Tugas Ujian Semester Landasan Teknologi Pendidikan


Capture6

  1. Definisi dan Terminologi oleh AECT

Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etik dari memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengatur proses dan sumberdaya teknologi yang tepat.

Dari definisi tersebut terdapat beberapa konsep penting diantaranya studi. Studi merujuk pada pengumpulan dan analisis informasi dibalik konsep tradisonal tentang penelitian, termasuk penelitian kualitatif dan kuantitatif dan juga bentuk disiplin inkuiri lainnya seperti pembuatan teori, analisa filosofis, investigasi sejarah, proyek pengembangan, analisis kesalahan, analisis sistem dan evaluasi.

Konsep kedua dari definisi tersebut adalah praktek etik. Teknologi pendidikan telah sejak lama memiliki kode etik tersendiri. Komite etik dari AECT secara aktif telah mendefinisikan standar etika bidang ini dan menyediakan contoh kasus yang akan didiskusikan dan difahami. Kode etik profesional dari AECT termasuk didalamnya prisip bersedia untuk membantu para anggota baik secara individual maupun secara kolektif dalam memelihara tingkatan tinggi dari perilaku profesional.

Konsep berikutnya adalah memfasilitasi. Ketika terjadi perubahan tujuan pembelajaran di sekolah, perguruan tinggi, dan organisasi lainnya dari pembelajaran yang dangkal menjadi pembelajaran yang mendalam, lingkungan belajar harus menjadi lebih autentik. Dalam lingkungan ini, peran utama dari teknologi bukan hanya menyajikan informasi dan menyediakan latihan dan praktek (untuk mengontrol pembelajaran) akan tetapi untuk menyediakan ruang masalah dan alat-alat untuk mengeksplornya (untuk mendukung pembelajaran).

Konsep selanjutnya adalah pembelajaran. Saat ini pembelajaran tidak hanya berupa mengingat informasi untuk tujuan tes dan perolehan pengetahuan, keterampilan dan sikap yang digunakan diluar kelas. Salah satu elemen penting dari desain instruksional adalah mengidentifikasi tugas pembelajaran. Tugas pembelajaran dapat dikategorikan menurut berbagai macam taksonomi.

Konsep berikutnya adalah meningkatkan. Teknologi pendidikan dalam upaya untuk meningkatkan kinerja dengan cara meningkatkan efektifitas. Efektifitas juga harus diikuti dengan efisiensi. Dimana hasil yang diperoleh dapat mengurangi waktu yang terbuang, upaya dan biaya. Dengan tingginya ekpektasi terhadap pembelajaran dan keberhasilan menjadi sesuatu yang penting dalam masyarakat, sesuatu yang lebih cepat lebih baik dari pada yang lambat dan lebih murah lebih baik dari pada yang lebih mahal.

Konsep berikutnya adalah kinerja, dimana kinerja merujuk pada kemampuan pelajar untuk menggunakan dan menerapkan kemapuan yang baru diperoleh. Teknologi pendidikan dapat membantu guru dan desainer untuk menjadi performer yang lebih baik dan mereka dapat membantu organisasi mencapai tujuan dengan lebih efektif dan efisien. Penggunaan peningkatan kinerja pada definisi ini tidak berarti bahwa teknologi pendidikan mencakup semua bentuk peningkatan kinerja. Sebagai pendukung bagi teknologi pendidikan seperti teknologi kinerja manusia (HPT), dimana terdapat berbagai bentuk intervensi yang dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja.

Konsep berikutnya adalah menciptakan. Penciptaan merujuk pada riset, teori dan praktek yang dilibatkan dalam menciptakan bahan instruksional, lingkungan belajar dan sistem belajar mengajar yang lebih luas dalam setting yang berbeda baik formal maupun nonformal. Penciptaan dapat terdiri dari berbagai macam aktifitas tergantung dari pendekatan desain yang digunakan.

Konsep berikutnya adalah menggunakan, konsep ini merujuk pada teori dan praktek yang berhubungan dengan membawa pelajar melakukan kontak langsung dengan kondisi dan sumber balajar. Menggunakan dimulai dengan pemilihan sumberdaya dan proses yang tepat, (metode dan materi)

Konsep selanjutnya dalah mengatur. Salah satu tanggung jawab profesional dalam bidang teknologi pendidikan adalah manajemen. Pada awalnya, kegiatan ini berbentuk mengarahkan penggunaan pusat audiovisual. Sebagai produksi media dan proses pengembangan instruksional menjadi lebih rumit dan berskala besar, mereka harus menguasi keterampilan manajemen proyek.

Berikutnya adalah konsep ketepatan. Konsep ini diterapkan pada proses dan sumberdaya, menunjukkan ketepatan dan kesesuaian dengan tujuan yang diharapkan. Konsep teknologi yang tepat digunakan secara luas dalam bidang pengembangan komunitas untuk merujuk pada alat-alat atau praktek yang lebih sederhana dan lebih memberikan solusi bagi permasalahan.

Selanjutnya adalah konsep teknologi. Teknologi didefinisikan sebagai aplikasi sistematis dari ilmu saintifik atau pengetahuan terorganisir yang lain untuk tugas praktek. Istilah teknologi dirubah dengan merujuk pada proses dan sumber daya. Yang pertama merubah proses, terdapat proses nonteknologi yang dapat digunakan dalam merencanakan dan melaksanakan instruksi, seperti proses pembuatan keputusan tiap hari yang dilakukan guru, yang mungkin sangat berbeda dari bidang ini. Teknologi pendidikan mendukung penggunaan proses yang telah diklaim memberikan hasil yang berharga, berdasarkan atas riset atau paling tidak pengembangan yang reflektif.

Selanjutnya adalah proses. Proses dapat didefinisikan sebagai kumpulan aktifitas diarahkan terhadap hasil spesifik. Teknologi pendidikan sering menggunakan proses spesifik untuk mendesain, mengembangkan, dan menghasilkan sumber belajar, digolongkan kedalam proses yang lebih luas dari pengembangan instruksional.

Beriktunya adalah sumberdaya. Sumberdaya dapat berupa orang-orang, alat-alat, teknologi dan bahan-bahan yang didesain untuk membantu pelajar. Sumberdaya dapat meliputi sistem ICT berteknologi tinggi, perpustakaan, kebun binatang, museum, dan orang-orang dengan pengetahuan dan keterampilan spesial.

  1. Memfasilitasi Pembelajaran

Definisi saat ini dari teknologi pendidikan secara eksplisit mengadopsi istilah memfasilitasi pembelajaran dalam rangka menekankan pemahaman bahwa pembelajaran dikontrol dan dimiliki oleh pelajar. Guru dan desainer dapat dan melakukan mempengaruhi pembelajaran, akan tetapi pengaruh tersebut bersifat fasilitatif dari pada kausatif. Istilah memfasilitasi pembelajaran diposisikan sebagai tujuan dari teknologi pendidikan.

Teori yang berbeda tentang pembelajaran dan instruksi menekankan variabel yang berbeda dalam proses pembelajaran, maka memfasilitasi memiliki makna yang berbeda bagi masing-masing teori. Kerangka teori dipandang hanya sebagai perspektif yang berbeda terhadap belajar dan mengajar. Behaviorisme, kognitivisme, dan konstruktivisme masing-masing mendorong perhatian dan keberhasilan aplidasi dari teknologi pendidikan. Masing-masing menambahkan kepada kita pemahaman menyeluruh tentang bagaimana orang-orang belajar dan bagaimana instruksi dapat ditingkatkan.

