai ke akar-akarnya tentang suatu fenoman baik itu fenomena alam, fenomena sosial, fenomena yang dialami secara pribadi dan lain sebagainya. Berfilsafat tidak sekedar merenung, namun berusaha untuk menelaan secara mendalam agar dapat mencapai hikmah dalam kehidupan.

Filsafat pertama kali muncul

Dalam buku Filsafat, Ilmu dan Agama dijelaskan bahwa pada zaman Homerus (kira-kira abad 9 sebelum masehi dan Hoseodos (kira-kira 700 sebelum masehi) telah terdapat kata sophia yang biasanya diberi arti kebijaksanaan; kata sophia tersebut pada waktu itu mempunyai arti kecakapan. Kata philosophein mulai dipergunakan Herodotus (kira-kira 485 sebelum masehi) dan berarti mencintai kebenaran. Kata philosophos mula-mula dikemukakan oleh Herakleitos (540-480 sebelum masehi). Sementara orang mengatakan bahwa kata tersebut mula-mula dipakai oleh pythagoras. Tetapi Herakleitos yang memberi arti lebih tepat. Menurut dia philosophos harus mempunyai pengetahuan luas sekali, sebagai pengejawantahan daripada kecintaannya akan kebenaran. Mulai benar-benar jelas ialah masa kaum sofis dan Socrates yang memberi arti sistematis daripada pengetahuan teori. Philosophia adalah hasil dari perbuatan yang disebut philosophein itu, sedangkan philosophos adalah orang yang melakukan philosophein. Dari kata philosopia timbul kata-kata philosophie (Belanda), philosophy (Inggris), dan filsafat (Indonesia). Muncul filsafat di Yunani karena orang Yunanilah yang mencoba mengembangkan istilah filsafat dan menggunakannya dalam konteks kehidupan sehingga filsafat kemudian dikenal ke seluruh dunia. Filosof Yunanilah yang menjadi pendidiri dari filsafat tersebut.

Bagaimana berfilsafat

Pendekatan filosofi yaitu suatu pendekatan untuk menelaah dan memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan menggunakan metode filsafat. Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan semata, yang hanya terbatas pada pengalaman. Dalam pendidikan akan muncul masalah-masalah yang lebih luas, kompleks dan lebih mendalam, yang tidak terbatas oleh pengalaman inderawi maupun fakta-fakta faktual, yang tidak mungkin dapat dijangkau oleh sains. Masalah-masalah tersebut diantaranya adalah tujuan pendidikan yang bersumber dari tujuan hidup manusia dan nilai sebagai pandangan hidup. Nilai dan tujuan hidup memang merupakan fakta, namun pembahasannya tidak bisa dengan menggunakan cara-cara yang dilakukan oleh sains, melainkan diperlukan suatu perenungan yang lebih mendalam.

Dalam buku pengantar filsafat pendidikan Uyoh Sadulloh mengemukakan bahwa terdapat tiga model bagaimana berfilsafat yaitu filsafat spekulatif, filsafat preskriptif, dan filsafat analitik. Filsafat spekulatif adalah cara berfikir sistematis tentang segala yang ada, merenungkan secara rasional-spekulatif seluruh persoalan manusia dengan segala yang ada di jagat raya ini dengan asumsi manusia memliki kekuatan intelektual yang sangat tinggi dan berusaha mencari dan menemukan hubungan dalam keseluruhan alam berfikir dan keseluruhan pengalaman Filsafat preskriptif berusaha untuk menghasilkan suatu ukuran (standar) penilaian tentang nilai-nilai, penilaian tentang perbuatan manusia, penilaian tentang seni, menguji apa yang disebut baik dan jahat, benar dan salah, bagus dan jelek. Nilai suatu benda pada dasarnya inherent dalam dirinya, atau hanya merupakan gambaran dari fikiran kita. Dalam konteks pendidikan, filsafat preskriptif memberi resep tentang perbuatan atau perilaku manusia yang bermanfaat. Filsafat analitik memusatkan pemikirannya pada kata-kata, istilah-istilah, dan pengertian-pengertian dalam bahasa, menguji suatu ide atau gagasan untuk menjernihkan dan menjelaskan istilah-istilah yang dipergunakan secara hati dan cenderung untuk tidak membangun suatu mazhab dalam sistem berfikir.

