Aplikasi Pengukuran dan Evaluasi


Capture7

BAB I

PENDAHULUAN

 

Latar Belakang

Dalam kehidupan sehari-hari tanpa disadari sebenarnya kita sering membuat suatu kegiatan evaluasi dan selalu menggunakan prinsip mengukur dan menilai. Namun, banyak orang belum memahami secara tepat arti kata evaluasi, pengukuran, dan penilaian bahkan masih banyak orang yang lebih cenderung mengartikan ketiga kata tersebut dengan suatu pengertian yang sama. Secara umum orang hanya mengidentikkan kegiatan evaluasi sama dengan menilai, karena aktifitas mengukur biasanya sudah termasuk didalamnya.

Pengukuran, penilaian dan evaluasi merupakan kegiatan yang bersifat hierarki. Artinya ketiga kegiatan tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan dalam pelaksanaannya harus dilaksanakan secara berurutan. Setiap orang pada saat-saat tertentu harus membuat keputusan pendidikan, yaitu keputusan yang berkaitan dengan soal pendidikan, baik yang menyangkut diri sendiri ataupun orang lain. Keputusan-keputusan semacam ini dapat mempunyai ruang lingkup yang besar, seperti misalnya keputusan seorang Menteri Pendidikan dan kebudayaan tentang penerapan sistem baru dalam penyelenggaraan pendidikan, atau keputusan seorang Rektor tentang nilai batas lulus calon-calon mahasiswa, dapat pula mempunyai ruang lingkup yang kecil, seperti misalnya keputusan seorang ibu tentang perlu atau tidaknya mengharuskan anaknya belajar secara tetap setiap malam atau putusan seorang mahasiswa mengenai mata kuliah pilihan mana yang akan diambilnya pada suatu semester. Untuk dapat dicapainya keputusan yang baik diperlukan informasi yang lengkap dan tepat. Informasi semacam ini akan diperoleh melalui pengukuran dan penilaian pendidikan. Pengumpulan, pengolahan, pengaturan dan penyajian informasi pendidikan melalui pengukuran dan penilaian menjadi tugas dan tanggung jawab para pendidikan. Dalam pelaksanaannya para pendidik dapat memanfaatkan jasa profesi lain, seperti jasa ahli pengukuran dan ahli komputer.

Continue reading

Advertisements

Tugas Ujian Semester Landasan Teknologi Pendidikan


Capture6

  1. Definisi dan Terminologi oleh AECT

Teknologi pendidikan adalah studi dan praktek etik dari memfasilitasi pembelajaran dan meningkatkan kinerja dengan menciptakan, menggunakan, dan mengatur proses dan sumberdaya teknologi yang tepat.

Dari definisi tersebut terdapat beberapa konsep penting diantaranya studi. Studi merujuk pada pengumpulan dan analisis informasi dibalik konsep tradisonal tentang penelitian, termasuk penelitian kualitatif dan kuantitatif dan juga bentuk disiplin inkuiri lainnya seperti pembuatan teori, analisa filosofis, investigasi sejarah, proyek pengembangan, analisis kesalahan, analisis sistem dan evaluasi.

Konsep kedua dari definisi tersebut adalah praktek etik. Teknologi pendidikan telah sejak lama memiliki kode etik tersendiri. Komite etik dari AECT secara aktif telah mendefinisikan standar etika bidang ini dan menyediakan contoh kasus yang akan didiskusikan dan difahami. Kode etik profesional dari AECT termasuk didalamnya prisip bersedia untuk membantu para anggota baik secara individual maupun secara kolektif dalam memelihara tingkatan tinggi dari perilaku profesional.

Continue reading

Nilai (Landasan Teknologi Pendidikan)


Capture5

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang

Definisi mendasar yang didiskusikan dalam makalah ini menyatakan bahwa konsep teknologi pendidikan meliputi sejumlah nilai profesional, etika dan moral. Sentralitas dari nilai-nilai tersebut semakin nyata ketika memandang teknologi pendidikan sebagai bidang atau profesi. Kode etik yang yang meliputi kelompok nilai utama, secara umum dianggap ciri penting dari suatu profesi. Dibalik dimensi moral dan etika, pernyataan nilai juga memiliki manfaat praktis. Organisasi yang berkomitmen terhadap nilai pokok akan lebih efektif. Hasil riset menunjukkan bahwa mereka cenderung untuk tidak menunjukkan kinerja yang baik pada organisasi yang tidak memiliki nilai-nilai eksplisit.