Metode asesmen dan evaluasi merupakan hubungan yang penting dalam keberhasilan implementasi inovasi instruksional dari ahli behavioris, kognitivis, dan konstruktivis. Jika program inovatif diarahkan terhadap tujuan yang lebih dalam, tingkatan yang lebih tinggi, metakognisi, atau pengetahuan terapan, hasilnya tidak akan dapat diukur dengan tes kertas dan pensil (tertulis).

Meskipun sebagian besar diskusi pada buku ini dibatasi dalam istilah situasi instruksional yang formal, definisi saat ini juga ditujukan untuk diterapkan pada situasi informal. Hal ini salah satu alasan mengapa definisi memilih istilah teknologi pendidikan daripada teknologi instruksional, menggunakan istilah dengan kontoasi yang lebih luas dalam rangka mencakup keduanya baik situasi pembelajaran yang direncanakan ataupun spontan.

Dalam memfasilitasi proses pembelajaran, meskipun tanpa memperhatikan perspektif teori yang sesuai, praktek teknologi pendidikan biasanya membantu atau menghalangi orang–orang yang berada dalam proses belajar. Dengan kata lain, kita melakukan apa yang kita lakukan sebagai ahli teknologi pendidikan tidak saja untuk memfasilitasi pembelajaran itu sendiri akan tetapi untuk memfasilitasi pembelajaran dengan audiens yang disengaja. Hal ini merubah penekanan dari menekankan pada proses menjadi penekanan pada orang-orang yang menunjukkan peningkatan fokus dan kesadaran dari para siswa sebagai pusat dari aktivitas kita sebagai ahli teknologi pendidikan. Ketika pelajar menjadi fokus, berlawanan dengan hardware, desain atau bahan-bahan, maka idea memfasilitasi pembelajaran juga harus fokus pada pelajar dan kemampuan serta tanggungjawab mereka. Pemikiran yang berpusat pada pelajar mengingatkan kita bahwa pelajarlah yang menjadi pusat pembelajaran. Sebagai instruktur dan desainer, kita dapat mengambil manfaat dari generalisasi tentang orang-orang dan cara mereka mungkin belajar. Dalam usaha kita untuk memfasilitasi pembelajaran, sebenarnya, kita harus mengetahui perbedaan individu. Kita tidak akan mampu untuk selalu memfasilitasi pembelajaran untuk orang tertentu, tapi kita tidak boleh lupa untuk memfasilitasi pembelajaran untuk tiap individu merupakan tujuan. Fasilitasi menyarankan kita untuk mengikuti dengan lebih lengkap terhadap para pelajar di dalam seting, mempertimbangkan konteks dan lingkungan, dan mencoba untuk menghubungkan desain kita dengan aspek sosial dan kultural dari seting yang kita desain atau menciptakan lingkungan pembelajaran. Keragaman pelajar akan ditujukan dan pembelajaran didukung melalui penggunaan hardware dan software, dan faktanya, hal ini menjadi tujuan integrasi teknologi kedalam lingkungan pembelajaran.

  1. Meningkatkan Kinerja

Teknologi pendidikan memungkinkan pelajar secara individu untuk meningkatkan kinerja dalam banyak cara. Diantaranya adalah dengan menerapkan cara-cara berikut ini:

  1. Pengalaman belajar dibuat lebih bernilai dengan memfokuskan pada tujuan yang berguna, bukan hanya untuk ujian.
  2. Melalui teknologi pengalaman-pengalaman dapat membawa kepada tingkatan yang lebih dalam dari pemahaman, melebihi dari sekedar menghafal di luar kepala. Maka mereka dibuat mejadi lebih bernilai karena telah didesain dengan cara membuat pengetahuan baru dan keterampilan yang dapat di transfer. Maka, pelajaran baru dapat di terapkan dalam situasi kehidupan nyata, tidak hanya ditinggalkan di ruang kelas.

Melalui sarana-sarana ini, pelajar mejadi pelaku, dengan pengetahuan yang lebih baik dihubungkan dengan kinerja melebihi seting ruangan kelas. Berikut ini merupakan upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kinerja siswa, diantaranya:

  • Pelajaran yang lebih bernilai

Pada pendidikan formal, hasil pelajaran cenderung untuk di ukur dengan hasil test tertulis, apakah dibuat oleh guru atau menurut standar tertentu. Format dari tes ini cenderung yang paling mudah dan reliabel untuk di beri skor, seperti tes benar salah, pilihan ganda, mencocokkan dan format yang tertutup lainnya. Pembatasan instrumen seperti itu bahwa instrumen tersebut sangat bermanfaat terutama sekali untuk kemampuan kognitif sendiri dan khususunya kemapuan kognitif pada tingkatan yang rendah.

  • Multiple Intelligences

Sementara itu, jenis pengetahuan, keterampilan dan sikap yang lebih beragam, mungkin akan bermanfaat bagi pelajar secara individu dan untuk masyarakat. Howard Gardner, sebagai contoh, menyarankan bahwa terdapat delapan tipe kecerdasan yang berbeda, dimana hanya dua yaitu linguistik (bahasa) dan logika matematis yang dipelajari dalam pendidikan formal. Sedangkan kecerdasan yang lain seperti musik, spasial (ruang), kinestetik, interpersonal, dan intrapersonal menjadi perhatian dari beberapa kurikulum sekolah dan universitas dan sejumlah besar sekolah-sekolah yang mencoba kurikulum berdasarkan teori Gardner. Bagaimanapun mereka biasanya tidak menjadi perhatian pada tes yang beresiko tinggi yang biasanya mendorong aktivitas pengajaran dari hari kehari. Konsekuensinya, referensi dari hasil pelajaran pada pendidikan formal cenderung merupakan pengatahuan yang sempit, terbatas, dan tingkatan yang rendah.

  • Mengklasifikasikan Domain dan Tingkatan Tujuan Pembelajaran.

Domain dan tingkatan tujuan pelajaran yang paling dikenal adalah Taxonomy Bloom. Dalam bentuk aslinya Bloom mengemukakan bahwa tujuan pendidikan dapat diklasifikasikan menjadi tiga domain yaitu kognitif, afektif dan psikomotor. Masing-masing, dapat dibagi menjadi banyak tingkatan, yang menggambarkan kemampuan dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks untuk masing-masing domain.

  • Belajar Permukaan versus Belajar Mendalam

Penetapan mengulang secara verbal sebagai tujuan instruksional merupakan permasalah utama yang dikontraskan oleh Edgar Dale yaitu antara buku teks modern pertama dengan pendidikan audiovisual. Perbedaan antara dua tipe belajar tersebut dapat dilihat pada tebel berikut:

  • Transfer Pelajaran dalam Pendidikan Formal

Teknologi dapat menolong pelajar tidak hanya menguasai keterampilan tingkat tinggi, akan tetapi juga menerapkan pengetahuan baru untuk situasi yang baru, khususnya untuk situasi diluar ruangan kelas – merujuk kepada transfer pelajaran. Penelitian terhadap situasi kognitif menyarankan bahwa apa yang dipelajari dalam konteks ruangan kelas cenderung terbatas pada seting tersebut kecuali pelajar memiliki kesempatan untuk mempraktekkan kemampuan baru dalam konteks yang serupa dengan dunia nyata. Hard Teknologi dalam bentuk simulasi berbasis komputer menawarkan cara untuk melibatkan pelajar secara virtual dalam suasana yang tidak dapat dipraktekkan atau mungkin mustahil untuk di duplikasikan dalam realita.