Perkembangan filsafat menjadi ilmu

Perkembangan filsafat menjadi ilmu pengetahuan dapat dijelaskan melalui gambar berikut ini.

 

 

 

 

 

 

 

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa semua ilmu berkembang atau berakar dari filsafat. Semua dimulai dari kesangsian, kekaguman, keheranan, dan keragu-raguan tentang segala sesuatu di alam semesta ini. Manusia adalah makhluk yang selalu bertanya karena rasa ingin tahu yang terdapat di dalam dirinya. Dengan rasa ingin tahu tersebut manusia merenung dan dalam perenungan itulah manusia mulai berfilsafat. Hasil dari filsafat tersebut kemudian diuji secara empiris sehingga menghasilkan teori. Dari teori inilah muncul ilmu pengetahuan. Setelah ilmu pengetahuan lahir muncul kesangisan, kekaguman, keheranan dan keragu-raguan yang baru. Untuk mengatasi hal itu manusia kembali berfilsafat. Hasil filsafat tersebut kemudian diuji, dieksperimenkan dan diteliti sehingga menjadi suatu teori. Dari teori inilah berkembang suatu ilmu pengetahuan yang baru. Seperti itulah proses perkembangan dari filsafat menjadi ilmu pengetahuan.

Sebagai contoh seorang ilmuan dari Prancis yang bernama Emile Durkheim merasa heran dengan banyaknya jumlah pelaku bunuh diri dari suatu agama tertentu. Dalam fikirannya ia bertanya mengapa hal ini bisa terjadi. Mengapa pemeluk agama katolik lebih banyak yang melakukan bunuh diri dari pada pemeluk agama protestan. Kemudian Durkheim mulai berfilsafat ia melihat bahwa ikatan sosial berupa norma-norma yang terdapat dalam agama katolik jauh lebih ketat dari pada protestan. Dengan demikian ikatan sosial ini membelenggu kehidupan penganut katolik. Sedangkan pada agama protestan ikatan sosialnya jauh lebih longga dari pada agama katolik. Hasil filsafat Durkheim ini kemudian diuji secara empiris. Ia melakukan penelitian ilmiah pada masyarakat Prancis yang memeluk agama katolik dan protestan. Dari hasil penelitian ini Durkheim merumuskan suatu teori tentang fakta sosial. Fakta sosial adalah sesuatu yang berada di luar individu yang bersifat eksternal, memaksa dan umum. Salah satu bentuk fakta sosial tersebut adalah solidaritas atau ikatan sosial dalam masyarakat. Dimana terdapat tiga jenis bunuh diri yaitu: Bunuh diri Egoistic, adalah suatu tindak bunuh diri yang dilakukan seseorang karena merasa kepentingannya sendiri lebih besar daripada kepentingan kesatuan sosialnya. Seseorang yang tidak mampu memenuhi peranan yang diharapkan (role expectation) di dalam role performance (perananan dalam kehidupan sehari-hari), maka orang tersebut akan frustasi dan melakukan bunuh diri.
Kemudian Bunuh diri Anomic yaitu bunuh diri yang terjadi ketika kekuatan regulasi masyarakat terganggu dimana terjadi ketidakjelasan norma-norma yang mengatur cara berpikir, bertindak dan merasa para anggota masyarakat, gangguan itu mungkin membuat individu merasa tidak puas karena lemahnya control terhadap nafsu mereka, yang akan bebas berkeliaran dalam ras yang tidak akan pernah puas terhadap kesenangan. Dan yang terakhir Bunuh diri Altruistic, dimana orang melakukan bunuh diri karena merasa dirinya sebagai beban dalam masyarakat. Contohnya adalah seorang istri yang melakukan bunuh diri yang telah ditinggal mati oleh suaminya. Serta juga bunuh diri yang dilakukan oleh orang Jepang “hara kiri”, yaitu bunuh diri yang dilakukan oleh anggota militer demi membela negaranya. Dari teori ini kemudian berkembanglah ilmu sosiologi yang mengkaji tentang fakta sosial yang berbeda dari ilmu psikologi yang mengkaji fakta individual.

