Pengembangan Instrumen Penilaian


evaluasi

Konsep Tes Kriteria

Konsep utama dari makalah ini adalah tes Kriteria, merupakan instrumen yang terdiri dari item atau tugas kinerja yang secara langsung mengukur keterampilan yang dideskripsikan dalam satu atau lebih tujuan pembelajaran. Istilah kriteria digunakan karena item tes digunakan sebagai patokan untuk menentukan cukup atau tidaknya performansi pebelajar dalam memenuhi tujuan pembelajaran. Keberhasilan dalam tes ini menentukan apakah pebelajar telah mencapai tujuan dalam unit pembelajaran. Item tes mengacu pada performansi yang dideskripsikan pada tujuan. Kata patokan berhubungan dengan spesifikasi dari kecukupan performansi yang dibutuhkan untuk menguasai. Kejelasan dalam menentukan tujuan dan kriteria untuk performansi yang memadai dibutuhkan sebagai panduan untuk membuat tes yang memadai. Berdasarkan atas tujuan performansi tertentu menggunakan kriteria yang dibuat, postest membutuhkan hanya satu atau banyak item.

Tipe Tes Kriteria

Terdapat empat tipe tes Kriteria yang dapat dibuat oleh desainer diantaranya, tes keterampilan awal, pretes, tes praktek dan postes.

  1. Tes Keterampilan awal

Tes ini mengukur keterampilan awal yang dikuasai oleh pebelajar, atau keterampilan yang seharusnya dikuasai pebelajar sebelum memulai pembelajaran. Jika terdapat keterampilan awal untuk suatu pembelajaran, item tes harus dikembangkan dan digunakan selama evaluasi formatif. Jika tidak teradapat keterampilan awal yang signifikan selama analisis pembelajaran, maka tidak diperlukan untuk mengembangkan item tes.

  1. Pretes

Pretes dilaksanakan bagi pebelajar sebelum mereka memulai pembelajaran untuk menentukan apakah mereka sebelumnya sudah menguasai beberapa atau semua keterampilan yang termasuk dalam pembelajaran. Jika semua keterampilan sudah dikuasai maka pembelajaran tidak diperlukan. Sedangkan jika sebagian keterampilan sudah dikuasai maka data pretes memungkinkan desainer untuk menjadi lebih efisien dalam menciptakan pembelajaran.

Tes keterampilan awal dan pretes dilakukan sebelum pembelajaran. Item tes yang berbeda mengukur keterampilan yang berbeda dari diagram tujuan instruksional, dan desainer akan membuat keputusan yang berbeda berdasarkan nilai dari dua set item tersebut. Dari nilai tes kemampuan awal desainer menentukan apakah pebelajar siap untuk memulai pembelajaran. Dari nilai pretes desainer menentukan apakah pembelajaran terlalu mudah bagi pebelajar, jika terlalu mudah, bagaimana mengembangkan pembelajaran yang paling efisien untuk kelompok tertentu.

  1. Tes Praktek

Tujuan tes praktek adalah menilai partisiasi aktif pebelajar selama pembelajaran. Tes praktek memungkinkan pebelajar untuk melatih pengetahuan dan keterampilan baru dan untuk menentukan bagi diri mereka sendiri tingkat pemahaman dan keterampilan mereka. Instruktur menggunakan respon pebelajar terhadap tes praktek untuk menyediakan umpan balik yang bersifat korektif dan untuk memantau langkah pembelajaran. Tes praktek terdiri dari sedikit keterampilan dari pada pretes atau postes, dan fokus pada pelajaran.

  1. Postes

Postes dilaksanakan setelah pembelajaran, dan bersifat paralel dengan pretes, namun tidak memasukkan item tes keterampilan awal. Sama dengan pretes, postes mengukur tujuan yang dimasukkan dalam pembelajaran. Desainer harus mampu menghubungkan keterampilan yang di tes dengan item pada postes. Postes digunakan untuk mengukur performansi pebelajar dan untuk memberikan penghargaan atas keberhasilan menyelesaikan program kursus. Bagaimanapun tujuan awal dari postes adalah membantu desainer mengidentifikasi bagian pembelajaran yang tidak berfungsi. Jika pebelajar gagal mencapai tujuan pembelajaran, desainer harus mengidentifikasi pada bagian mana dalam proses belajar yang mulai tidak difahami oleh pebelajar.