Teknologi pendidikan dapat meningkatkan kinerja tidak hanya pelajar akan tetapi juga siapa yang mendesain dan menyampaikan instruksi. Adapun manfaat teknologi pendidikan bagi guru atau desainer adalah sebagai berikut:

  • Mengurangi Waktu Instruksional
  • Menciptakan Instruksi yang Lebih Bermanfaat
  • Menciptakan Instruksi yang lebih Humanis
  • Menghargai Nilai-Nilai Manusiawi

 

  1. Penciptaan

Proses yang berhubungan dengan penciptaan dalam teknologi pendidikan telah mengalami perubahan sangat pesat dari masa ke masa dan seiring perubahan teknologi, sebagaimana teori mendasari perubahan tersebut. Pada awalnya media masa diadaptasi kedalam tujuan pendidikan serperti film, radio dan televisi secara luas dibentuk dengan paradigma komersil. Program berdasarkan skrip mengikuti protokol reka ulang sejarah, demonstrasi, etnografi dan genre yang lainnya ditemukan dalam dunia komersil. Pengalaman, didasarkan pertama pada teori gestalt dan kognitif kemudian terori behavior, menyediakan pemahaman untuk menghaluskan presentasi dalam format AV yang berkontribusi terhadap kemampuan belajar kognitif, afektif dan keterampilan. Prosedur evaluasi juga berkontribusi terhadap peningkatan program individual.

Prosedur yang lebih sistemik dan sistematis untuk merencanakan dan memproduksi media instruksional berkembang setelah Perang Dunia II dibawah pengaruh pendekatan sistem dan protokol manajemen pembelajaran behavioral. Digunakan pertama kali untuk menghasilkan program instrusi pelajaran, model pengembangan sistem instruksional (ISD), yang didasarkan pada bentuk yang diadaptasi secara lokal, menjadi diterapkan secara umum untuk merencanakan dan memproduksi semua bentuk bahan dan sistem instruksional. Model ISD yang umum disebut adalah kemajuan logika dari analisa ke desain, ke pengembangan, ke evaluasi, dalam siklus interaktif.

Ketika mekanisme pengajaran diganti dengan program komputer proses ISD masih tetap bertahan, namun tahap produksi membutuhkan keseluruhan kumpulan keterampilan baru dalam program komputer atau paling tidak menggunakan software yang diciptakan. Ketika internet mulai populer sekitar dekade 1980-an dan 1990-an, program pendidikan dan pelatihan mencari cara-cara untuk memasukkan konferensi komputer ke dalam program pendidikan jarak jauh. Ketika www muncul sebagai servis internet yang dominan, desainer dapat mengkombinasikan antara siswa dengan siswa dan siswa dengan instruktur berinteraksi dengan teks statis atau gambar bergerak ke dalam satu paket pembelajaran yang komponennya dihubungkan dengan hiperlink, memungkinkan pengguna untuk menggali sumber belajar lebih bebas. Kemampuan baru ini memberikan dorongan untuk pembelajaran diskoveri dan sistem PBL yang diinspirasi oleh teori konstruktivis.

Sebagai tambahan untuk pendekatan sistem, pendekatan desain untuk penciptaan dalam teknologi pendidikan telah dipinjam dan diambil dari bidang yang lain, termasuk seni gambar, desain software, desain sistem sosioetnik, pengembangan organisasi, dan psikologi kognitif. Salah satu tantangan masa depan adalah untuk menentukan apakan akan memelihara, mengambil atau membuang model pendekatan sistem dan menemukan cara berfikir tentang desain yang produktif untuk perubahan lingkungan media pada abad 21.

Dengan kelanjutan miniaturisasi dan konvergensi dari media dibawah payung komputer, pengembang instruksional menghadapi tantangan tehnis yang baru dalam perubahan program bahasa dan sistem penciptaan. Mereka juga menghadapi keseluruhan pemikiran yang baru tentang apa itu lingkungan belajar dan bagaimana ia harus dibentuk, khususnya dalam bentuk petunjuk yang harus dimiliki pelajar dalam skenario masalah dan data base open-ended dari informasi sebenarnya atau simulasi. Lingkungan yang kompleks, yang akan mengkombinasikan unsur dari realitas, simulasi dan realitas virtual, menjanjikan untuk menjadi bermakna. Mereka juga membawa desain baru dan mengembangkan tantangan, membutuhkan orkestarsi dari banyak spesialisasi yang berbeda, masing-masing dengan kosakata dan pendekatan desain yang berbeda.

  1. Penggunaan Sumber Daya Teknologi

Dalam penggunana sumber daya teknologi langkah awal yang dilakukan adalah mengevaluasi dan memilih bahan-bahan. Keputusan untuk memilih atau tidak item tertentu tergantung pada banyak faktor. Terdapat kriteria untuk bahan-bahan instruksional yaitu sebagai berikut:

  • Apakah tujuan dari bahan selaras dengan tujuan pembelajaran?
  • Apakah bahan sesuai dengan input atau target pelajar (khususunya tingkatan membaca dan kosakata)?
  • Apakah informasinya akurat dan up to date?
  • Apakah bahan tersebut bebas dari bias?
  • Apakah bahan tersebut mungkin meningkatkan dan memelihara perhatian pelajar?
  • Apakah bahan tersebut mendorong tingkat tinggi dari pelibatan mental pelajar?
  • Apakah kualitas tehnik dapat diterima?
  • Apakah terdapat bukti dari kesuksesan seperti hasil tes bidang?

Ceklis evaluasi yang dikembangkan pada tahun 1920 dan 1930-an untuk penilaian guru tentang film bisu dan bersuara. Dari masa ke masa, ceklis ini digunakan untuk media terbaru, untuk menyediakan pedoman spesifik untuk berbagaimacam audiens dan subyek area yang berbeda.

Salah satu elemen penting dalam penggunaan sumber daya teknologi adalah konsep dapat digunakan. Dapat digunakan merujuk pada kualitas dapat digunakan secara mudah untuk beberapa tujuan. Secara formal diartikan sebagai tingkatan dimana produk dapat digunakan oleh pengguna tertentu untuk mencapai tujuan spesifik dengan efektifiitas, efisiensi dan kepuasan dalam konteks spesifik dari pengguna. Bagi pihak-pihak yang mendesain bahan dan perlengkapan untuk digunakan di sekolah harus berfikir tentang bagaimana membuat mereka dapat diakses oleh guru dengan kompetensi teknologi yang luas. Dalam hal pengembangan software, terdapat beberapa isu yang harus diperhatikan, diantaranya:

  • Konsistensi, meyakinkan, contohnya, warna spesifik dan ikon mengandung arti yang sama pada seluruh program dan fungsi tertentu ditempatkan pada tempat yang sama
  • Kesederhanaan, menjaga tampilan tetap bersih dan rapi
  • Struktur, mudah untuk dinavigasi
  • Kesesuaian terhadap kebutuhan dan kemampuan dari pengguna
  • Ketersediaan bantuan scara online yang bersifat responsif terhadap masalah

Tujuan akhir dari teknologi pendidikan adalah penggunaan, memasukkan pelajar dalam kontak dengan sumber teknologi yang tepat dibawah kondisi yang kondusif terhadap pembelajaran. Sebelum dapat digunakan, sumberdaya harus di seleksu dan dievaluasi oleh instruktur dan penelitian untuk memandu penggunaan, dengan praktek saat ini mendukung pendekatan eklektis, menggunakan istilah behavioris, kongitivis dan konstruktivis tehnik didikete oleh tujuan pembelajaran dan kebutuhan pelajar. Terdapat banyak lensa yang memandang proses dimana instruktur menjadi sadar dalam mementukan untuk menggunakan sumber teknologi. Lensa-lensa ini secara beragam memfokuskan pada proses psikologis dari pengguna, sosiologis dari lingkungan pendidikan, dan sistem sosil dan politik yang meliputi.