Pertanyaan Nomor 2

Biasanya telaahan filsafat ilmu dibagi kedalam tiga kelompok yakni:

  1. Ontologi,
  2. epistemologi,
  3. Aksiologi.

Ontologi (teoretis). Ontologi adalah: cabang ilmu filsafat yang berhubungan dengan sifat makhluk atau kenyataan, untuk mencari hakekat apa yang dikaji oleh pengetahuan tersebut, cabang filsafat yg meletakan teori bahwa sesuatu itu ada, perlu dibuktikan, dan apakah itu sementara, mandiri, atau kondisonal. Serta apa yang dikaji oleh pengetahuan atau ia merupakan hakekat dari ilmu pengetahuan itu sendiri (akar dari ilmu). Ontologi hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan seper ti menjawab:

  • Objek apa yang ditelaah oleh ilmu,
  • Bagaimana wujud hakiki dari objek ilmu tersebut,
  • Bagaimana hubungan antara objek dg daya tangkap manusia seperti: berfikir, merasa, mengindera.

Contoh ontologi dalam ilmu sosiologi:

  • Objek apa yang ditelaah oleh ilmu, misalnya = Interaksi sosial antara individu dalam masyarakat
  • Bagaimana wujud hakiki dari objek ilmu tersebut, misalnya = Individu-individu yang saling berinteraksi.
  • Bagaimana hubungan antara objek dengan daya tangkap manusia seperti: berfikir, merasa, mengindera. Hubungannya manusia tidak dapat hidup sendiri melainkan membutuhkan individu lainnya karena manusia makhluk sosial.

Epistemologi merupakan: cara untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, suatu cabang filsafat tentang dasar-dasar dan batas-batas pengetahuan; Suatu makna (meaning) dari ilmu yang membentang kan apa dasar-dasar nalar yang digunakan. Apa yang diraihnya, apa keterbatasannya. Membicarakan pertanyaan: (Hamersma: 1999);

  1. Tentang kemungkinan pengetahuan;
  2. tentang batas-batas pengetahuan;
  3. Tentang asal, jenis pengetahuan;

Epistemologi hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti menjawab:

  1. Apa itu pengetahuan?
  2. Bagaimana cara menghasilkan pengetahuan?
  3. Apakah pengetahuan berasal dari pengamatan?
  4. Apakah pengetahuan berasal dari panca indera atau akal budi?
  5. Atau pengetahuan bersifat intuitif ?

Contoh Epistemologi ilmu sosiologi:

  1. Apa itu pengetahuan? Misalnya = Definisi, ciri, hekihat dan metode sosiologi
  2. bagaimana cara menghasilkan pengetahuan? Melalui pengamatan terhadap fakta, menyusu abstraksi dari hasil pengamatan, dan berdasarkan atas teori-teori yang sudah ada.
  3. Apakah pengetahuan berasal dari pengamatan? Ya, mengamati interaksi antara individu, mengamati fakta-fakta sosial dalam masyarakat.
  4. Apakah pengetahuan berasal dari panca indera atau akal budi? iya indera = interaksi antar individu
  5. Atau pengetahuan bersifat intuitif? Tidak.

Aksiologi. Pada hakekatnya aksiologi hendak menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti:

  1. untuk mempelajari apa nilai ilmu tersebut,
  2. untuk apa kegunaan ilmu tersebut,
  3. Keberadaan ilmu pengetahuan tersebut secara fungsional atas manfaat bagi kehidupan Manusia banyak.

Contoh aksiologi Ilmu Sosiologi:

  1. Untuk mempelajari apa nilai ilmu tersebut. Misal: negatif atau positif   untuk kehidupan manusia. Baik atau buruk untuk kehidupan manusia.
  2. Untuk apa kegunaan ilmu tersebut. Misal: membantu memecahkan masalah-masalah sosial (positif), membantu proses pembangunan agar lebih baik (positif), untuk mempengaruhi masyarakat agar bersikap sekuler (negatif).
  3. Keberadaan ilmu pengetahuan tersebut secara fungsional atas manfaat bagi kehidupan manusia. Misalnya dengan masalah sosial yang teratasi dengan baik kehidupan akan menjadi aman dan sejahtera. Dengan pembangunan masyarakat dapat menikmati kehidupan yang lebih baik.