Pada tabel berikut dapat diketahui perbedaan tipe-tipe tes tersebut:

No Tipe Tes Keputusan Desainer Objek yang diuji
1. Tes keterampilan awal ·      Apakah pebelajar siap untuk memulai pembelajaran?

·      Apakah pebelajar memiliki keterampilan persyaratan yang dibutuhkan?

·      Keterampilan persyaratan
2. Pretes ·      Apakah pebelajar sebelumnya sudah menguasai keterampilan yang akan diajarkan?

·      Keterampilan khusus yang mana yang sudah dikuasai?

·      Bagaimana saya dapat mengembangkan pembelajaran ini secara efisien?

·      Tujuan pembelajaran

·      Tahapan awal dari analisis tujuan

3. Tes Praktek ·      Apakah pebelajar memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang diharapkan?

·      Kesalahan dan miskonsepsi apa yang mereka bentuk?

·      Apakah pebelajaran sudah di bagi dengan benar?

·      Apakah langkah pembelajaran sudah sesuai bagi pebelajar?

·      Pengetahuan dan keterampilan untuk satu bagian dari tujuan pembelajaran
4. Postes ·      Apakah pebelajar mencapai tujuan terminal?

·      Apakah pembelajaran lebih atau kurang efektif untuk masing-masing tahap pada masing-masing keterampilan bawahan?

·      Pada bagian mana pembelajaran harus direvisi?

·      Apakah pebelajar sudah menguasai informasi, keterampilan dan sikap yang diharapkan?

·       Tujuan terminal

·       Tahapan utama dan keterampilan bawahannya

  1. Desain Tes

Pertimbangan utama dalam mendesain tes adalah kesesuaian antara domain pembelajaran dengan tipe item tes. Tujuan pembelajaran dalam domain informasi verbal membutuhkan item tes berbentuk format jawaban singkat, respon alternatif, mencocokkan, dan pilihan ganda. Relatif mudah untuk menguji respon informasi verbal, apakah secara tertulis atau secara lisan, dan menentukan apakah mereka sudah menguasai tujuan informasi verbal. Pebelajar mampu mengulang kembali informasi yang sesuai atau tidak.

Tujuan dalam domain keterampilan intelektual lebih kompleks, dan membutuhkan item tes objektif, pembuatan produk, atau performansi langsung. Pada tingkatan tertinggi dari keterampilan intelektual, lebih sulit untuk menciptakan item tes atau tugas, dan lebih sulit untuk menentukan kesesuaian respon.

Asesmen dalam domain sikap juga bersifat kompleks. Tujuan afektif umumnya memperhatikan sikap atau preferensi pebelajar. Biasanya tidak terdapat cara langsung untuk mengukur sikap seseorang. Item untuk tujuan afektif umumnya memberikan kesempatan pebelajar menyatakan preferensinya atau instruktur mengawasi perilaku pebelajar dan menyimpulkan sikap dari tindakan mereka. Contohnya jika pebelajar secara sukarela terlibat dalam dukungan terhadap promosi pegawai minoritas dalam tiga kesempatan yang berbeda, instruktur dapat menyimpulkan bahwa mereka mendukung keberagaman. Berdasarkan preferensi yang dinyatakan atau perilaku yang diobservasi, kesimpulan tentang sikap dapat dibuat.

Item tes untuk tujuan domain psikomotor biasanya terdiri dari seperangkat arahan tentang bagaimana mendemonstrasikan tugas, dan mengharuskan pebelajar untuk menampilkan tahapan yang menunjukkan tujuan instruksional. Lebih lanjut, kriteria untuk performansi yang dapat diterima harus diidentifikasi dan dirubah dalam bentuk ceklis atau skala yang digunakan instruktur untuk menunjukkan apakah masing-masing langkah sudah dilakukan dengan benar. Desainer berkeinginan untuk menguji keterampilan bawahan untuk keterampilan motorik. Kadangkala performansi dari keterampilan psikomotor seperti membuat pot keramik, hasilnya berbentuk penciptaan produk. Memungkinkan untuk mengembangkan daftar kriteria untuk menentukan kesesuaian dari produk ini.

  1. Penentuan Tingkat Ketuntasan

Untuk tiap-tiap tujuan performansi yang ditulis harus terdapat kriteria yang dijelaskan secara spesifik, yang menunjukkan seberapa baik pebelajar harus melakukan keterampilan yang dideskripsikan dalam tujuan pada tes yang dibuat. Kriteria menunjukkan tingkat ketuntasan dari pebelajar.