Media dan teknologi dapat dugunakan pada tingkat yang berbeda seperti perusahaan, pendidikan tinggi dan pendidikan K12. Pada perusahaan dinamika penggunaan media dan teknologi pada program pelatihan perusahaan berbeda dengan penggunaan pada pendidikan formal. Perbedaan pertama dari segi biaya, sedangkan yang kedua pada cakupan.

Sedangkan pada pendidikan tinggi, fokus media yang digunakan adalah media berbasis komputer. Dalam jangka waktu tahun 1997 sampai 2002, perguruan tinggi mengembangkan layanan teknologi informasi secara luas. Berdasarkan survei tahunan antara 1997 sampai 2000, beberapa fakultas mengadopsi aplikasi pengajaran berbasis komputer, seperti kursus dengan halaman website dan menggunakan sumber dari internet. Faktor yang mendorong fakultas untuk menggunakan teknologi informasi adalah adopsi course management system (CMS). Eksistensi CMS memotivasi fakultas untuk menciptakan konten yang dapat digunakan pada sistem penyampaian seperti ini. Selain itu media audiovisual tradisional juga digunakan pada pendidikan K-12.

  1. Pengaturan Proses dan Sumber Daya Teknologi

Fungsi manajemen merupakan fungsi sentral bagi teknologi pendidikan menurut paradigma audiovisual. Sejak kemunculan bidang instruksi visual pada tahun 1920 melalui ekspansi bidang pendidikan audiovisual sekitar tahun 1970, profesional teknologi pendidikan bekerja terutama sekali sebagai pemimpin atau koordinator agen media.

Tugas administratif dari seorang direktur pendidikan audiovisual diantaranya memperoleh, membuat katalog, menjual, menerima dan mendistribusikan bahan-bahan audiovisual; melakukan supervisi produksi sumber audiovisual dan televisi; memperoleh, memelihara, dan menyebarkan hardware audiovisual; merencanakan dan memelihara fasilitas untuk penggunaan media di ruang kelas; mendorong penggunaan yang tepat dari media diantara guru dan melakukan pengaturan pada program pengembangan jasa profesional, menyusun anggaran untuk operasi suatu agen; dan mengevaluasi jasa yang ditawarkan.

Di sekolah, sekitar tahun 1970-an terjadi perubahan umum dari kewajiban pada bahan-bahan dan jasa audiovisual dari ahli teknologi pendidikan menjadi petugas pustaka, yang sudah memiliki tanggung jawab bagi bahan-bahan instruksional berbasis kertas. Pusat audiovisual dikonsolidasikan dengan perpustakaan sekolah, dan orang-orang dengan sertifikat pustakawan mengambil alih posisi sebagai pustakawan sekolah sepesialis media. Pada tahun 1990 dan awal tahun 2000, demografi dari AECT berlanjut untuk berubah dari manajemen pusat media. Pada tahun 2006 hanya 15% dari anggota AECT yang bekerja pada posisi direktur media. Dan tahun 2006 hanya 11% yang bekerja pada pendidikan dasar dan menengah, dimana profesor dan desainer instruksional menempati 34% dan 11% dari keseluruhan anggota. Jasa media instruksional masih ditawarkan di sekolah dan perguruan tinggi, akan tetapi diatur oleh profesional dari pada anggota AECT, dan mereka dipertahankan oleh jasa yang terfokus pada penyampaian berbasis komputer.

Manajemen berarti pengaturan orang-orang, proses, infrastruktur fisik, dan sumberdaya keuangan secara efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Saat ini manajemen sering dipandang sebagai hal yang sama dengan proyek manajemen. Tentu saja, alumni teknologi pendidikan yang memperhatikan manajemen sering fokus pada proyek manajemen. Seperti yang kita lihat, proyek manajemen merupakan bentuk yang penting dari aktivitas manajemen akan tetapi hal tersebut hanya merupakan salah satu dari fungis manajemen yang umum dalam bidang teknologi pendidikan.

Literatur manajemen menggambarkan perbedaan antara praktek manajemen dan praktek kepemimpinan. Manajemen secara mendasar merupakan pengawasan sedangkan kepemimpinan secara mendasar adalah tentang pengaturan arah bagi organisasi, mengarahkan agar selaras dengan tujuan negara, dan memotivasi setiap tingkatan dari organisasi untuk mencapai tujuan ini. Bagaimanapun juga, susah dibayangkan manajemen yang baik tanpa kepemimpinan yang baik. Sebagai kesimpulan manajemen yang efektifk dapat dilihat sebagai pelengkap kombinasi dari 6 fungsi manajemen dan kepemimpinan

Managing Memimpin
Merencanakan Mengatur arah
Monitoring Menyelaraskan
Mengawasi Memotivasi

Manajemen kinerja berarti memonitor dan mengawasi kualitas suatu kinerja dari individu yang bekerja dalam suatu organisasi. Pada awal tahun 1990, masalah yang berhubungan dengan penjamin kualitas berarti inspeksi, yang merupakan metode utama digunakan untuk menjamin kualitas suatu produk. Pada tahun 1940-an kualitas didasarkan pada hasil statistik. Dengan bargaining produksi masalh selama perang dunia II, menjadi penting untuk menerapkan bentuk yang lebih baik dari kontrol kualitas yaitu statistical quality control (SQC). Manajemen kinerja sering digambarkan dalam istilah siklus kualitas yang membutuhkan tahap-tahap yang berulang, yaitu sebagai berikut:

  • Menentukan ciri-ciri kualitas berdasarkan kebutuhan pelanggan
  • Menentukan bagaimana untuk mengukur masing-masing ciri
  • Menentukan standar kualitas
  • Membangun tes yang sesuai untuk masing-masing standar
  • Temukan dan perbaiki penyebab kualitas yang jelek
  • Lanjutkan untuk membuat peningkatan

Dalam teknologi pendidikan, manajemen yang dilakukan diarahkan kepada salah satu dari empat objek yaitu: manajemen proyek, manajemen sumber daya, manajemen kinerja, atau manajemen program. Tujuan dari manajemen proyek adalah untuk meyakinkan bahwa solusi yang tepat bagi masalah kinerja tertentu dikembangkan dan diterapkan dengan tepat.