Filsafat untuk sampai ke ilmu dapat dipelajari melalui bantuan metode ilmiah, maksudnya metode ilmiah berfungsi sebagai sarana untuk mencapai ilmu pengetahuan. Dimana metode ilmiah memiliki langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Merumuskan masalah
  2. Menyusun kerangka pikir (logical construct)
  3. Merumuskan hipotesis (jawaban masalah)
  4. Menguji hipotesis secara empirik (jawaban empiris)
  5. Membahas jawaban rasional dg jawaban empiris (hasil pengujian)
  6. Menarik kesimpulan.

Hipotesis kerja merupakan hipotesis yang menyatakan hubungan, pengaruh dan perbedaan. Contoh yang menyatakakan hubungan

  • Ada hubungan antara nilai ujian sosiologi dengan peringkat kelas
  • Ada hubungan antara peringkat kelas dengan tingkat pendidikan orang tua

Contoh hipotesis yang menyatakan pengaruh:

  • Ada pengaruh antara motivasi belajar dengan prestasi belajar
  • Ada pengaruh antara membaca dengan prestasi belajar

Contoh hipotesis yang menyatakan perbedaan:

  • Ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar menggunakan e-learning dengan siswa yang belajar menggunakan metode konvensional
  • Ada perbedaan motivasi belajar antara siswa yang sering menonton televisi dengan siswa yang jarang menonton televisi

Hipotesis nol yang terdiri dari variabel terikat merupakan hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan, tidak ada pengaruh, dan tidak ada perbedaan. Contoh yang menyatakan tidak ada hubungan:

  • Tidak ada hubungan antara nilai ujian sosiologi dengan peringkat kelas
  • Tidak ada hubungan antara peringkat kelas dengan tingkat pendidikan orang tua

Contoh hipotesis yang menyatakan tidak ada pengaruh:

  • Tidak ada pengaruh antara motivasi belajar dengan prestasi belajar
  • Tidak ada pengaruh antara membaca dengan prestasi belajar

Contoh hipotesis yang menyatakan tidak adaperbedaan:

  • Tidak ada perbedaan prestasi belajar antara siswa yang belajar menggunakan e-learning dengan siswa yang belajar menggunakan metode konvensional
  • Tidak ada perbedaan motivasi belajar antara siswa yang sering menonton televisi dengan siswa yang jarang menonton televisi

Pertanyaan Nomor 3

Aliran-aliran filsafat pendidikan yang dihubungkan dengan penerapannya dalam K13 adalah sebagai berikut:

  • Filsafat pendidikan idealisme menekankan pada keberadan “idea” yang sangat berpengaruh dalam kehidupan. Idealisme ialah filsafat yang pandangan yang menganggap atau memandang ide itu primer dan materi adalah sekundernya, dengan kata lain menganggap materi berasal dari ide atau diciptakan oleh ide. Dalam K13 penerapan aliran ini dalam bentuk penerapan penilaian afektif yang ditempatkan sebagai unsur penilaian yang utama daripada kognitif dan psikomotor. Afektif berdasarkan pada aliran idealisme yang menekankan pada nilai-nilai luhur yang dijunjung tinggi. Nilai-nilai luhur inilah yang dianggap penting dalam pendidikan.
  • Filsafat realisme menekankan pada keberadaan fakta sebagai sesuatu yang penting. Realisme menentang pendapat idealisme yang menyatakan bahwa yang real adalah idea, menurut realisme idea hanyalah persepsi manusia yang keberadaannya sangat subyektif. Oleh karena itu sesuatu yang real adalah fakta. Dalam K13 penerapan metode saintifik merupakan contoh aplikasi filsafat realisme ini dalam pendidikan. Dimana metode saintifik dimulai dari proses mengamati sesuatu yang bersifat konkret yang berupa gambar-gambar, slide presentasi atau video. Sehingga dari sesuatu yang konkret tersebut siswa dapat memulai proses belajar.
  • Filsafat materialisme menekankan pada keberadaan materi dalam kehidupan manusia. Materialisme memandang bahwa materi terlebih dahulu ada sedangkan ide atau pikiran timbul setelah melihat materi. Dengan kata lain materialisme mengakui bahwa materi menentukan ide bukan ide menentukan materi. Contoh penerapan filsafat meterialisme dalam K13 adalah keberadaan materi seperti bahan ajar berupa modul, buku referensi, video dan lain sebagainya. Selain itu berupa saranan prasaran yang mendukung proses belajar mengajar seperti ruang kelas, meja, kursi, papan tulis, alat-alat tulis, termasuk sarana komputer dan lain sebagainya. Benda-benda tersebut sangat penting agar proses belajar mengajar dapat terlaksana dengan lancar. Dalam undang-undang sistem pendidikan nasional keberadaan benda-benda ini diatur dalam standar sarana.
  • Filsafat eksistensialisme merupakan filsafat yang secara khusus mendeskripsikan eksistensial dan pengalaman manusia dengan fenomenologi atau cara manusia berada. Eksistensialisme adalah suatu reaksi terhadap materialisme dan idealisme. Pendapat materialisme terhadap manusia adalah manusia merupakan benda, manusia adalah materi, manusia adalah sesuatu yang ada tanpa menjadi subyek. Pandangan manusia menurut idealisme, manusia hanya sebagai subyek atau hanya sebagai suatu kesadaran. Eksistensialisme berkeyakinan situasi manusia selalu berpangkalkan eksistensi sehingga aliran eksistensialisme penuh dengan gambaran-gambaran yang konkret. Bagi eksistensialisme, individu bertanggung jawab atas kemauannya agar manusia menjadi dirinya, dan mengalami individualitasnya. Penerapan eksistensialisme dalam pendidikan adalah dengan penerapan langkah kedua dari metode saintifik yaitu menanya. Pada langkah ini siswa diharapkan dapat mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan materi pelajaran. Membuat pertanyaan merupakan salah satu bentuk dari eksistensialisme. Dimana siswa yang tidak mampu bertanya berarti siswa yang belum berhasil menemukan eksistensi dirinya. Oleh karena itu penting dalam K13 agar siswa dapat mengamati dan kemudian dari pengamatan tersebut ia dapat merumuskan suatu pertanyaan sebagai bukti eksistensi dirinya dalam proses belajar mengajar.
  • Filsafat progresivisme merupakan aliran filsafat yang berorientasi pada kemajuan (progres) dalam kehidupan. Keadaan saat ini harus lebih baik dari masa yang lalu. Jika ini yang terjadi maka telah terjadi progres dalam kehidupan manusia. Dahulu sebelum ditemukan mesin, segala sesuatu dikerjakan dengan tangan manusia. Namun sekarang berkat revolusi industri yang terjadi di Inggris, telah terjadi perubahan besar dalam kehidupan manusia dimana mesin telah menjadi sesuatu yang dominan dalam kehidupan manusia. Menurut aliran ini pendidikan bukanlah sekedar pemberian sekumpulan pengetahuan kepada peserta didik tetapi hendaklah berisi aktivitas-aktivitas yang mengarah pada pelatihan kemampuan berpikir mereka secara sedemikian rupa sehingga mereka dapat berpikir secara sistematis melalui cara-cara ilmiah seperti memberikan analisis. Penerapan aliran ini dalam K13 adalah pada langkah ke tiga dan keempat yaitu mengasosiasi dan menalar. Dalam kegiatan mengasosiasi diharapkan siswa dapat menghubungan fakta yang ia ketahui melalui pengamatan dengan teori-teori yang teradapat pada buku referensi. Sehingga timbul kesinambungan atara fakta dan teori. Kemudian pada tahap menalar diharapkan siswa dapat menggunakan fikirannya untuk menganalisis konsep, fakta atau prosedur yang ia pelajari. Sehingga muncul kemajuan di dalam dirinya. Filsafat progresivisme menuntut kepada penganutnya untuk selalu progress dan bertindak scara konstruktif, inovatif dan reformatif, aktif serta dinamis. Dalam kegiatan belajar mengajar diharapkan siswa yang aktif bukan guru. Sehingga dalam K13 model-model pembelajaran yang digunakan adalah model yang menekankan pada keaktifan siswa, peran guru hanya sebagai fasilitator dan motivator dalam pembelajaran.
  • Filsafat perenialisme merupakan anti tesa terhadap aliran progresivisme. Perenialisme mengajak manusia untuk kembali kepada nilai-nilai luhur yang telah dikembangkan oleh filosof-filosof terkemuka seperti Plato dan Aristoteles. Nilai-nilai luhur umat manusia inilah yang coba dikembangkan kembali oleh aliran perenialisme. Dalam K13 penerapan aliran ini dapat diketahui dari dipentingkannya penilaian afektif atau sikap dalam pembelajaran. Dengan sikap yang baik diharapkan siswa dapat menjadi individu yang sukses dalam kehidupannya. Banyak orang yang pintar namun karena pemikirannya terlalu progresiv sehingga ia melupakan nilai-nilai luhur dalam kehidupan. Terlalu mementingkan materi, terlalu individualis dan terlalu berpusat pada diri sendiri (ego sentris) ia lupa bahwa ia hidup dalam masyarakat yang sarat dengan nilai-nilai luhur seperti kebersamaan, tenggang rasa, saling menghormati dan lain sebagainya. Inti dari K13 adalah menciptakan siswa yang baik akhlaknya, unggul sikapnya sehingga mampu bersaing di seluruh dunia.