Peneliti yang mengkaji sistem belajar tuntas menyarankan bahwa ketuntasan sama dengan tingkat performansi normal yang diharapkan dari pebelajar yang terbaik. Metode definisi ketuntasan ini merupakan metode referensi norma. Pendekatan kedua terhadap ketuntasan adalah pendekatan statistik. Jika desainer ingin memastikan bahwa pebelajar benar-benar menguasai suatu keterampilan sebelum mereka melanjutkan ke unit pembelajaran berikutnya. Ketika item tes yang digunakan adalah pilihan ganda, cukup mudah untuk menghitung probabilitas dari nomor jawaban yang benar. Menggunakan item tes yang lain lebih sulit untuk menghitung probabilitas performansi.

Tingkat ketuntasan yang ideal salah satunya didefiniskan dengan performansi yang tepat dan eskplisit yang mendefinisikan ketuntasan. Dapat diargumentasikan bahwa dalam rangka para prajurit mempelajari untuk mengirim pesan berupa kode, mereka harus mampu untuk mengeja istilah militer standar. Dalam kasus ini, tingkat ketuntasan 100 % untuk unit mengeja istilah militer tidak sepenuhnya bisa dilakukan. Hal itu berdasarkan pada kepentingan keterampilan pada pertanyaan terhadap pembelajaran keterampilan bawahan. Semakin besar hubungan antara keduanya, semakin tinggi tingkat ketuntasan harus dibuat. Sebagai prinsip umum, tingkat ketuntasan untuk performansi apapun harus dipertimbangkan dengan memperhatikan evaluasi performansi pada suatu saat dan meningkatkan pembelajaran keterampilan bawahan yang berhubungan pada satu unit atau pada bagian kursus yang tersisa.

Pada beberapa situasi, definisi yang terbaik tentang ketuntasan adalah tingkat yang dibutuhkan untuk berhasil dalam pekerjaan. Dengan keterampilan yang kompleks terdapat rangkaian kesatuan dari performansi, dengan pemula pada satu sisi dan ahli yang berpengalaman pada sisi lainnya. Tingkat apa yang dibutuhkan pada dunia kerja atau pada transfer tugas yang diharapkan untuk dilakukan. Analisis konteks performansi dapat berguna dalam proses tes Kriteria

  1. Pengembangan Indikator

Tehnik penulisan butir tes yang tepat harus diterapkan pada pengembangan tes Kriteria. Terdapat empat kategori dari kualitas item tes yang harus diperhatikan selama pembuatan item tes.

  1. Kriteria berpusat pada tujuan

Item tes dan tugas harus menyatu dengan tujuan performansi. Harus menyesuaikan perilaku, termasuk tindakan dan konsep harus ditentukan. Untuk mencocokkan respon yang dibutuhkan pada item tes terhadap perilaku yang disebutkan secara spesifik dalam tujuan, desainer harus mempertimbangkan tugas pembelajaran atau kata kerja yang ditentukan pada tujuan. Tujuan yang meminta peserta didik untuk menyatakan atau mendefinisikan, melakukan dengan petunjuk atau melakukan secara independen semua membutuhkan format pertanyaan dan respon yang berbeda. Penting untuk memastikan bahwa item tes mengukur perilaku yang tepat yang dideskripsikan pada tujuan. Contohnya jika tujuan menunjukkan bahwa pebelajar dapat mencocokkan deskripisi dari konsep tertentu dengan label tertentu, maka item tes harus memasukkan deskripsi dari konsep dan kumpulan label, yang diminta kepada pebelajar untuk mencocokkan. Penting untuk memperhatikan dengan hati-hati perilaku yang dideskirpiskan pada kata kerja dari tujuan pembelajaran. Jika kata kerja mencocokkan, mendaftar, memilih, atau menjelaskan, maka harus disediakan item tes yang memungkinkan pebelajar untuk mencocokkan, mendaftar, memilih, atau mendeskripsikan. Tujuan akan menentukan sifat dari item. Tidak dapat secara sewenang-wenang untuk menentukan untuk menggunakan format item tertentu. Tes dan item format tergantung dari kata kerja tujuan pembelajaran.