  1. Proses Pembelajaran

Berbagai macam proses teknologi didedikasikan untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja yang dapat dianggap sebagai konsep, sebagai teori, atau sebagai praktek. Proses sebagai konsep dapat didefinisikan sebagai kumpulan aktivitas yang diarahkan terhadap hasil yang diharapkan. Hasil tersebut dapat bersifat nyata atau tidak nyata. Teori proses dihasilkan untuk mengajukan hubungan diantara konsep.

Proses teori mengusulkan bahwa kejadian merupakan hasil dari keadaan input tertentu menuju keadaan output tertentu, mengikuti proses tertentu. Teori proses dalam pendidikan berhubungan dengan aktivitas yang memfasilitasi pemahaman, perolehan, pembangunan, dan penerapan pengetahuan dan keterampilan.

Praktek proses, dalam konteks teknologi pendidikan, berarti menerapkan prosedur yang menggambarkan konsep dan teori pembelajaran dan peningkatan kinerja. Prosedur teknologi pendidikan diintegrasikan kedalam strategi yang didedikasikan untuk komunikasi yang efektif dan untuk menciptakan strategi instruksional yang tepat. Tujuan praktek proses adalah untuk meningkatakan ketepatan antara harapan bagi siswa di dalam kelas (learning space) dan harapan bagi siswa diluar kelas (performance space). Tujuan pembelajaran dikatakan efektif ketika strategi pendidikan menggunakan proses yang mendorong siswa melalui ruang belajar (learning space) dan mencapai kesesuaian dengan ruang kinerja (performance space) yang sesuai.

Tujuan dari studi dalam konteks proses pembelajaran adalah untuk mendukung proses yang berulang dari desain dan pengembangan terhadap realisasi perubahan sistematis. Pesan utama yang berhubungan dengan proses teknologi bahwa bidang teknologi pendidikan melibatkan berbagaimacam pendekatan untuk menilai orang-orang dan mengevaluasi bahan pembelajaran, seperti analisa kebutuhan, inkuiri, eksperimen dan kuasi eksperimen, evaluasi formatif, evaluasi sumatif, penelitian pengembangan, studi kasus, dan observasi langsung.

Praktek etik ketika diterapkan pada proses teknologi, merujuk pada proses yang tepat untuk situasi tertentu. Aplikasi etika dalam proses teknologi ditujukan untuk menyediakan kepemimpinan dalam mengidentifikasi isu baru yang muncul dalam masyarakat teknologi yang berubah dengan cepat yang telah mempengaruhi perilaku etika profesional.

Teknologi pendidikan mengemukakan bahwa pembelajaran dapat difasilitasi melalui penerapan proses instruksional tertentu. Proses preskriptif ini sering diambil dari teori deskriptif tentang bagaimana manusia belajar melalui interaksi dengan lingkungan mereka. Teori belajar kognitif menyaraknan bahwa kondisi psikologis tertentu harus ada agar berbagaimacam tipe pembelajaran dapat terlaksana. Ahli teori belajar behavioris menyatakan bahwa belajar ditentukan oleh konseksuensi yang mengikuti tindakan manusia. Behaviorisme diinspirasi oleh model proses yang dikenal dengan program instruksi dengan tahap-tahap berikut: menyebutkan tujuan pembelajaran dalam istilah behavioral, tunjukkan atau nyatakan perilaku yang diharapkan, latihlah pelajar sesuai dengan perilaku yang diharapkan, dan ikuti perilaku yang diharapkan dengan penguatan. Sedangkan teori belajar konstruktivis telah menginspirasi pengembangan lebih lanjut sejumlah model proses instruksional, seperti instruksi anchored, problem based learning (PBL), dan pembelajaran kolaboratif.

Teknologi pendidikan mengklaim untuk meningkatkan kinerja siswa, guru dan desainer serta organisasi. Teknologi pendidikan memperluas keberhasilan belajar kepada peningkatan kinerja siswa, pertama dengan memfokuskan pengalaman belajar pada tujuan autentik. Kedua, pengalaman yang ditingkatkan melalui teknologi dapat membawa kepada level yang lebih dalam dari pemahaman diluar rote memori. Ketiga, pengalaman belajar yang berbasis teknologi dapat meningkatkan transfer keterampilan baru pada masalah baru. Siswa menjadi pelaku melalui sarana-sarana, dengan pengetahuan yang dihubungkan lebih baik kepada kinerja diluar lingkungan kelas.

  1. Sumber Teknologi

Istilah sumber termasuk didalamnya alat-alat, bahan-bahan, perangkat-perangkat, seting dan orang-orang dimana pelajar berinteraksi dengan mereka untuk memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja. Terdapat dua sumber dalam teknologi pendidikan yaitu sumber teknologi dan sumber lainnya seperti sumber alam atau sumber politik. Fokus dari teknologi pendidikan adalah pada sumber teknologi. Contoh sumber teknologi seperti sumber digital dan sumber analog (buku teks, OHP, dan VCR).

Langkah awal yang harus dilakukan dalam menentukan sumber teknologi adalah ketepatan dari sumber tersebut. Istilah ketepatan digunakan untuk memodifikasi sumber-sumber untuk menunjukkan bahwa hardware dan software yang digunakan dalam pendidikan harus dipilih dengan mempertimbangkan kecocokan dan kesesuaiannya dengan tujuan pendidikan. Kriteria pertama dari kecocokan tersebut bahwa sumber-sumber tersebut harus dipilih melalui proses yang memenuhi standar profesional. Tantangan yang dihadapi dalam menentukan ketepatan sumber-sumber teknologi diantaranya:

  • Untuk memiliki akses langsung terhadap bahan ajar yang dibutuhkan, guru ingin menggandakan kaset video diluar batasan “fair use
  • Memungkinkan semua siswa menggunakan komputer akan tetapi sekolah tidak memiliki aplikasi komputer, sekolah akan menggunakan software yang tidak berlisensi
  • Untuk menyatakan ide penting dalam pendidikan jarak jauh, profesor akan menyertakan beberapa gambar yang didownload dari suatu website tanpa memperhatikan izin

Terdapat dua sumber teknologi yaitu sumber yang didesain dengan sumber yang dimanfaatkan. Beberapa sumber dapat digunakan untuk memfasilitasi pembelajaran karena mereka telah didesain khusus untuk tujuan pembelajaran. Inilah yang disebut dengan “instructional material or resources”. Sedangkan sumber lain merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari, tapi dapat dietmukan, diterapkan dan digunakan untuk kepentingan pembelajaran. Inilah yang kadang disebut dengan “real world resources”.

Sebelum abad ke-20, pendidikan dicirikan dengan kumpulan dari guru, buku teks, kapur, papan tulis dan siswa. Model awal dari pendidikan ini khususnya dianggap sebagai pendahulu dari bidang teknologi pendidikan dan sering disebut dengan pendidikan tradisional. Bidang modern dari teknologi pendidikan sering dianggap terbentuk pada awal 1900-an sebagai kelompok kecil dari praktisi degan kepentingan yang sama dalam menggunakan sumber teknologi sebagai alternatif dari pendidikan tradisional. Selama abad ke 20, sumber teknologi baru muncul dan berangsur-angsur pergi, bahkan sampai saat ini perbedaan antara pendidikan tradisional dan pendidikan yang disuport oleh teknologi masih tetap ada. Seperti definisi yang dikemukakan oleh Reiser yang mengemukakan bahwa media instruksional adalah sarana fisik, selain dari guru, buku teks, kapur dan papan tulis dimana melalui sarana tersebut instruksi disampaikan kepada siswa. Kemunculan sumber pendidikan setelah papan tulis dan buku teks dan evolusi yang berhubungan dengan bidang kajian yang memperhatikan penerapan dari teknologi yang muncul ini terhadap instruksional dapat dilihat sebagai pendorong dari berdirinya teknologi pendidikan sebagai bidang kajian tersendiri.