Definisi kerja awalnya mengakui beberapa nilai umum akan tetapi tidak mendiskusikannya secara mendalam. Contohnya definisi terbaru dari AECT menyatakan bahwa ahli teknologi instruksional, sebagai komunitas profesi, cenderung untuk menilai konsep seperti, kemampuan untuk meniru dari suatu instruksi, individualisasi, efisiensi, kemampuan untuk menjadi umum dari proses seluruh konten, perencanaan yang detil, analsisi dan spesifikasi, kekuatan visual, dan manfaat dari instruksi yang berfungsi sebagai mediator. Makalah ini berusaha untuk membuat nilai umum dari teknologi pendidikan secara lebih eksplisit.

Continue reading

Meningkatkan Kinerja (Landasan Teknologi Pendidikan)


Capture4

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar belakang

Kinerja yang baik adalah kinerja yang mengikuti tata cara atau prosedur sesuai standar yang telah ditetapkan. Akan tetapi didalam kinerja tersebut harus memiliki beberapa kriteria agar meningkatkan produktifitas sehingga apa yang diharapkan bisa berjalan sesuai apa yang di inginkan.

Untuk meningkatkan kinerja yang baik harus introspeksi diri demi tercapainya kinerja yang lebih baik kedepannya, bekerja sesuai posisi, porsi, dan jobnya masing-masing.
Namun demikian hal tersebut tidaklah semudah membalikan telapak tangan tetapi mesti ada peran langsung ke ikut sertaan manajemen untuk bisa mengontrol dan memberikan teknik cara agar bagaimana bisa terjaminnya mutu dan kualitas sehingga karyawan bisa dengan mudah bekerja tanpa ada rasa terbebenani dan hubungan antara pihak manajemen dengan bawahan semakin kuat.

Tanpa disadari mungkin di setiap kantor/tempat kerja ada pihak yang mau menang dan benar sendiri, akan tetapi pihak manajemen juga tidak bisa menyalahi bawahannya. Untuk itulah pihak manajemen terkait mesti turun langsung kelapangan agar bisa melihat bagaimana menciptakan teknik yang baik serta meningkatkan loyalitas karyawan terhadap kantor dan pekerjaannya.

Continue reading

Pendidikan Menurut Idealisme


Capture3PENDIDIKAN

Budaya moral harus didasarkan atas “maxims,” bukan atas disiplin; salah satunya mencegah kebiasaan jahat, sedangkan yang lainnya melatih fikiran untuk berfikir. Kita harus melihat, maka, anak harus membiasakan dirinya bertindak selaras dengan “maxims,” dan tidak pernah merubah tindakan tersebut. Melalui disiplin kita membentuk kebiasaan tertentu, lebih lanjut, paksaan yang berkurang dalam waktu beberapa tahun. Anak harus belajar bertindak sesuai dengan “maxims,” suatu kewajaran dimana ia mungkin melihat bagi dirinya. Seseorang dapat dengan mudah melihat bahwa terdapat beberapa kesulitan dalam menerapkan prinsip ini dengan anak kecil, dan bahwa budaya moral membutuhkan wawasan yang mendalam dari orang tua dan guru.

Continue reading

Tugas Ujian Semester Filsafat Ilmu


Capture2

Pertanyaan 1

Filsafat secara umum

Secara umum Harold H. Titus dalam buku Ilmu, Filsafat dan Agama mengemukakan bahwa filsafat adalah satu sikap tentang hidup dan tentang alam semesta, filsafat ialah satu metode pemikiran reflektif dan penyelidikan akliah, dan filsafat adalah suatu sistem pemikiran. Alfarabi seorang filosof muslim terbesar dalam buku yang sama menyatakan bahwa filsafat ialah ilmu pengetahuan tentang alam yang maujud dan bertujuan menyelidiki hakekatnya yang sebenarnya. Herderson dalam buku pengantar filsafat pendidikan mengatakan bahwa filsafat mencoba mengajarkan suatu konsep tentang alam semesta secara sistematis dan inklusif dimana manusia bearada di dalamnya. Oleh karena itu, filosof lebih sering menggunakan intelegensi yang tinggi dibandingkan dengan ahli sains dalam memecahkan masalah-masalah hidupnya. Dalam buku yang sama Sidi Gazalba menjelaskan bahwa berfilsafat merupakan berfikir yang memiliki tiga ciri yaitu radikal, sistematis dan universal. Berfikir radikal, berfikir sampai ke akar-akarnya, tidak tanggung-tanggung, sampai pada konsekuensi yang terakhir. Berfikir itu tidak separuh-separuh, tidak berhenti di jalan, tetapi terus sampai ke ujungya. Berfikir sistematis adalah berfikir logis, bergerak selangkah demi selangkah dengan penuh kesadaran dengan urutan yang bertanggung jawab dan saling hubungan yang teratur. Berfikir universal tidak berfikir khusus, yang hanya terbatas pada bagian-bagian tertentu, melainkan mencakup keseluruhan. Dalam Alquran dan budaya Arab terdapat istilah hikmat yang berarti arif atau bijak. Filsafat itu sendiri bukan himat, melainkan cinta yang sangat mendalam terhadap hikmat. Dengan pengertian tersebut, maka filosof ialah orang yang mencintai dan mencari hikmat dan berusaha mendapatkannya. Menurut Al-Syaibani dalam buku Pengantar Filsafat Pendidikan, hikmat mengandung kematangan pandangan dan pikiran yang jauh, pemahaman dan pengamatan yang tidak dapat dicapai oleh pengetahuan saja. Dengan hikmat filosof dapat mengatahui pelaksanaan pengetahuan dan dapat melaksanakannya. Al-Syaibani menjelaskan bahwa hikmat yang dicintai oleh filosof dan selalu berusaha mencapainya mengandung lima unsur yaitu universal, pandangan yang luas, cerdik, pandangan perenungan (meditatif, spekulatif) dan mengetahui pelaksanaan pengetahuan tersebut atau pengetahuan yang disertai dengan tindakan yang baik. Jadi, filosof atau orang arif memiliki pandangan yang serba mungkin. Ia tidak akan puas dengan satu aspek atau satu pengalaman saja. Filosof akan memperhatikan semua aspek pengalaman manusia. Ia memiliki keistimewaan, pandangannya luas sehingga memungkinkan ia melihat sesuatu secara menyeluruh, memperhitungkan tujuan yang seharusnya. Ia akan melampaui batas-batas yang sempit dari perhatian yang khusus dan kepentingan individual.