 

 

  1. Kriteria berpusat pada pebelajar

Item tes harus terikat dengan karakteristik dan kebutuhan pebelajar, termasuk pertimbangan seperti kebutuhan pebelajar, kosa kata dan tingkat bahasa, tingkat perkembangan untuk seting kompleksitas tugas yang tepat, motivasi dan tingkat perhaian, pengalaman dan latar belakang, kebutuhan khusus dan bebas dari bias. Kosa kata yang digunakan pada arahan untuk menyelesaikan pertanyaan dan pada pertanyaan itu sendiri harus sesuai dengan kemampuan pebelajar. Item tes tidak boleh dituliskan pada tingkat kosakata desainer kecuali jika tingkatannya sama dengan yang diharapkan pada pebelajar. Pebelajar tidak boleh melewati pertanyaan karena istilah yang tidak familiar. Jika definisi dari istilah tertentu merupakan persyaratan untuk melaksanakan keterampilan, maka definisi tersebut harus dimasukkan dalam pembelajaran. Penghapusan istilah dan definisi yang penting merupakan kesalahan yang umum. Pertimbangan lain yang berhubungan dengan konteks dan pengalaman adalah pebelajar tidak boleh melewati item atau tugas karena menggunakan format tes yang tidak familiar.

  1. Kriteria berpusat pada konteks

Item tes dan tugas harus realistis atau otentik terhadap performansi yang sebenarnya. Kriteria ini membantu untuk memastikan transfer pengetahuan dan keterampilan dari pembelajaran kepada lingkungan performansi. Kadangkala seting pembelajaran gagal untuk mencakup kebutuhan yang penting untuk menghasilkan kembali persyaratan performansi yang tepat. Kriteria ini membantu meyainkan transfer pengetahuan dan keterampilan dari pembelajaran kepada lingkungan performansi.

  1. Kriteria berpusat pada tes

Untuk meyakinkan kejelasan item dan tugas dan untuk meminimalisir kekacauan tes, pebelajar harus menerima semua informasi yang penting untuk menjawab sebuah pertanyaan sebelum mereka diminta untuk menjawab. Secara ideal, pebelajar harus membaca pertanyaan atau arahan, secara mental memformulasikan jawaban, dan kemudian memberikan jawaban atau memilihnya dari alternatif pilihan jawaban yang diberikan.

  1. Format Item Tes dan Tujuan Performansi

Perilaku yang disebutkan secara spesifik pada tujuan memberikan petunjuk pada tipe item atau tugas yang dapat digunakan untuk menguji performansi. Pada tabel berikut dapat diketahui pada kolom yang paling kiri merupakan daftar tipe perilaku yang ditentukan pada tujuan performansi. Pada bagian atas merupan tipe item tes yang dapat digunakan untuk mengevaluasi performansi pebelajar untuk masing-masing tipe perilaku.

TIPE PERILAKU TIPE ITEM TES
MELENGKAPI JAWABAN SINGKAT MENJODOHKAN PILIHAN GANDA ESAI PENGEMBANGAN PRODUK PERFORMANS LANGSUNG
Menyatakan

mendefinisikan

Mengidentifikasi

X

X

X

X

X

X

 

X

X

 

X

X

Membedakan

Memilih

Menempatkan

X

X

X

X

X

X

X

X

X

Mengevaluasi

Memecahkan masalah

Mendiskusikan

X

X

 

 

X

X

X

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

 

X

Mengembangkan

Mengkonstruksikan

Menggeneralisasi

X

X

X

X

X

X

X

X

X

Mengoperasikan

Memilih (sikap)

X

X

 

Terdapat faktor lain yang harus dipertimbangkan ketika memilih format item tes terbaik. Masing-masing tipe item tes memiliki kelebihan dan keterbatasan. Untuk memilih tipe item tes terbaik dengan cara mempertimbangkan faktor-faktor seperti waktu yang dibutuhkan untuk menjawab oleh pebelajar, waktu penskoran yang dibutuhkan untuk menganalisa dan menentukan jawaban, lingkungan tes dan probabilitas memperkirakan jawaban yang benar.

Lingkungan tes juga merupakan faktor penting dalam pemilihan format item. Perlengkapan dan fasilitas apa yang tersedia bagi situasi tes? Dapatkah pebelajar menampilkan keterampilan yang telah dijelaskan pada tujuan? Jika fasilitas perlengkapan tidak tersedia, dapatkah simulasi realistis, apakah menggunakan kertas atau pensil atau format lain, dapatkah dibentuk?