Penggunaan media visual yang pertama merupakan slide proyektor, yang dibuat sejak abad ke 17 yang cat dengan tangan dan diterangi dengan lampu minyak. Pada abad ke 19 slide menggunakan lentera dengan standar 3¼ x 4 inci, umum digunakan dalam pendidikan. Kemudian format slide distandarisasi dengan menggunakan film 35mm, yang juga digunakan untuk filmstrip. Setelah perang dunia II, transparan overhead menjadi populer untuk produksi visual, dan overhead projector terdapat di semua kelas pada semua jenjang.

  1. Nilai

Teknologi pendidikan memperhatikan etika yang khusus memfokuskan pada proses menciptakan bahan-bahan instruksional dan lingkungan belajar dan yang berhubungan dengan pelajar selama menggunakan bahan-bahan dan lingkungan belajar tersebut.

Seperti yang telah di bahas sebelumnya, teori kritik khususnya mengingatkan para peneliti dan praktisi untuk memikirkan tentang kekuatan hubungan-kesejahteraan siapa yang utama, siapa yang mengendalikan kejadian-kejadian, dan siapa yang berperan dalam proses. Sensitivitas terhadap kekuatan hubungan diperluas terhadap pihak-pihak yang mendesain lingkungan belajar, mereka yang menggunakannya, dan pihak-pihak yang menggatur dan mengevaluasi proses secara keseluruhan. Sejak pelajar dianggap sebagai penerus dari pendidikan, para profesional merupakan incumben untuk menyelaraskan mereka dengan kekuatan yang sama dalam proses pembelajaran.

Teknologi pendidikan memiliki misi untuk menolong orang-orang belajar lebih baik dari pada yang dapat mereka lakukan melalui cara-cara mereka sendiri atau melalui intervensi pihak lain yang tidak memiliki kualifikasi teknologi pendidikan. Menyediakan fasilitas yang lebih baik dari sarana pembelajaran artinya menciptakan pengalaman-pengalaman dan menyediakan lingkungan dimana peserta dididk lebih termotivasi untuk belajar, berkembang lebih cepat, mendapatkan yang lebih, dan mampu menerapkan pengetahuannya lebih baik, dan mengalamai kepuasan yang lebih luas-yang kesemuanya membutuhkan waktu, uang dan sumberdaya manusia yang tersedia. Teknologi pendidikan melakukan ini melalui teknologi yang menyedaiakan akses kepada lebih banyak orang dan meningkatkan pembelajaran lebih efektif.

Teknologi pendidikan memiliki komitmen untuk menggunakan teknologi informasi dan komunikasi untuk memperluas pendidikan kepada orang-orang yang mungkin tidak mendapatkan pelayanan. Contohnya, radio broadcast telah digunakan untuk memperluas kesempatan pendidikan terhadap penduduk perkotaan pada negara-negara yang kurang berkembang, di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Televisi juga sudah digunakan untuk meningkatkan kualitas instruksi di ruangan kelas-baik pada negara-negara maju ataupun negara-negara dunia ketiga dengan kekurangan guru yang memiliki kualifikasi. Video konferens digunakan sehari-hari, khususnya dalam seting perusahaan, untuk memberikan kesempatan latihan untuk peserta yang berada jauh dari pusat fasilitas pelatihan.

Sebagai suatu bidang yang mengklaim memberikan bantuan kepada publik, teknologi pendidikan harus mampu membuat kasus yang kredibel untuk menawarkan beberapa manfaat publik. Teknologi pendidikan harus menyediakan cara yang superior untuk mencapai tujuan yang berharga. Pada bagian ini akan memfokuskan pada cara-cara dimana teknologi pendidikan memberikan kontribusi terhadap efisiensi dan efektifitas dalam mencapai tujuan pembelajaran dan kinerja. Kinerja yang didiskusikan berhubungan dengan kinerja peserta didik, kinerja guru/desainer, dan kinerja organisasi. Konsep efisiensi dan efektifitas tidaklah mudah untuk didefinisikan seperti yang sudah dibahas pada makalah sebelumnya. Efisiensi (dan efektifitas) hanya dapat ditentukan dengan mempertimbangkan tujuan yang telah disepakati dan saranan untuk mengukur pencapaiannya. Maka, sarana (cara-cara) yang semakin lambat atau yang lebih mahal dapat di katakan efektif jika menuju pada pencapaitan tujuan yang berharga dari biaya tersebut.

Tujuan memfasilitasi pembelajaran bukan hanya sekedar pemanggilan informasi dalam jangka waktu pendek, akan tetapi kemapuan jangka panjang untuk menerapkan pengetahuan, keterampilan dan sikap dalam kehidupan yang sebenarnya. Pada masa lalu, mereka yang mendesain dan menggunakan bahan instruksional atau lingkungan pembelajaran cenderung untuk mengukur kesuksesan dalam bentuk skor dari postes yang dilakukan, tes yang dibutuhkan hanya pemanggilan kembali informasi verbal dalam jangka waktu yang pendek.

Selain meningkatkan kinerja peserta didik, teknologi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kinerja guru dan desainer. Alat-alat untuk desain instruksional bermaksud untuk membantu perencana mengembangkan bahan dan sistem instruksional lebih efektif dan efisien. Tujuannya untuk membantu praktisi yang masih di bawah standar untuk memperoleh hasil yang lebih baik.

Sebagai tambahan untuk memberikan mereka alat-alat yang lebih baik, teknologi pendidikan berusaha untuk memberikan kepada para praktisi persiapan profesional yang lebih baik. Contoh alat ini adalah penggunakan penugasan autentik, penilaian autentik, dan pengalaman yang intensif sebagai bagian dari program pelatihan. Keseluruhannya merupakan cara mengkontekstualkan pelatihan, dengan demikian menjadikan lebih mungkin untuk diterapkan dalam praktek kehidupan yang sebenarnya.

Pada akhirnya, selain meningkatkan kinerja peserta didik dan praktisi, teknologi pendidikan bertujuan untuk meningkatkan kinerja organisasi itu sendiri. Terutama sekali, hal ini dilakukan dengan cara sebagai berikut:

  • meningkatkan produktifitas dari proses belajar
  • membantu orang-orang di dalam organisasi memperoleh keterampilan yang baru secara lebih cepat dan dengan biaya yang lebih sedikit
  • menghemat waktu dan uang bagi suatu organisasi

Akan tetapi terdapat beberapa cara untuk meningkatkan kinerja organisasi lebih dari sekedar pelatihan. Orang-orang dalam organisasi dapat dibantu untuk mejadi lebih produktif dengan cara sebagai berikut:

  • mendapatkan alat/sarana yang lebih baik
  • memiliki suasana kerja yang lebih baik
  • menjadi termotivasi untuk bekerja lebih keras
  • memiliki akses terhadap bantuan kerja atau bentuk bantuan kognitif yang dibutuhkan

Intervensi noninstruksional seperti yang terdapat dalam bidang teknologi kinerja manusia (human performance technology). HPT merupakan konsep yang melibatkan teknologi pendidikan dan semua cara yang lain untuk meningkatan kinerja manusia dalam dunia kerja.