Continue reading

Filsafat Perenialisme


Capture

BAB I

PENDAHULUAN

1.1      Latar belakang

Filsafat/filosofi berasal dari kata Yunani yaitu philos (suka) dan sophia (kebijaksanaan), yang diturunkan dari kata kerja filosoftein, yang berarti : mencintai kebijaksanaan. seorang philosoph adalah seorang pencinta kebijaksanaan. Sebagian lain mengatakan bahwa filsafat adalah cinta akan kebenaran. Filsafat sering pula diartikan sebagai pandangan hidup. Dalam dunia pendidikan, filsafat mempunyai peranan yang sangat besar. Karena, filsafat yang merupakan pandangan hidup ikut menentukan arah dan tujuan proses pendidikan.

Oleh karena itu, filsafat dan pendidikan mempunyai hubungan yang sangat erat. Sebab, pendidikan sendiri pada hakikatnya merupakan proses pewarisan nilai-nilai filsafat, yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan hidup dan kehidupan yang lebih baik atau sempurna dari keadaan sebelumnya.

Dalam pendidikan diperlukan bidang filsafat pendidikan. Filsafat pendidikan sendiri adalah ilmu yang mempelajari dan berusaha mengadakan penyelesaian terhadap masalah-masalah pendidikan yang bersifat filosofis. Jadi jika ada masalah atas pertanyaan-pertanyaan soal pendidikan yang bersifat filosofis, wewenang filsafat pendidikanlah untuk menjawab dan menyelesaikannya.

Secara filosofis, pendidikan adalah hasil dari peradaban suatu bangsa yang terus menerus dikembangkan berdasarkan cita-cita dan tujuan filsafat serta pandangan hidupnya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang melembaga di dalam masyarakatnya. Dengan demikian, muncullah filsafat pendidikan yang menjadi dasar bagaimana suatu bangsa itu berpikir, berperasaan, dan berkelakuan yang menentukan bentuk sikap hidupnya. Adapun proses pendidikan dilakukan secara terus menerus dilakukan dari generasi ke generasi secara sadar dan penuh keinsafan.

Ajaran filsafat adalah hasil pemikiran sesorang atau beberapa ahli filsafat tentang sesuatu secara fundamental. Dalam memecahkan suatu masalah terdapat perbedaan di dalam penggunaan cara pendekatan, hal ini melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang berbeda pula, walaupun masalah yang dihadapi sama. Perbedaan ini dapat disebabkan pula oleh factor-faktor lain seperti latar belakangnpribadi para ahli tersebut, pengaruh zaman, kondisi dan alam pikiran manusia di suatu tempat.

Ajaran filsafat yang berbada-beda tersebut, oleh para peneliti disusun dalam suatu sistematika dengan kategori tertentu, sehingga menghasilkan klasifikasi. Dari sinilah kemudian lahir apa yang disebut aliran (sistem) suatu filsafat. Tetapi karena cara dan dasar yang dijadikan criteria dalam menetapkan klasifikasi tersebut berbeda-beda, maka klasifikasi tersebut berbeda-beda pula. Salah satu aliran dalam filsafat adalah perenialisme. Apa itu aliran perenialisme, apa saja yang menjadi pokok bahasan dari aliran ini merupakan kajian yang akan dibahas dalam makalah ini.

Continue reading