  1. Tes Objektif

Tes objektif termasuk item tes yang mudah diselesaikan oleh pebelajar dan mudah bagi desainer untuk memberikan skor. Jawabannya singkat, biasanya di berikan skor benar atau salah. Format objektif termasuk melengkapi, jawaban singkat, benar salah, mencocokkan, dan pilihan ganda. Item tes yang harus di berikan skor menggunakan daftar cek atau rubrik termasuk item esai, bukan merupakan item objektif.

 

 

 

  1. Menulis item tes objektif

Apakah penulisan tes berpusat pada tujuan, pebelajar, konteks atau penilaian, desainer dapat menggunakan keempat kriteria dalam mengembangkan item tes objektif yang efektif.

  1. Menuliskan Arahan

Tes harus mamasukkan arahan yang jelas. Biasanya terdapat arahan pembuka terhadap keseluruhan tes dan arahan subbagian ketiak format item berubah. Informasi berikut biasanya dimasukkan pada perubahan arah tes yaitu:

  1. Judul tes
  2. Pernyataan singkat tentang tujuan atau performansi yang didemonstrasikan dan jumlah skor yang diberikan untuk jawaban yang benar
  3. Instruksi bahwa kata-kata harus dibaca secara sepsifik untuk mendapatkan nilai tinggi.
  4. Batasan waktu, batasan kata-kata, atau batasan ruang.
  5. Instrumen Penilaian Alternatif untuk Performansi, Produk dan Sikap

Mengembangkan instrumen penilaian alternatif yang digunakan untuk mengukur performansi, produk dan sikap membutuhkan penulisan arahan untuk memandu aktivitas pebelajar dan membuat rubrik untuk membatasi evaluasi dari performansi, produk dan sikap. Banyak keterampilan intelektual yang kompleks memiliki dua tujuan yaitu proses dan produk. Instruktur dapat menilai proses dengan menguji deskripsi pebelajar tentang proses yang mereka lakukan dengan menggunakan skala untuk mengevaluasi masing-masing tahap dalam proses.

  1. Menuliskan Arahan

Arahan kepada pebelajar tentang performansi dan produk harus secara jelas menggambarkan apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya, termasuk persyaratan khusus seperti sumberdaya dan batasan waktu. Dalam menulis arahan, harus dipertimbangkan jumlah arahan yang harus disediakan. Faktor yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah arahan yang diberikan seperti jumlah keterampilan yang diuji, termasuk kompleksitasnya, tingkat kepuasan dari target pebelajar dan situasi alami dimana pebelajar mentransfer pengetahuan seperti yang ditentukan dalam analisis konteks.

 

 

  1. Mengembangkan Instrumen

Sebagai tambahan setelah menuliskan arahan bagi pebelajar, harus dikembangkan rubrik untuk memandu evaluasi performansi, produk, atau sikap. Terdapat lima tahapan dalam mengembangkan instrumen:

  1. Mengidentifikasi unsur yang akan dievaluasi
  2. Uraikan dengan kata-kata sendiri masing-masing unsur
  3. Urutkan unsur dari instrumen
  4. Pilih tipe keputusan yang akan dibuat oleh evaluator
  5. Tentukan bagaimana instrumen akan di berikan skor
  6. Mengidentifikasi, menguraikan dan mengurutkan unsur-unsur

Sama seperti item tes, unsur yang akan diputuskan juga diambil langsung dari perilaku yang dimasukkan dalam tujuan pembelajaran. Harus dipastikan bahwa unsur-unsur yang dipilih dapat diobservasi dengan jelas selama performansi atau dalam produk.

Masing-masing unsur harus dijelaskan pada instrumen. Waktu yang tersedia untuk mengamati khususnya untuk performansi aktif harus dibatasi dan panjang deskripsi seperti yang terdapat pada tujuan akan menghambat proses. Dalam menguraikan unsur-unsur, juga penting untuk menyatakan bahwa respon ya dari evaluator merefleksikan hasil yang positif dan respon tidak untuk merefleksikan hasil negatif. Perhatikan contoh berikut:

Salah Ya Tidak Benar Ya Tidak
1. Memelihara kontak mata 1. Memelihara kontak mata
2. Berhenti dengan “dan, uh” 2. Menghindari “dan, uh” ketika berhenti
3. Kehilangan kerangka berfikir, ide 3. Menfokuskan fikiran dan ide

 

Pada contoh yang tidak benar daftar perilaku yang diamati menggabungkan hasil positif dan negatif yang sangat sulit untuk diberikan skor. Sedangkan pada contoh yang benar terdapat konsistensi yang memudahkan untuk menghitung jumlah jawaban ya dan memperoleh skor keseluruhan yang menunjukkan kualitas performansi atau produk.