  1. Sejarah Definisi Teknologi Pendidikan AECT

Pada tahun 1963 komunikasi audiovisual merupakan label yang digunakan untuk menggambarkan bidang teknologi pendidikan yang berkembang dari perkembangan pendidikan audiovisual menjadi teknologi pendidikan. Komunikasi audiovisual merupakan cabang dari teori dan praktek pendidikan yang terutama sekali memperhatikan desain dan penggunakan pesan yang mengawasi proses pembelajaran. Yang meliputi (a) studi tentang kekuatan dan kelemahan unik dan relatif dari pesan yang bergambar dan yang tidak dipresentasikan yang digunakan dalam proses pembelajaran untuk tujuan apapun; (b) pesan terstruktur dan sistematis oleh manusia dan instrumen dalan lingkungan pendidikan. Kegiatan ini meliputi perencanaan, produksi, pemilihan, manajemen, dan pemanfaatan komponen dan seluruh sistem instruksional.

Pada tahun 1972 definisi teknologi mulai digunakan dari pada istilah komunikasi audovisual. Dimana teknologi pendidikan merupakan bidang yang dilibatkan dalam memfasilitasi manusia belajar melalui identifikasi, pengembangan, organisasi dan pemanfaatan sistematis dari sumber belajar dan melalui manajemen proses ini.

Pada tahun 1977 AECT merevisi definisi dari teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan adalah keseluruhan, proses terintegrasi, melibatkan orang-orang, prosedur, ide-ide, alat dan organisasi, untuk menganalisa masalah dan peralatan, penerapan, evaluasi dan manajemen solusi untuk masalah tersebut, melibatkan semua aspek dari pembelajaran manusia. Dalam teknologi pendidikan solusi untuk masalah membentuk semua sumber belajar yang didesain dan atau dipilih dan atau dimanfaatkan untuk belajar; sumber ini diidentifikasi sebagai pesan, orang-orang, bahan-bahan, peralatan, teknik dan seting. Proses untuk menganalisa masalah, dan peralatan, penerapan dan evaluasi solusi diidentifikasi sebagai fungsi pengembangan pendidikan dari teori riset, desain, produksi, pemilihan evaluasi, logistik, pemanfaatan dan diseminasi pemanfaatan. Proses pengarahan atau koordinasi salah satu atau lebih dari fungsi ini diidentifikasi sebagai fungsi manajemen pendidikan dari manajemen organisasi dan manajemen pribadi.

Pada tahun 1994 definisi teknologi pendidikan mengalami perubahan. Teknologi instruksional adalah teori dan praktek desain, pengembangan, pemanfaatan, manajemen, dan evaluasi proses dan sumber untuk belajar. Kritik terhadap definisi tahun 1994 adalah bahwa teknologi instruksional kelihatan mendominasi seperti sistem pendekatan terhadap pengembangan instruksional sementara perubahan dalam dalam praktek dari teknologi pendidikan (seperti inisiatif berdasarkan konstruktifvis dan penerimaan umum dari inovasi komputer dalam metodologi ruang kelas) membuat definisi 1994 sangat terbatas untuk kebanyakan guru dan administrasi sekolah dan juga para peneliti dan ilmuan.

Adapun definisi terkini dari teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etis dari memfasilitasi pembelaran, meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengatur teknologi dan sumberdaya yang tepat.

  1. Etika Profesional dan Teknologi Pendidikan

Cara penting untuk menilai dan mendefinisikan profesi dari teknologi pendidikan adalah berfikir serius tentang sejarah-sejarah yang disampaikan dalam profesi. Merupakan pertanyaan lama dalam antropologi budaya: bagaimana orang-orang melihat diri mereka sendiri? Pandangan yang paling memprovokasi sangat jarang disampaikan secara terang-terangan. Terikat bersama dengan unsur kongruen dalam kemajuan logika seringkali diimbangi dengan misteri. Begitupula, sejarah teknologi menceritakan apa yang tergolong etika profesonal dan apa yang tidak dapat menjadi informasi.

Pembaca mungkin akan familiar dengan konsep dasar bahwa teknologi membuat instruksi dapat dilihat. Heinich telah menemukan prinsip umum tentang teknologi pendidikan dan pandangan ini berbeda dari melakukan instruksi dengan bahan-bahan visual. Artinya tindakan dibuat manifes, nyata dan dapat diukur secara empiris. Pandangan Heinrich juga mengatakan bahwa teknologi hanya dapat menjadi efektif ketika kita memisahkan unsur dari proses dan langkah-langkah sarana tehnis untuk mencapai tujuan kita dengan cara yang sistematis. Dapat dikatakan bahwa etika profesional membuat teknologi pendidikan dapat dilihat karena mungkin untuk menganalisa proses dan produk teknologi pendidikan untuk melihat apakah prinsip-prinsip etika sudah dilaksanakan. Juga memungkinkan bagi ahli teknologi untuk mengikuti prinsip etika profesional berhubungan dengan pelajar dan sekolah, dan dalam memelihara keteraturan sosial.

Dari pandangan instruksional, tidak hanya kode etik yang dibangun tapi juga fungsi yang membuat skenario ilustrasi untuk mendorong diskusi dan generalisasi dalam bidang kerja. Meskipun demikian, pertanyaan substansial adalah apakah ahli teknologi memiliki etika profesional hanya karena mereka harus memilikinya. Kode etik profesional merupakan salah satu ciri yang membuat kelompok okupasional memperoleh klasifikasi sebagai profesi.

Skenario etik dan analisis terbaru sedang ditulis dan dipublikasikan bagi bagian etika profesional dari TechTrend. Seperti sebelumnya, mereka dibuat sebagai bahan instruksional dengan tujuan umum dengan cukup detail untuk membuat ambigu dari prinsip spesifik. Pada kasus yang pertama dipublikasikan, sepertiga dari masalah etika profesional adalah manajemer media dan setengahnya adalah profesor.

Persiapan dalam etika profesional telah disatukan sebagai persyaratan bagi alumni kurikulum. Aspek terpenting adalah kesadaran dari etika profesional membutuhkan pemikiran melalui bagaimana kita menginginkan profesi kita untuk diposisikan di masyarakat pada masa depan. Memiliki etika profesional yang resmi membatu membuat tujuan tersebut nyata dan dapat diketahui.

  1. Implikasi Program Akademik

AECT menghadapi tantangan unik bagi organisasi profesional dari keragaman praktek profesional yang kita coba masukkan dibawah payung organisasi kepada usaha yang terus menerus untuk mengadopsi definisi dari bidang kita yang merepresentasikan keluasan filosofi, praktek dan penelitian. Dengan banyak penghormatan, bidang kita merubah target dan kebanyakan dari kita, praktisi dan akademisi, meyakini lingkungan yang terus berubah dan tantangan dari level yang sama.

Selama periode waktu beberapa dekade, kita telah menunjukkan kepada diri kita dan program kita dengan beberap pengecualian, akan tetapi tidak terbatas pada instruksi visual, spesialis audiovisual, media instruksional, desain dan teknologi instruksional, media edukasi, spesialis media perpustakaan sekolah, teknologi instruksional, dan teknologi.