Perbedaan antara K13 dengan KTSP dengan CBSA adalah sebagai berikut:

No Aspek dari kurikulum K13 KTSP CBSA
1. Kurikulum dan silabus Ditetapkan oleh pemerintah melalui KEMENDIKNAS, namun bisa dikembangkan baik indikator pembelajarannya Dirumuskan oleh sekolah dengan mempertimbangkan kearifan lokal dari masing-masing daerah tempat sekoah berada. Ditetapkan oleh pemerintah
2. Penilaian Mengutamakan penilaian afektif, kemudian kognitif dan psikomotor Mengutamakan penilaian kognitif, baru psikomotor dan afektif Berupa penilaian kognitif saja
3. Range nilai Menggunakan skala 1 sampai 4 dengan prediket dari A sampai D Menggunakan angka puluhan dari dengan nilai tertinggi 100 Menggunakan range nilai dari 1 s.d 10
4. Komponen penilaian Untuk kognitif terdiri dari nilai tugas, UH, UTS dan UAS, untuk psikomotor terdri dari praktek, proyek dan portofolio, sedangkan sikap terdiri dari jurnal, penilaian diri, dan penilaian teman sejawat Penilaian yang meliputi tiga ranah hanya untuk mata pelajaran tertentu saja. Penilaian hanya mengutamakan aspek pengetahuan
5. Metode pembelajaran Saintifik Konstruktivis Diskusi
6. Bahan Ajar Buku ditetapkan oleh KEMENDIKNAS, hak lisensi buku telah dibeli oleh Pemerintah Buku dapat dipilih dari penerbit yang berbeda-beda tergantung dari masing-masing sekolah Buku dapat dipilih oleh masing-masing sekolah
7. Model pembejaran Problem based learning, project based learning, dan discovery learning Kontekstual, jig-saw, STAD Diskusi kelompok
8. Format rapor Terdiri dari dua bentuk rapor yaitu rapor capaian kompetensi dan deskripsi, tidak teradapat rapor sikap karena sikap sudah dimasukkan pada rapor capaian kompetensi. Terdiri dari tiga rapor yaitu rapor capaian kompetensi yang berisi angka-angka nilai, kemudian rapor deskripsi yang berisi narasi capaian kompetensi dan rapor sikap dan kepribadian yang berisi catatan tentang perilaku yang diakumulasikan oleh wali kelas. Rapor terdiri dari satu lembar yaitu rapor capain kompetensi saja

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s