Setelah unsur-unsur dideskripsikan, kemudian harus diurutkan dalam instrumen. Urutannya harus sesuai dengan urutan performansi atau proyek yang akan dinilai. Contoh evaluasi esai atau paragraf harus memasukkan ciri-ciri yang berhubungan dengan pendahuluan terlebih dahulu, ide pendukung pada bagian kedua, dan kesimpulan pada bagian akhir. Urutan yang benar dari perilaku teller bank adalah menyapa konsumen, melaksanakan transaksi, dan mengakhiri transaksi.

  1. Mengembangkan Format Respon

Langkah keempat dalam mengembangkan instrumen untuk mengukur performansi, produk atau sikap adalah menentukan bagaimana evaluator akan membuat dan mencatat keputusan. Terdapat tiga format respon evaluator yaitu daftar cek, skala penilaian yang membutuhkan tingkat kualitas perbedaan (kurang, cukup, dan baik), perhitungan frekuensi dari munculnya suatu elemen, atau beberapa kombinasi dari format ini. Tipe respon evaluator terbaik tergantung dari faktor-faktor berikut:

  1. Sifat dan kompleksitas unsur yang diobservasi.
  2. Waktu yang tersedia untuk observasi
  3. Akurasi atau konsistensi yang dapat digunakan oleh evaluator untuk membuat keputusan.
  4. Kualitas umpan balik yang dapat diberikan kepada peserta ujian.

Berikut ini format pengukuran performansi yaitu:

  1. Daftar cek

Format yang paling mendasar adalah daftar cek. Jika menggunakan daftar cek, dapat dengan mudah melengkapi instrumen dengan memasukkan dua kolom setelah deskripsi unsur yang akan diobservasi, kolom ya menunjukkan bahwa masing-masing unsur ada dan kolom tidak menunjukkan ketiadaan unsur. Keuntungan daftar cek adalah dapat memasukkan sejumlah unsur yang berbeda yang dapat diobservasi dalam jumlah waktu yang tersedia, dengan cepat dapat diselesaikan oleh evaluator, konsistensi dan reliabilitas keputusan dapat dibuat, dan kemudahan memperoleh skor untuk keseluruhan performansi.

  1. Skala penilaian

Daftar cek dapat dirubah menjadi skala penilaian dengan mengembangkan jumlah kualitas tingkat keputusan untuk masing-masing unsur dimana kualitas perbedaan mungkin terjadi. Dalam skala penilaian digunakan tiga kolom yang terdiri dari tidak ada (0), ada (1), baik (2) atau kurang (1), cukup (2), dan baik (3). Sama seperti daftar cek, skala penilaian memiliki ciri positif dan negatif. Pada bagian positif, memungkinkan evaluasi analitis dari subkomponen performansi atau produk, dan memberikan umpan balik yang lebih baik untuk peserta ujian tentang kualitas performansi dari pada yang diperoleh dari daftar cek. Sisi negatifnya membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk digunakan karena perbedaan yang lebih baik harus dibuat tentang kualtias dari masing-masing unsur yang dievaluasi. Dua strategi untuk mengembangkan skala yang dapat digunakan adalah yang pertama memberikan deskripsi verbal yang jelas untuk masing-masing tingkat kualitas, dari pada hanya menggunakan kategori nomor dan istilah umum seperti (1) tidak memadai, (2) memadai, dan (3) baik, harus menggunakan deskriptor verval yang menampilkan kriteria spesifik untuk masing-masing tingkat kulaitas. Pertimbangkan contoh berikut ini yang berhubungan dengan kalimat topik dalam paragraf.

Umum
Tidak Ada Kurang Cukup Baik
1. Kalimat topik 0 1 2 3
Pengembangan
Tidak ada Terlalu luas/spesifik Spesifik benar Spesifik benar dan penting
1. Kalimat topik 0 1 2 3

 

Kedua skala respon mempunyai empat tingkatan. Contoh pertama terdiri dari penjelasan untuk masing-masing penilaian, namun pertanyaan tentang apa yang menjadikan kalimat topik tersebut kurang, cukup dan baik masih tidak jelas. Dalam format yang sudah dikembangkan, kriteria untuk memilih masing-masing penilaian lebih jelas didefinisikan. Semakin spesifik dalam memberi nama kriteria yang berhubungan dengan masing-masing tingkat kualitas, semakin reliabel dalam menghitung kualitas unsur yang dinilai.