Seattlers dalam buku The Evolution of American Educational Technology menelusuri sejarah perkembangan dari praktek teknologi pendidikan dan kejadian kontekstual yang mempengaruhi definisi teknologi pendidikan. Penggunaan film bisu, slide dan bahan bergambar lainnya yang digunakan dalam pendidikan menstimulasi pertumbuhan dari bidang instruksi visual, dan kursus di universitas mulai menawarkan subyek ini. Tambahan catatan phonograf, radio, film bersuara, dan media auditori yang lain mengembangkan konsep ini menjadi instruksi audiovisual pada tahun 1950-an.

Berkembangnya riset tentang media selama dan setelah perang dunia II menimbulkan antusiasme baru dan meningkatkan harapan untuk mengkombinasikan media dan metode instruksional untuk meningkatkan pembelajaran. Setelah periode perang dunia II, dari tahun 1945 sampai awal 1960-an, sangat dipengaruhi oleh perkembangan teori komunikasi dan dan banyak kurikulum memasukkan kursus dan tingkat pendidikan dalam komunikasi masal. Karya McLuhan dan Fiore The medium is the message, merupakan karya yang berpengaruh bagi evulusi pada teknologi pendidikan yang mengalihkan perhatian kita pada dua teknologi baru yaitu televisi dan komputer. Mc Luhan menyatakan bahwa pada era informasi, media merupakan sumberdaya yang bari yang dapat meningkatkan kesejahteraan suatu komunitas. Banyak yang berpendapat bahwa pengaruh media pada ekonomi dan budaya kita berlanjut untuk menjadi signifikan dan positif.

Sejak tahun 1980, transisi dan transformasi dari bidang teknologi pendidikan telah menjadi fenomenal. Kita telah mengalihkan perhatian kita kepada kontekstualisasi sifat dasar belajar dan mengajar, dengan riset pada motivasi, pemilihan media, umpan balik, penlilaian, gaya belajar, aplikasi prototipe, dan dan kompleksitas lain yang mempengaruhi belajar mengajar dalam seting apapun. Pengaruh komputer sebagai teknologi yang baru merupakan sesuatu yang tidak terhapuskan dalam bidang ini. Penekanan pada instruksi beralih dari “teacher centered” menjadi “learner centered” sebagaimana tren pada teori belajar konstruktivis yang dihasilkan dari toeri kognitif Vygotsky, Piaget, Bruner, Atkinson dan Schifrin, Ausubel, Paivio dan lain-lain yang masih mengusahakan pembelajaran sebagai perspektif ilmiah.

  1. Sumber-sumber yang mempengaruhi teknologi pendidikan

Indikasi pertama bahwa sebuah bidang studi itu ada adalah munculnya pendidikan visual yang berlanjut dengan pendidikan audiovisual sebagai konsep. Buku-buku yang terdahulu ditulis oleh Hoban, Hoban dan Zisman(1937) dan Dale(1946), yang ditunjang dengan pemanfaatan media secara intensif dan besar-besaran di Amerika Serikat untuk pelatihan militer pada masa perang  Dunia II, mengarahkan pada legimitasi bidang studi teknologi pembelajaran. Peristiwa-peristiwa di belahan bumi yang lain juga mengangkat pentingnya media. Misalnya, di Kanada, Badan Film Nasional, salah satu agen produksi film dokumenter, didirikan pada tahun 1939.

Bersamaan dengan pengenalan dan perkembangan media pembelajaran sebagai wilayah kajian, konsep ilmu pengetahuan pembelajaran mengalami evolusi. Para psikolog pembelajaran memberikan landasan teoritis yang memfokuskan pada variable-variabel yang mempengaruhi belajar dan pembelajaran. Menurut para pioner terdahulu dalam bidang itu, hakikat pembelajaran dan hakikat proses belajar itu sendiri lebih penting dari pada hakikat metodologi penyampaiannya.

Mungkin salah satu perubahan yang paling menonjol dalam teknologi pembelajaran adalah perluasan arena tempat dan wilayah bidang studi. Meskipun bidang studi ini bermula dari pendidikan dasar dan menengah, bidang studi ini kemudian dipengaruhi oleh pelatihan militer, pendidikan orang dewasa, pendidikan pasca sekolah menengah, dan kebanykan kegiatan-kegiatan dalam wilayah kajian yang melibatkan pelatihan karyawan sektor swasta . Oleh karena itu, dalam perkembangnya sekarang, terdapat peningkatan konsentrasi dan isu-isu yang berhubungan dengan perubahan organisasi, perbaikan performasi, dan cost benefet .

Prinsip-prinsip, produk-produk, dan prosedur-prosedur yang dihasilkan teknologi pembelajaran terus berfungsi vital untuk meningkatkan efektivitas sekolah, khususnya dalam restrukturiasi sekolah. Tetapi, banyak teknologi pembelajaran merasa bahwa mereka tidak terlibat secara khusus dalam lingkungan sekolah, dan konsep-konsep mereka pun tidak di perlukan secara khusus. Tetapi teknologi baru dan metodologi penyampaian baru memberikan cara –cara memenuhi kebutuhan khusus pembelajaran dan sekolah. Sebuah contoh fenomena ini ialah munculnya peran pendidikan jarak jauh dari semua tingkat pendidikan, dari tingkat dasar sampai pada pengembangan staf pengajar dan pelatihan karyawan.

Sumber belajar (learning resources) adalah semua sumber baik berupa data, orang dan wujud tertentu yang dapat digunakan oleh peserta didik dalam belajar, baik secara terpisah maupun secara terkombinasi sehingga mempermudah peserta didik dalam mencapai tujuan belajar atau mencapai kompetensi tertentu.

Teknologi pembelajaran dapat dipandang sebagai bidang yang berhubungan dengan aplikasi, meskipun prinsip dan prosedurnya berorientasi teori. Rana-rana dalam bidang studi ini mengalami evolusi melalui penelitian, pengalaman praktis, pengaruh nilai dan kompetesi, dan khususnya pengalaman teknologi  yang digunakan dalam pembelajaran.Tetapi, dasar pengetahuan profesi itu di pahami dan digunakan dari etos khusus yang mendominasi mereka yang menamakan kelompok teknologi pembelajaran. Setiap ranah teknologi pembelajaran dibentuk oleh:

  • Landasan penelitian dan teorinya
  • Nilai dan prespektif yang di yakininya, dan
  • Kemampuan teknologi itu sendiri

Setelah semua perangkat untuk pembelajaran siap, guru mulai melakukan pembelajaran dengan menggunakan sumber belajar internet. Bagi siswa sekolah dasar tentu saja akses-akses yang ringan yang berkaitan dengan mata pelajaran yang diajarkan. Guru memberikan topik tertentu pada siswa, kemudian siswa mencari hal-hal yang berkaitan dengan hal tersebut dengan mencari (download) dari internet. Guru juga dapat memberikan tugas-tugas ringan yang mengharuskan siswa mengakses dari internet. Siswa juga dapat belajar dari internet tentang hal-hal yang up to date yang berkaitan dengan pengetahuan.

Dengan pembelajaran berbasis internet diharapkan siswa akan terbiasa berpikir kritis dan mendorong siswa untuk menjadi pembelajar otodidak.Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya yaitu dengan pembelajaran berbasis internet pengetahuan dan wawasan siswa akan berkembang

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s