  1. Penghitungan Frekuensi

Penghitungan frekuensi dibutuhkan ketika unsur yang akan diamati, apakah positif atau negatif, dapat diulangi beberapa kali oleh peserta ujian selama performansi atau dalam produk. Contohnya pada produk seperti laporan tertulis, tipe yang sama dari ciri yang luar biasa atau salah dapat terjadi beberap akali. Selama performansi seperti pertandingan tenis, servis akan diulang berkali-kali, kadang efektif dan kadang tidak. Dalam penilaian perilaku seperti teler bank, dapat diobservasi selama transaksi dengan banyak pelanggan dan pada hari yang berbeda. Contoh dari perilaku positif dan negatif yang dilakukan oleh teller harus dibuat talli yang meliputi pelanggan dan hari. Seperti pada tabel berikut:

No Perilaku yang diamati Talli Frekuensi
1.

2.

Servise yang efektif

Smash yang efektif

IIII IIII

III

10

3

  1. Prosedur Penskoran

Aktivitas akhir dalam pembuatan instrumen untuk mengukur produk, performansi dan sikap adalah menentukan bagaimana instrumen akan diberikan skor. Seperti tes kertas dan pensil, dibutuhkan skor seperti skor performansi secara keseluruhan. Daftar cek merupakan format instrumen yang paling mudah untuk diberikan skor. Respon ya untuk semua unsur yang berhubungan dengan satu tujuan dapat dijumlahkan untuk memperoleh skor, dan jumlah respon ya dapat dijumlahkan dari seluruh total instrumen untuk memperoleh penilaian keseluruan bagi peserta ujian.

Tidak sama seperti tes objektif, daftar cek dan skala penilaian, menentukan prosedur penskoran untuk penghitungan frekuensi lebih sulit untuk dilakukan. Prosedur terbaik untuk digunakan harus ditentukan berdasarkan dasar situasi spesifik, dan tergantung dari sifat keterampilan atau sikap yang diukur. Contohnya ketika menilai performansi interaktif dari guru kelas atau personil penjualan, beberapa contoh perilaku yang akan diamati akan terjadi selama evaluasi. Pada kasus tersebut harus dipertimbangkan harus dipertimbangkan apakah kekurangan merupakan hasil yang negatif atau netral. Pada situasi yang lain seperti tenis, anda akan mempunyai banyak kesempatan untuk mengamati unsur-usnur seperti servis dan dan dengan cukup mudah untuk mentally jumlah total servis yang dilakukan pemain dan menghitung proporsi dari keseluruhan servis yang dilakukan dengan strategi, kesalahan kaki, servis yang terlambat dan seterusnya. Ketika kalkulasi ini dibuat, harus ditentukan bagaimana menggabungkan informasi ini untuk membuat skor pada tujuan pembelajaran yang berhubungan dengan bola tenis.

  1. Penilaian Portofiolio

Penilaian portofolio merupakan proses meta evaluasi yang terdiri dari kumpulan hasil kerja bagi perubahan atau pengembangan yang dapat diamati. Terdapat lima kriteria dalam mendesain penilaian portofolio yang berkualitas:

  1. Tujuan pembelajaran yang dimasukkan dalam penilaian portofolio harus sangat penting.
  2. Sampel kerja harus menggambarkan tujuan instruksional yang spesifik.
  3. Sampel kerja harus merupakan penilaian kriteria yang dikumpulkan selama proses pembelajaran.
  4. Penilaian berupa pretes dan postes secara rutin.
  5. Tiap penilaian dilengkapi dengan rubrik yang merespon siswa yang menunjukkan kekuatan dan masalah dalam performansi.

 

 

  1. Contoh Daftar Cek Untuk Evaluasi Keterampilan Psikomotor

Dalam mengukur keterampilan Psikomotor, dibutuhkan rubrik yang dapat digunakan untuk mencatat evaluasi dari performansi.

Daftar Cek untuk Mengevaluasi Keterampilan Psikomotor (Mengganti Ban)
Nama Tanggal Skor
_____________ 1. Memperoleh peralatan ______ ______
_____________ 2. Mengangkat mobil Ya Tidak
2.1 Mencek penggunaan dongrak

a.       mencantelkan pegangan dongkrak dengan aman

b.      memompa pegangan untuk mengangkat dongkrak

c.       mengendurkan dan menurunkan dongkrak

 

______

 

______

 

______

 

______

 

______

 

_____

 

2.2 Memposisikan dongkrak

a.       mencek lokasi mobil dan stabilitas

b.      alihkan mobil jika dibutuhkan

c.       tempatkan sesuai dengan dongkrak

d.      posisikan dongkrak pada tempat yang tepat

 

______

______

______

______

 

 

______

______

______

______

 

2.3  Menambatkan dongkrak ke mobil

a.       Raih dongkrak untuk menemui kerangka

b.      Evaluasi kontak antara dongkrak dengan mobil

c.       Atur posisi dongkrak jika dibutuhkan

 

______

______

 

______

 

______

______

 

______

2.4  Tempatkan blok disamping roda

a.       Tempatkan blok yang sesuai

b.      Tempatkan blok sebelum roda

c.       Tempatkan blok dibelakang roda

 

______

______

______

 

______

______

______

_____________ 3. Pindahkan roda ______ ______
_____________ 4. Ganti roda ______ ______

 

  1. Instrumen untuk Mengevaluasi Sikap

Berikut ini contoh evaluasi sikap terhadap teller bank, karena teller bank harus dievaluasi pada tempat performansi menggunakan beberapa contoh transaksi dengan pelanggan pada tabel berikut ini:

Instrumen penghitungan frekuensi untuk mengevaluasi sikap (pelayanan yang sopan)
Nama _______________________________________ Tanggal
Jumlah Transaksi yang diamati _______________ Total Total
A. Pendekatan Pelanggan dan Teller Ya Tidak
1. Tersenyum IIII IIII IIII
2. Mengawali menyapa IIII IIII IIII
3. Personalisasi komentar IIII IIII IIII
4. Memohon maag atas keterlambatan IIII II
5. Meminta jasa IIII IIII IIII I
6. Mempersilahkan antri IIII IIII III
7. Lainnya
B. Selama Transaksi
1. Mendengar dengan baik IIII IIII IIII
2. Meminta informasi klarifikasi IIII IIII
3. Menyediakan form yang dibutuhkan IIII IIII
4. Melengkapi form IIII IIII
5. Menjelaskan perubahan yang dibuat IIII IIII
6. Menjelaskan bahan yang dikembalikan IIII IIII II III
7. Lainnya
C. Mengakhiri Transaksi
1. Menanyakan transaksi yang lain IIII IIII IIII
2. Mengatakan terimakasih IIII IIII IIII
3. Merespon komentar pelanggan IIII IIII IIII
4. Membuat permohonan penutup IIII IIII IIII
5. Lainnya
  1. Tes Item untuk Keterampilan Kognitif

Berikut contoh item tes keterampilan kognitif

Tujuan performansi untuk keterampilan bawahan Item Tes Paralel
6.1.1 Diminta untuk menulis nama tindakan anggota yang memfasilitasi interaksi kooperatif (C), peserta (A) memberinama tindakan tersebut (B), paling sedikit tujuh tidakan fasilitasi yang harus diberinama (D) 1. Tulis daftar tindakan positif dan anggota komisi yang memfasilitasi interaksi kelompok kooperatif selama pertemuan NCW
6.1.2 Diminta menulis untuk menunjukkan apa yang harus dilakukan anggota ketika ide mereka ditanyakan oleh kelompok (C), tentukan reaksi positif yang membantu interaksi kelompok yang koperatif (B), Peserta (A), menentukan paling sedikit tiga reaksi 1. Misalkan anda mengemukakan ide baru selama pertemuan NCW dan ide anda dipertanyakan oleh satu atau lebih anggota komisi. Reaksi positif apa yang anda berikan untuk memfasilitasi interaksi kelompok yang koperatif
6.2.1 Diberikan deskripsi tertulis tentang anggota kelompok yang memfasilitasi tindakan selama pertemuan (C), tentukan apakah tindakan tersebut tergolong koperatif (B) Peserta (A) harus mengklasifikasi paling sedikit 80 % dari tindakan yang dideskripsikan 1. Baca teks tentang pertemuan NCW. Setiap pemimpin atau anggota NCW melakukan perilaku koperatif, berikan tanda disamping garis teks.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s